
" Karena alasan itu, aku akan menjadi kakek bungkuk" Toby menerawang sejenak "jadi tidak akan ada yang mengenaliku, karena tinggi badanku sulit untuk diperkirakan"
"Ah benar juga"
" Aku juga berharap kamu bisa beracting dengan bagus, anggap saja kamu sedang berlatih menjafi istriku dikala usia kita senja"
"itu sedikit kurang masuk akal"
Toby mengerutkan dahinya,
"Apakah kamu lupa, kalau aku lebih tua darimu?"
*****
"Kamu yakin ini berhasil?" Toby mulai meragukan pilihanku untuk menemui Mama.
"Tidak seratus persen, hanya saja kenyataan Mama mengetuk pintu rumahmu dengan sangat intens, meski ada bell listrik, sepertinya mama cukup detail soal obrolannya dengan Rizal"
"kamu berfikir begitu?"
"Andai tidak tahu akan motif sesungguhnya, tapi kita mubgkin bisa mengontrol langkah Rizal berikutnya, entah mengapa sepertinya ada hal penting yang terlewat"
"Dan dengan keraguan sebesar itu kamu mempertaruhkan reputasiku?"
"Ckckck.... Inikah anak kesayangan Mama?" aku mencebik sejenak "berkorban segini saja sudah enggan"
"Cobalah kamu jadi celebrity, kamu baru paham apa arti publicity buruk tentangmu"
Sejenak aku langsung flashback tentang kehidipan kacauku saat awal menikah dengan Toby.
"Hush..." Aku mengusir kegelisahanku sebdiri..."Penyelesaian masalah harus lebih prioritas saat ini" Kilahku. Yang segera keluar dari mobil dan segera menyambut Toby yang diduk di kursi belakang.
Yup... Aku yang menyetir.
__ADS_1
Seperti rencana, toby mulai mengeluarkan tongkatnya dan berjalan bungkuk. Sesekali Toby terbatuk sepanjang perjalanan ke ruang jenguk tahanan.
Benar kata Toby, bahwa lensa camera beberapa kali menyapa kami.
"Kenapa mereka sangat tertarik dengan hidupmu?" keluhku begitu kami sampai di ruang tunggu.
"Sederhana saja, karena apapun aku menghasilkan uang yang besar atau setidaknya cukup membei makan keluarga mereka" Toby menarik nafas dan kemudian terbatuk.
Aku yang menganggap serius segera mengeluarkan sapu tanganku dan menutuo batuknya.
Batuk Toby subgguh terdengar seperti sakit sungguhan. Akupun terhipnotis hingga mulai mengelus punggungnya setelah batuknya usai.
*****
"Kenapa kamu menjengukku" Suara Mama trasa sangat dingin padaku.
"Ehemm...!!" Toby berdehem di antara kami.
"Kamu mwngajak ayahmu?"
"Ayahku tidak bungkuk" Jawabku yang sulit meredam nada ketus.
"Ini aku Ma..."
"Toby..??" Mama terperanjat seketika "Kenapa kamu kesini? Ini tidak boleh"
Sorot mata Mama seketika tajam ke arahku.
"Apakah perempuan ini yang menyarankan?" Nada Mama tedengar menahan Mama.
Uuh... Kalau tahu begini akubdatang sendiri.. Aku berharap Mama akan cukup haru dan senang anak kesayangan dan satu satunya berusaha menemuinya.
"Ma... Bukan itu intinya"
__ADS_1
"Tapi dia yang menyebabkan semua ini"
Aku hanya sanggup menutup mata beeharap menghilang dari hadapan wanita parubaya yang masih anggun itu meski dalam balutan seragam nara pidana.
"Aku perlu tahu bagaimana awalnya? Apakah Mama bertemu Rizal?"
"Haha.." Mama tertawa lirih "Aku tidak menyangka pilihan konyolmu ini berurusan dengan lelaki sekelas Rizal"
"Aku juga tidak" celetukku segera, yang sudah sangat muak dengan nama lelaki kurang ajar itu.
Tapi tentu saja Mama tak menggubrisku, dia hanya segera meraih tangan Toby.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya penuh khawatir.
"hmm... Tidak buruk, tapi tidak cukup baik" Toby menjawab dengan nada yg cukup p3lan "Aku akan ke Jepang untuk promo Albumku di sana" Lanjutnya.
Sejenak Toby melempar pandang padaku dan kembali menanyakan tujuan utama kedatangan kami hari ini.
"Jadi Bagaimana Awalnya? Aku ingin dengar dati versi Mama bukan yang lain dan dari siapapun"
Mama kini menatap padaku.
"Sandra sudah pasti berpihak pada kita, bagaimanapun dia mau keluarga yang utuh untuk bayi kami"
Kali ini Mama mengarahkan pada perutku yang sudah tidak begitu rata.
"Apa kamu yakin dia hamil? Dan pasti bayi itu anakmu?"
"Tentu saja... Dengan memejamkan mata saja aku sudah amat sangat yakin" bela Toby.
Uhf... Tentu saja, Aku dengar Toby menyaksikan seluruh proces pembuatan Bayi di perutku tanpa bergeming sedikitpun. Bagaimana tidak yakin?
"Bukan Rizal kan?"
__ADS_1
"Apa bajingan itu mengatakan hal itu pada Mama?"
Wajar kalau aku ahirnya tersulut emosi bukan?