TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Draft 2


__ADS_3

Toby hanya mengangkat alisnya dwngan manik yang masih penuh konsentrasi pada makanannya.


" ini hanya masalah saja, mereka akan menyampaikannya langsung nanti"


Toby menghela nafas perlahan dan mematikan ponselnya.


"Aku ajari satu hal sayang... Ketika kamu tidak merasa melakukan apapun dan tiba - tiba banyak yang mencarimu, itu hanya masalah. Berapa kalipun kamu membacanya masalah itu tidak akan pergi" Toby kembali mengisi gelas crystalnya, ini sudah yang ke lima.


"Aku hanya butuh relax"


Toby mengarahkan gelas crystalnya ke arah benda pipihku berada.


Sinarnya nampak berkedip tiada henti.


"Sepertinya kita sedang di kolam yang sama?"


Aku memperhatikan layar handphoneku yang sudah aku slient sejak pagi tadi.


"Jangan di buka.. Habiskan dulu makananmu dan minumlah yang banyak, stress itu butuh banyak energy"


"Meski... Hanya Jorge?"


Toby merebut ponselku dan mematikannya.


******


Kami memutuskan mengawali dengan chat dari Jorge terlebih dahulu. Lebih dari rasa penasaran.


"Aku cemburu tentang apa yang kalian bahas"


"Kami tidak pernah lebih membahas lebih dari pekerjaan"


"Sungguh...?"


"Aku tidak pernah genit" Pekikku yang sebal dengan sisa prasangka Toby antara aku dan Jorge.


"Visaku di hentikan, dan studioku terancam di paksa tutup, lakukan sesuatu sebelum aku di blacklist"


Baris selanjutnya,

__ADS_1


"Apakah kamu baik - baik saja"


Aku dan Toby saling memandang,


Kami baru ingat bahwa Jorge berstatus warga negara asing.


"Apakah memungkinkan kamu menjenguk ibumu?" itu pesan dari Papa.


Dan sederet percakapan yang lain.


Om Yoga, Nora, Tia dan banyak lagi.


Kami memutuskan beranjak ke ponsel Toby.


Kurang lebih serupa meski kebih banyak dan panjang. Hanya saja ada yang aneh.


Tidak ada satupun pesan dari Albert.


"Berarti semua maaih harus sesuai jadwal" Gumam Toby.


Dan artinya, Toby harus segera berangkat untuk promo album selanjutnya di jepang, tanpa aku.


*****


Pank..!!!!


Sebuah vas bunga menghantam lurus ke arah sisi dinding kiri ruang kantornya.


Tangannya mengenggam erat dan menekan satu sisi ujung meja.


" ****.. Jadi kehamilan itu nyata" umpatnya.


Gigi Rizal mengerat sesaat. Namun berangsur tenang sebelum dia segera mulai men dial sebuah nomor.


"Bukankah kamu butuh dana segar? Bisakah kamu menyingkirkan kehamilan itu?"


"Tapi kehamilan itubakan mwnyelamatkan karir Toby yang sangat berpengaruh pada pendapatan perusahaan" jawab sosok yang di seberang.


"Tapi Toby juga akan menua, dan dia tidak akan di gemari lagi dengan berjalannya waktu. Ssdangkan dengan uangku kamu bisa menciptakan banyak artis lain yang lebih segalanya dari Toby." Lanjut Rizal "Seharusnya kamu tidak perlu di ajari temtang hal seperti itu"

__ADS_1


******* kesal dan penuh tekanan terdengar dari dari seberang sana sebelum ahirnya percakapan itu di ahiri.


******


Kehamilanku yang sudah menjadi konsumsi umum. Memberikan hal positif dari bidang pekerjaan.


Semua tawaran sebelumnya yang di ajukan Tia, bisa aku tolak semua. Bukan tidak menghargai, tapi tawaran kerja yang di ajukan selalu berhubungan dengan mengorek kehidupan pribadi Toby.


Aku juga punya gengsi, setidaknya aku ingin meneruskan untuk mengukir namaku tanpa campur tangan siapapun seperti sebelumnya.


Meski itu masih belum berlaku, karena bayi di dalam perutku ini juga milik Toby.


" Baju hamil, susu ibu hamil, senam hamil, perawatan ibu hamil dan..."


"Hanya photo session yang diterima" Toby memecah pertemuan ku dengan Tia.


"Dan untuk pekerjaan yang kamu ajukan sebelumnya lebih baik kita tunda, aku tidak ingin ibu dari anakku terlalu lelah" Toby mengacak ujung kepalaku dan melempar semyum manis.


"Tapi..." Suara Tia lirih namun kemudian dia batal mengungkapkan pendapatnya.


"Berbeda dengan Celebrity yang lain, bagaimanapun Sandra adalah bagianku. Dia hadir di dunia show biz dengan cukup phenomenal. Satu saja yang salah juga pasti akan phenomenal, karena itu juga akan menimpaku"


Tia mengangguk ragu.


"Banyaklah berdiskusi dengan Albert ketika kalian bertemu, masukannya pasti akan memberimu sedikit arah"


Tia masih belum menjawab.


"Aku tahu Sandra menaikkan gajimu dari uang pribadinya, jadi seharusnya kamu mengerti dan tidak usah memusingkan banyaknya pekerjaan yang di tolak"


Toby mengecupku sejenak sebelum dia meninggalkan kami yang termenung menatap punggungnya menjauh.


"Apakah dia selalu begitu..." tanya Tia lirih.


"yang jelas Bukan pekerjaan mudah untuk Albert.."


Albert? Kemana dia bukankah biasanya dia yang menjemput?


******

__ADS_1


__ADS_2