
" Terkadang hidup ini harus memilih dengan tepat untuk kebahagiaan yang lebih panjang "Papa kembali menatap lurus ke arah meja receptionist di hadapan kami" Aku tidak punya banyak waktu mempersiapkan semuanya untuk Toby, aku hanya ingin yang terbaik "
Aku kali ini hanya menunduk, Papa tidak salah. Setiap orang tua pasti melakukan hal yang sama, termasuk aku, yang mempertahankan Toby juga karena anakku.
" Kamu mengerti perasaanku bukan? "
Aku hanya mampu diam dan menunduk memandangi bayiku yang masih bersemayam hangat di dalam perutku.
Jadi Ibu harus bagaimana sayang?
*****
Toby hanya menginap selama semalam di rumah sakit, dan berlanjut dengan perawatan di rumah. Bukan tidak ada sebab, itu semua karena Toby harus menyelesaikan beberapa arransement beberapa lagunya untuk persiapam konser.
"Apakah mereka tidak puas dengan yang sudah ada?" Aku mengeluh kepadanya diantara dentingan piano Toby yang menggema.
"Semua seniman harus terus berinovasi dan tampil berbeda" Jawab Toby yang menyambut segelas juice yang aku berikan. "Kalau sama... Kenapa mereka harus terua membeli Tiket untuk konser lagi? Mereka cukup melihat siaran ulang penampilanku"
Aku tak dapat membantah "Apa kamu tidak ingin memberikan pekerjaan ini pada orang lain?" Aku coba menawar, aku hanya kasihan melihatnya yang belum sembuh benar tapi sudah bekerja.
__ADS_1
Meski dia kerja di rumah, tapi jam kerja Toby lebih dari 8 jam. Selain soal music, dia juga yang memutiskan layout panggung, koreography bahkan untuk memilih kostum.
"Kamu yakin memakai ini?" Protesku di lain hari, ketika melihat salah satu kostum yang aku rasa terlalu berat.
"Benar..!!" Jawab Toby otomatis "bagus bukan?"
Aku mengangguk dan mengangkatnya "Ini berat Tob.." Protesku ketika mulai mengangkat jaket berbahan jeans washed Blue, dengan hiasan beberapa ornamen metal di sana sini. Belum lagi jeket ini nantinya akan di padu dengan accessories yang tidak ringan.
"Ini untuk lagu yang mana?" Aku hany memastikan apakah dia banyak bergerak atau tidak.
"Lagu Fight.. Lagu lama yang jadi signatureku"
"konsepnya akan berbeda.." Toby menarik nafas panjang "Apakah kamu menghawatirkan aku?" sepasang mata kami.
"Tentu saja..." Jawabku pasti "Bagaimanapun melihat orang menderita bukanlah hiburan"
Terutama untukku yang memiliki Ayah yang penyakitan dari akibat menjadi alkohol.
Hampir tidak ada penyakit ayahku yang ringan. Bermula dari Gangguan otak dan saraf,
__ADS_1
Penyakit liver, Penyakit jantung dan pembuluh darah, Masalah pencernaan, Masalah penglihatan, Komplikasi diabetes serta
Kerusakan tulang.
Melihat ayahku hidup sampai saat ini adalah keajaiban teknologi di samping kekuasaan tuhan. Jantungnya kinipun berdetak karena bantuan alat pacu jantung.
"Aku harap kamu bisa menjaga tubuhmu dan lebih sehat" gumamku yang pamit malam itu dari ruang kostum panggung Toby.
Sebenarnya ayahku dan Toby memilki kesamaan. Keduanya sama - sama pekerja keras tanpa kenal waktu dan dirinya sendiri. Meski hidup menghasilkan banyak uang, tentu tidak artinya bila semua uang itu akan terbuang pada biaya pengobatan.
****
"Paling tidak Ayah ini sangat berguna karena ayah seorang dokter yang hebat. Banyak nyawa yang bisa ayah selamatkan" Suatu ketika ketika ayahku membela diri, dalam perdebatan kami soal profesi yang aku inginkan.
"Benar ayah.... Tapi bukan hanya kamu yang menyelamatkan orang pada ahirnya, tapi kami juga" Aku membalasnya dengan suara yang oerlahan pelan.
"Karena dari semua perjuanganmu, yang tersisa untuk kami darimu hanyalah beban. Bahkan tidak juga uang pensiunmu, karena semua uang itu selalu habis untuk mempertahankan nyawamu hingga saat ini" lanjutku dengan memandang ibu yang sibuk menjahit di ruang depanb.
"Lihatlah istrimu yang tua itu, dia kini harus terus bekerja demi keluarga kita. Terimalah kenyataan bahwa profesi dokter terlalu mahal untukku" Aku masih menggumam seraya mulai menuangkan teh yang mulai menghangat.
__ADS_1
******