TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Pukul sepuas hatimu


__ADS_3

Setelah meeting, Erik membaca beberapa file yang terletak di mejanya. Diantara file itu memerlukan pembubuhan tanda tangannya. Erik yang terlalu fokus tidak menyadari Miranda selalu memperhatikannya. Ya, baginya Miranda tidak lebih dari seorang sekretarisnya dia juga tidak berfikir yang macam-macam tentang Miranda.


Erik berdiri dan menaruh jasnya di kursi, dia hendak mengambil sesuatu di lemari.


Miranda tiba-tiba mendekati Erik,


" Maaf Tuan, ini berkas yang tuan minta tadi" Ucapnya sambil menaruh map merah di atas meja.


"Baiklah terimakasih Miranda" Ucap Erik sambil tersenyum sekilas


"Sama-sama Tuan Muda" Miranda membalas senyuman Erik.


"Tok tok tok" Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk


"Siapa ya, apa itu El?" Otak Miranda berfikir cepat.


"Silahkan Masuk" Ucap Miranda. Dia pun tiba-tiba berjalan dan pura-pura terjatuh ke arah Erik.


"Aw" Erik dengan spontan menyambut tubuh Miranda.


Saat itu juga El menatap mereka dengan tatapan nanar. Air mata sudah menggenang dimatanya. Seketika dia berlari dari ruangan itu


"El" Erik kaget, peristiwa itu terjadi begitu cepat. Dia pun mengejar El dan melepaskan tubuh Miranda


"Brak"


"Aw sakit" Miranda meringis, tapi Erik telah berlalu meninggalkannya. Miranda kesal dan menghentakkan kakinya


"Dasar sial" Gerutunya di dalam ruangan itu.


Erik terus menyusuri El yang berlari cepat, mereka seperti main kejar-kejaran di area kantor. Banyak mata yang memperhatikan tapi mereka hanya bisa diam tanpa berani berkomentar.


"El, tunggu Sayang" Teriak Erik tapi El tetap berlari dan mengambil kunci mobil dari tangan Lela.


"Nona nona" Tanpa dia sadari El telah mengemudikan mobil, Lela mencoba mengejar mobil El namun mobil itu terlalu cepat meninggalkannya. Dia tersengal sambil memegangi lututnya. Tak lama Erik pun keluar dan langsung mengemudikan mobilnya


"Tuan, tuan Muda" Lela mencoba mengetuk kaca tapi mobil itu pun berlari meninggalkannya.


"Matilah gue, Nona El mengemudikan mobil sendiri dengan kencang. Kalau Nona El kenapa-napa Tuan Erik bisa marah besar" Sesal Lela sambil memukul-mukul kepalanya karena panik.

__ADS_1


Erik terus mengikuti mobil El


"El jangan kencang-kencang Sayang" Erik sangat khawatir dengan El. Dia pun menepi, karena khawatir El semakin ngebut kalau di kejar.


"Okay, Erik tenangkan diri Lo" Ucapnya sambil menghela nafas dalam dan melirik jam ditangannya.


Selang beberapa lama Erik mengambil ponselnya. Meski dia tengah panik namun Erik berusaha untuk bicara dengan tenang agar tidak mengagetkan Buk Zahra mamanya El.


"Halo Ma, apa El sudah sampai di rumah? "


"Oh, belum ya Ma, Soalnya tadi El berencana ke rumah Mama mungkin dia membeli sesuatu dulu di jalan" Erik mengakhiri percakapan dengan Buk Zahra. Dia masih panik tak tahu kemana istrinya itu pergi.


"El kamu kemana Sayang? Sayang Maafin aku, Kamu pasti salah paham tentang aku dan Miranda" Erik jadi galau sendiri memikirkan El.


Tiba-tiba dia teringat dengan apertemen El. Dia pun segera mengemudikan mobilnya menuju apartemen El. Erik kelihatan gusar, baru pertama kali mereka bertengkar seperti ini sampai-sampai El menangis. Erik kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


Dari bawah kelihatan apartemen El yang memang telah hidup lampunya. Ini menguatkan dugaan Erik El ada disana.


Dia segera melangkah menuju apartemen El di lantai atas.


"Tok tok tok El buka pintunya Sayang" Teriak El diluar


"Sayang" Erik mencoba membuka pintu namun dikunci dari dalam.


Erik memanggil ahli kunci rumahnya untuk segera membuka kunci apartemen El.


Tak lama pintu terbuka, Erik membuka pintu dengan perlahan.


Alangkah terkejutnya Erik melihat lautan tisu yang berserakan dimana-dimana. Di sudut kamar ada wanita yang terisak. Sambil memegangi beberapa lembar tosu di tangannya. Matanya mulai sembab


"Hiks hiks" hanya itu yang terdengar


"Sayang" Erik mencoba melangkah perlahan


"Berhenti di sana, jangan deketin gue!" El berusaha melempar Erik dengan bantal yang ada di dekatnya.


Erik berhenti dan mematung menatap El.


"Sayang maafin aku kalau membuat kamu salah paham ya!" Erik bicara lembut.

__ADS_1


"Nggak aku nggak mau maafin tukang selingkuh kayak kamu" El berteriak air mata masih mengalir di pipinya


"El kenapa kamu jadi seperti ini? Kamu tahu tadi Miranda hanya terjatuh dekat aku. Dan aku cuma refleks aja megangin dia El" Erik mencoba menjelaskan


"Aku nggak mau dengar omong kosong kamu! Pergi sana!" El mengambil bantal lagi dan melemparnya ke Erik.


"Ayolah El, jangan kekanakkan gini Sayang. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Miranda".


" Oh ya, kami yakin nggak ada hubungan apa-apa?"


"Iya aku yakin" Jawabnya tegas


"Ok lantas ini apa?" El mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu melempar tepat ke dada Erik.


"Tak" Lipstik Miranda tepat mengenai dada Erik dan jatuh kelantai. Erik merasakan sedikit sakit di dadanya tapi tidak dia hiraukan lagi. Perhatiannya kini beralih kepada lipstik bewarna pink yang bergolong dilantai. Erik berjongkok dan memungut Lipstik itu, dia mencoba mengingat dimana-dimana kira-kira dia pernah melihat benda itu.


"Kenapa diam? Udah ketangkap basah sekarang? Kamu ngapain aja dengan dia? Kenapa lipstiknya sampai ada di saku jas kamu" El berkacak pinggang. Sekarang dia seperti ibu-ibu yang tengah memarahi anaknya yang pulang basah kuyup karena main hujan-hujanan.


Erik menelan ludah, mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa dia sedang dijebak Miranda" Pikir Erik.


"El, kemarilah Sayang ini tidak seperti yang kamu pikirkan" Erik membentangkan tangannya.


"Kasihan El, dia sudah termakan jebakan Miranda. Pastinya hatinya sekarang hancur"


"Nggak aku nggak mau memeluk tukang selingkuh" El menjauh beberapa langkah, sementara Erik masih mendekat dan seperti ingin menangkapnya.


"Jangan mendekat!" El berusaha meraih benda yang ada di dekatnya.


"Gue bilang jangan dekat!" El vas bunga yang ada di depannya. Dia kelihatan frustasi rambutnya terburai berantakan, matanya sembab seperti habis menangis dalam waktu yang lama.


Erik tetap mendekat El mundur lagi sampai tubuhnya terbentur tembok.


"Prank" El melempar Vas bunga itu ke kaki Erik sampai hancur berantakan. Namun Erik tetap mendekat perlahan meraih tubuh istrinya yang meronta.


"Lepaskan" El memukul- mukul dada Erik melampiaskan kekecewaannya disana. Namun Erik tetap memeluknya Erat, dia tidak peduli tangan El yang menghantam dadanya.


"Pukullah sepuasmu Sayang, rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Maafkan aku, aku tidak jeli membaca hati orang lain. Sampai kamu terluka seperti ini!". Air mata Erik pun mengalir, ikut merasakan kepedihan hati El mereka menangis bersama dalam pelukan cinta kasih Erik yang tak terbagi untuk siapapun juga. Tak terkecuali Miranda.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2