TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Mengikis Rasa


__ADS_3

Hari ini Erik mulai masuk kantor, meski dia tidak menemukan seorang perempuan yang telah menjebaknya. "Kemana perempuan itu melarikan diri?" Erik masih merasa kesal dengan tingkah Miranda. Dia benar-benar tidak tahan apalagi El mencuekinya karena kejadian itu. Dia hampir saja frustasi karena El hanya menjawab hm kalau diajak bicara. Untung aja dia punya ide gila pura-pura kecelakaan agar El khawatir terhadapnya dan tidak akan mencuekinya lagi. Meski ide gila terlihat sangat konyol tapi buktinya berhasil mengelabui El.


"El kamu begitu polos Sayang, bahkan aku bilang luka ku sembuh karena laser dokter Rehan yang canggih kamu pun langsung percaya" Erik menatap gambar El di HPnya, kemudian segera menghubungi El.


"Halo, El bersiap sekarang aku jemput kerumah ya"


"Iya Sayang" El heran kenapa Erik mendadak hendak menjemputnya, tapi dia hanya menuruti saja karena belakangan hubungannya dan Erik agak terganggu.


***


"Sayang kita mau kemana?"


"Kita mau ke kantor aku?"


"Oh apa Miranda?" El tidak melanjutkan perkataannya


"Lihat nanti Sayang" Erik kembali fokus mengemudi


Sesampainya di kantor, El duduk di salah satu sofa di ruangan Erik. Sementara Erik masih sibuk seperti menelpon seseorang.


"Ok"


"Tok tok tok"


"Masuk" Ucap Erik, mukanya berubah datar


tak lama masuklah seorang lelaki yang bertubuh kekar dan berwajah ganteng tapi wajahnya datar dan dingin.


"Aw" Lelaki itu menarik tangan Miranda dan mendorong tubuh Miranda hingga tersungkur di kaki El. El terkejut dengan apa yang disaksikannya. Baru kali ini dia melihat laki-laki berwajah datar itu yang segera mematung dan diam


"Kenapa semua orang suruhan Erik berbakat jadi manekin. Sama saja seperti sekretaris Jim" Pikir El, semetara Miranda tertunduk dia sudah ketakutan setengah mati


"Kamu tahu kesalahanmu apa?"


"tahu Tuan" Ucap Miranda dengan suara bergetar


"Kamu tahu harus lakukan apa?"


Erik bicara sambil memandang keluar jendela


"Tahu Tuan"


"Kalau begitu cepat lakukan"


Miranda menelan ludah dia masih berpikir harus dimulai dari mana.


"Cepat lakukan" Nada Erik sudah meninggi, membuat El pun kaget baru kali ini dia melihat Erik marah seperti itu. Dia pun ikut ketakutan.


"Sayang" El segera memeluk Erik


"Aku takut kamu marah seperti ini" El membenamkan wajahnya ke dada Erik.


"El, terkadang marah itu perlu El. Apalagi untuk orang seperti Miranda" Ucap Erik mulai melunak.

__ADS_1


"Ayo lakukan" Teriaknya pada Miranda.


"Tuan saya minta maaf, saya telah lancang memasukkan lisptik saya ke saku jas Tuan. Maafkan saya Tuan hiks hiks Miranda terisak air matanya bercucuran di lantai.


"Minta maaflah kepada istri Saya"


Wajah Miranda kelihatan kaget, dia tidak menyangka El adalah istri Tuan Erik.


"Maafkan saya Nyonya, Saya telah salah menfitnah Tuan" Hanya itu yang mampu diucapkan Miranda


El menatap Miranda dengan perasaan iba.


"Kau tahu, karena ulahmu saya hampir kehilangan istri saya" Erik kesal mengingat El minta cerai


"Sayang, sudahlah Aku sudah maafkan kamu kan?" Sudahlah maafkan saja dia" El tidak tega melihat Miranda seperti itu. Sementara Reno hanya diam mematung seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


"Baiklah karena permintaan istri saya, saya akan memaafkan kamu. Tapi mulai besok kamu tidak usah datang lagi ke kantor ini"


"Maksud tuan?" Miranda masih tak percaya dia dipecat.


"Kamu dipecat!" perkataan Erik bak petir di siang bolong, dipecat dari perusahaan sebesar itu tentu ibarat menempelkan tinta hitam di keningnya. Perusahaan mana yang akan mau menerimanya nanti, tentu dia akan kesulitan seumur hidupnya.


"Hiks hiks" Miranda terisak, semua karir yang di bangun dari nol, kesuksesannya telah hancur sekejap mata. Dan semua karena kebodohannya mencintai seorang seperti Erik yang baru dia kenal beberapa pekan ini.


"Sayang? Apa itu tak berlebihan coba pertimbangkan lagi" Bujuk El.


"Dia pantas menerimanya Sayang, jangan bela dia!" Erik bersikukuh untuk memecat Miranda.


El menatap mata Erik dan menggenggam tangannya.


"Sayang, kita tidak tahu berapa tangan yang bergantung pada dia. Mungkin ada keluarganya di rumah yang mengharapkannya"


Seketika Miranda ingat ibunya yang sedang sakit, ya dia hanya gadis dari keluarga sederhana. Tapu berkat kecerdasannya dia berhasil meraih beasiswa sehingga sukses seperti sekarang.


"Hiks hiks" tangis Miranda semakin pecah dan pilu.


"Sayang, ayolah manusia mana yang tidak pernah salah. Bukankah kita sebaiknya memberi kesempatan untuk membuktikan perubahannya"


"Ok, baiklah tapi Miranda kamu akan dipindahkan ke kantor cabang. Dan saya tidak mau lagi melihat kamu muncul di kantor ini! tapi ingat semua ini saya lakukan demi istri saya!" Erik tidak tega melihat El memelas seperti itu.


"Baiklah Tuan, terimakasih Tuan" Miranda menghapus air matanya


"Berdirilah Miranda" El mengulurkan tangannya.


Miranda menatap El,


"Ternyata bukan wajahnya saja yang sangat cantik. Hatinya juga sungguh sangat baik mungkin bidadari oun iri padanya" Pikir Miranda


Miranda menggenggam tangan El dan membantunya berdiri.


"Miranda, aku tahu rasa cinta itu bukanlah pilihan kita. Kita tak pernah bisa menentukannya, tapi setidaknya kita bisa mengendalikannya. Miranda, aku tahu terkadang rasa cinta dapat melumpuhkan logika, tapi satu hal yang kamu ingat jangan pernah merebut milik orang lain itu akan membuatmu rendah. Tapi milikilah yang memang dianugerahkan Tuhan untukmu supaya hatimu tenang dan bahagia. Miranda, aku yakin kamu wanita baik yang dibutakan cinta. Tapi berusahalah melihat dengan mata hatimu. Jangan pernah bahagia di atas penderitaan wanita lain" Perkataan El mungkin adalah pelajaran yang diambil dari kisah cintanya sendiri. Bagaimanapun sekarang dia telah bahagia memiliki suami sesempurna Erik.


"Nyonya El maafkan aku!" Miranda malu dengan kebaikan El.

__ADS_1


"Tidak apa Miranda lupakanlah dan jadilah wanita yang lebih baik lagi ya. Aku yakin akan ada cinta yang nanti akan membuatmu bahagia.


" Terimakasih Nyonya" El tersenyum dan memeluk Miranda.


Erik terpanah dengan reaksi El.


"El kamu memang wanita yang sempurna, hatimu begitu mulia dan lembut Sayang. Ternyata menjambak rambut Miranda hanya sebuah leluconmu saja. El aku merasa sangat beruntung memiliki istri sepertimu" bisik hati Erik.


"Baiklah Miranda, sekarang kamu boleh pergi!"


"Baik, Terimakasih banyak Tuan dan Nona" Miranda membungkukkan badannya dan pergi.


"Sayang, kenapa kamu tidak menjambak rambutnya?" Erik meneguk air, energi ditubuhnya menguap bersama kemarahannya tadi.


"Menjambak rambutnya? hahaha" El tertawa.


"Sayang, itu hanya leluconku saja. lagipula aku tidak tega melihat seorang tersungkur dan meratap di kakiku. Aku tidak seantagonis itu, apalagi menjambak rambutnya. Aku rasa, merangkul musuh adalah cara terelegan kita menjadikannya teman" El tersenyum


"Sejak kapan istriku sebijak itu, setau aku selama ini kamu menangis, merengek dan meraung" Erik mencubit hidung El.


"Apa?" El menatap Erik, tidak terima


"Cup" Erik menciumi pipi El.


"Sayang, malu" El menatap Reno.


" Reno, apa kamu lihat tadi saya?"


"Tidak tuan saya tidak melihatnya" Ucap reno dengan ekspresi datar.


Sementara El terpanah Reno yang mematung.


"Apa aku anak kecil yang mudah dibohongi?" Pikir El


"Sayang, kenapa kamu harus membuat Miranda meminta maaf padaku? Apa kamu tidak percaya aku telah memaafkan kamu?" El menatap Erik.


"Kemarilah Sayang" Erik membentangkan tangannya. Tapi El masih mematung, malu karena ada Reno di sana.


"Reno kamu boleh pergi sekarang, terimakasih bantuannya"


"Baik Tuan" Reno segera keluar dari ruangan yang membuat jiwa jomblonya terasa terbakar.


"Sayang" Erik merentangkan tangannya


El beringsut masuk kepelukan Erik. Erik membelai dan menciumi kening El.


"El ku Sayang, aku tidak ingin ada setitik pun rasa sakit diantara kita. Mungkin saja kamu akan mengingat dan mengungkit kejadian ini lagi disaat kita duduk ditaman dan memandang rambut kita yang sudah saling memutih. Tidak sayang, aku sungguh tidak mau. Aku hanya ingin mengikis semua rasa kesakitan itu. Aku hanya ingin memberimu rasa kebahagiaan, aku ingin memberimu rasa cinta yang akan aku tambahkan kadarnya setiap hari" Ucap Erik sambil menatap matahari yang hampir terbenam diujung senja.


"Sayang, kamu tahu sesungguhnya hatiku sama saja seperti matahari itu. Ada kalanya dia tampak terbenam lalu hilang, tapi sesungguhnya dia tetap ada. Ada kalanya aku cuek dan hanya berkata hm tapi didalam hatiku cintaku selalu ada bahkan bertambah hari demi hari.


" Terimakasih Sayang, terimakasih telah mencintaiku" Erik memeluk El lembut, lalu bibir mereka sama-sama menyatu memberi kehangatan dan cinta.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2