
El telah terbangun namun dia masih betah berlama-lama di tempat tidur. Dia memandangi wajah suaminya yang masih terlelap itu. Betapa sempurnanya pemilik wajah itu. Bibirnya yang merah dengan hidung yang mancung raut wajahnya pun begitu teduh. Membuat El mabuk kepayang. Setelah sekian lama pernikahan mereka, barulah kali ini El tergila-gila dengan suaminya sendiri. Namun Dia tidak mau kecewa lagi. Dia akan menunggu sampai Erik yang menyatakan cinta padanya.
Perlahan El membelai rambut Erik menciumi kening suaminya yang masih terlelap.
"Cup" Bibir mungil El telah menempel di kening Erik. Membuat Erik terbangun namun dia berusaha tidak membuka matanya agar El tidak malu.
"El kamu mulai berani mencuri kesempatan ya" Bisil hati Erik bahagia.
El segera turun ranjang dan bergegas pergi kedapur tidak seperti biasanya.
Di dapur para pelayan sudah sibuk menyiapkan sarapan. Meski jam masih menunjukkan jam 5 pagi. Namun para pelayan telah melaksanakan kewajibannya.
"Nona Muda" Bik Jumi menunduk memberi hormat.
"Iya Bik" El tersenyum.
"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu. Atau Nona butuh sesuatu biar saya antarkan ke kamar"
"Tidak Bik, saya hanya mau memasak Bik. Eh maksudnya belajar masak Bik" Ucap El sambil nyengir.
"Maaf Nona, apakah Nona sudah izin Tuan Muda?. Kami takut Tuan akan marah jika membiarkan Nona memasak di dapur pagi-pagi begini" Bik Jumi mulai khawatir. Karena selama ini yang para pelayan tahu Nona tidak pernah memasak dan bekerja apapun selain menemani Tuan Muda dan bermain gendong-gendongan dengan tuan mudanya.
"Bibik nggak usah khawatir ya, pokoknya aman" El mengedipkan matanya. Dia kelihatan begitu imut dan cantik meski baru bangun tidur.
Karena Nonanya yang memaksa Bik Jumi hanya bisa pasrah.
"Baiklah Bik, sekarang kita masak apa? Apa kita masak sup ayam buat Tuan?". Matanya berbinar menatap bahan makanan yang tertata di meja.
" Iya Nona "
"Kalau begitu biar saya bantu ya Bik. Sekalian saya akan belajar masak" El semangat.
Bibil tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Nonanya.
Sementara di kamar Erik sambil senyum-senyum turun ranjang. Dia masih mengingat El mengecup keningnya. Hal yang sungguh manis di pagi hari begini.
Erik mancari-cari kemana El, setelah bertanya pada pelayan yang sedang bersih-bersih Erik menyusul El yang ada di dapur. Rupanya Istrinya sedang Berurai air mata mengupas bawang.
"Sayang, kok kamu nangis? Bawangnya jahatin kamu ya?" Erik menatap El dengan senyum meledek.
"Ih apaan sih Sayang?" Ucap El malu-malu.
"Kamu ngapain pagi-pagi ke dapur biar Bik Jumi aja yang masak" Ucap Erik.
"Sayang, aku kan mau belajar masak. Masak sup buat kamu" Ucap El cengengesan.
"Oh ya, Hmm gimana rasanya ya. Teh aja asin kalau kamu yang bikin. Kamu ingat dulu aku hampir mati minum teh asin kamu" Erik mengingat pertama kali dijahili El.
__ADS_1
"Huahahah" El tertawa
"Kamu masih ingat ya"
"Siapa yang bakalan lupa, minum teh asin sekali seumur hidup. Tentu akan menjadi kenangan dalan hidupku" Ucap Erik terkekeh.
"Hehehe emang enak dikerjain" Ucap El senang.
El teringat kenangan ketika dahulu sering menjahili Erik. Sampai dia tidak sengaja mengiris tangannya dengan pisau.
"Aw" El melihat tangannya telah mengeluarkan darah. Erik dengan sigap langsung menghisap darah di jari El. Dia membelai lembut dengan bibirnya membuat El geli sendiri.
Setelah membuang darahnya, El membalut tangan El. Sementara Bik Jumi merasa sangat khawatir.
"Maafkan saya Tuan dan Nona" Ucap Bik Jumi.
"Tidak apa Bik, lagian Bibik nggak salah apa-apa kok" Ucap El tersenyum
"Terimakasih Nona" Bik Jumi melanjutkan memasak lagi. Nona El memang terkenal ramah pada pelayan. Begitupun dengan anggota keluarga Chen yang lain. Sehingga membuat para pelayan sangat menyayangi keluarga Chen.
"Sayang, lain kali hati-hati ya?"
"Iya sayang" Erik mengusap rambut El. El berdiri ingin melanjutkan agenda memasaknya.
"Sudahlah sayang temani aku dikamar aja"
"Nggak mau" El memanyunkan bibirnya.
"Sayang turunin, nggak mau" El berontak tapi Erik tetap saja menggendongnya menaiki anak tangga. Bik Jumi hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Tuan Mudanya. Begitupun dengan pelayan yang lain. Mereka memang selalu disuguhkan adegan-adegan romantis antara Nona dan Tuan Muda.
Erik membuka pintu kamar dan menguncinya. El diletakkan diatas kasur.
"Rik, aku mau belajar masak" Gerutu El.
"Tangan kamu lagi sakit El, besok-besok ajalah belajar masaknya El" Ucap Erik lembut.
"Coba lihat jari kamu El. Apa tidak sebaiknya kita kedokter El?". Erik memberi saran
" Rik, cuma teriris dikit aja kok Rik. Nggak apa-apa kok" El berpikir Erik terlalu berlebihan
"Iya takutnya tangan kamu kenapa-kenapa" Lagian bentar lagi kamu akan menghadari acara Awards kan?".Ucapnya khawatir
"Nggak apa kok Rik" Ucap El sambil tersenyum.
"Ya sudah aku mandi dulu ya. Ada hal yang harus aku kerjakan"
Erik siap-siap untuk mandi.
__ADS_1
"Tunggu ya biar aku siapkan air"
El segera berlari ke kamar mandi.
"El ternyata perempuan yang sangat perhatian. Semoga dia benar-benar mencintai aku" Lirih hatinya.
Erik melepas bajunya. Memakai handuk dan bertelanjang dada.
Sementara El masih mengecek suhu air dengan tangannya.
Erik masuk ke kamar mandi membuat El menelan ludah melihat postur tubuh suaminya.
Erik kemudian melepas handuknya di depan El. Membuat El terkejut bukan kepalang.
"Agghh" Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Sementara Erik terkekeh melihat tingkah El.
El segera berlari keluar kamar. Dia merasa panas menahan hasrat kepada Erik. Dia pun heran Kepada Dia jadi seperti itu.Erik melanjutkan mandinya. Mungkin nanti dia akan mengajak El mandi bersama tapi itu nanti setelah dia menyatakan perasaannya. Erik juga akan meniduri istrinya setelah dia yakin El benar-benar mencintainya dan dengan ikhlas melayaninya.
Sementara El dengan sigap menyiapkan baju yang akan di pakai oleh Erik.
Dia telah meletakkan di atas kasur.
Kran air sidah terdengar mati dari kamar mandi. Erik keluar dengan bertelanjang dada sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia kelihatan begitu mempesona.
"Rik, Ini bajunya" El menunjuk baju yang telah dipilihkannya.
Erik tersenyum
"Makasih"
"Aku mandi dulu ya"
El hendak berlari ke kamar mandi, Erik memegang tangannya dan berbisik.
"Cepat ya, hari ini kita akan pergi"
"Kemana?"
"Udah ikut aja" Erik mengedipkan matanya
"Ok baik" El tersenyum dan berlari ke kamar mandi
Sementara Erik senyum-senyum sendiri melihat kelakuan El.
Pagi-pagi dia sudah ingin belajar masak. Sekarang dia mengambilkan air dan memilihkan baju.
__ADS_1
"Kenapa dia begitu menggemaskan" Bisik hati Erik
Bersambung❤❤❤