
"Jadi benar?" Aku coba memastikan dugaanku.
Toby mendengus kasar ke udara.
"Sandra... Kita sedang bicara tentang kamu dan masalahmu yang membuatku harus terbang ke mari apapun kondisinya" Protest Toby dengan pandangan tetap ke udara.
"Masalah yang aku hadapi, kita bahas setelahnya" kali ini wajah Toby nampak sangat lelah.
Ah aku jadi merasa bersalah saat ini.
"Ok.. Deal... Kita bahas persoalanmu nanti" Aku menundukkan kepalaku sejanak "Jadi aku menolak sendiri, aku bilang sendiri?"
"Apakah taring dan cakarmu itu hanya untuk aku?" Toby memilih bertanya daripada mengiyakan "Aku pikir aku sudah menikahi srigala, tapi sepertinya aku hanya mendapatkan pudel"
"Hey...!!" Aku memotong ucapan Toby segera. "Aku bukan anjing"
Toby hanya menggeleng "Jujur..." Toby mendaratkan tangannya di tengkukku dan "Sungguhkah kamu menolak karenaku?"
suara Toby yang rendah bercampur dengan aroma tubuhnya yang maskulin, membuatku gugup seketika. Tapi tentu saja ada gengsi yang tersisa.
"Aku ini hamil anakmu"
"Cih... Hanya karena itu?" Toby membuang muka sejenak dan.
Eits.. Dengan sigap aku menarik kerahnya. Tujuannya.....
Itu reflek, karena tubuhku tidak bisa bohong bahwa aku menyukai Toby.
"A.. A.. Ku.. Maunya..."
"Hmm...." Tanggap Toby, yang kini kembali mengarahkan wajahnya padaku.
__ADS_1
"Sama kamu... Bukan yang lain.." lirihku yang tetdengar setwngah memohon.
Aku tahu harga diriku sangat turyn kalau begini. Tapi... Aku tak sanggup membayangkan bila aku berhadapan dengan Rizal sendirian.
Jelas Rizal tidak mencintaiku, dia hanya terobsesi kepadaku karena penolakanku di masa lalu.
"Tapi klo nanti aku menolak, apakah mungkin bisa Merusak karirmu? Mengingat mungkin om yoga pasti akan kecewa"
"Ckckck.. Kamu meremehkan suamimu?" Toby melepaskan cengkeraman jemariku di kerah kemejanya "Aku ini harta karun buat semua agency. Aku ini popular, musikku, actingku dan juga aku sangat produktive. Wajah dan fisik sepertiku juga jarang, tidak semua wajah antagonist bisa setampan diriku bukan?"
Benar juga...
"Dan camkan ... Bahwa aku menyumbang hampir 50% dari pendapatan agency" Lanjut Toby dengan wajah pongahnya.
"Uh... Sombong.. "
" Aku menbeberkan kenyataan, sombong itu kalau aku sengaja merendahkanmu dgn pencapaianku"
"Iya... Iya..." Yang dikatakan Toby memang benar."terus kalau dia mengamuk bagaimana"
Sepertinya..
"Profesi strategis tidak akan merusak reputasi dengan membuat dirinya seperti orang gila"
"Maksudmu? Aku tidak mengerti"
"Darpada dia marah mungkin dia akan mengancammu"
Itu terdengar lebih menakutkan.
"Aaah.. Benar juga" Aku mulai manggut - manggut "Bagaimana kalau aku bilang aku sudah mengandung anakmu. Itu mungkin alasan yang paling ampuh untuk dia mundur kan? Secara logika, tidak ada laki - laki yang mau bertanggung jawab dengan bwnih lelaki lain bukan?"
__ADS_1
Seklai lagi anak kami jadi alasan. Maafkan mama....
Toby menyentuh perutku yang masih rata dan mengelusnya sesaat" Usia kandunganmu terlalu muda dan rentan "
Toby berfikir sejenak" Aku yakin diantidak akan melakukan hal gila secara fisik saat kalian bertukar argumen.. Tapi.. " ucapannya menggantung" Yang aku takutkan ancaman selama aku tidak ada "
Manik kami saling bertemu dan menyelam pada isi pikran masing - masing. Entah sama atau sudah faham, kamipun mendengus secara bersamaan.
" Tunda dulu, paling tidak... Hingga dokter mengatakan bahwa kandunganmu cukup kuat "
" Terus aku harus bagaimana selama masa itu?"
Aku tidak biasa kabur dari situasi, aku juga tudak punya tempat untuk menghilang.
Rumah orang tuaku juga tidak mungkin, penyakit jantung ayah bisa lepas kontrol kapanpun kalau mendengar hal aneh sperti inj.
Toby memanggutku ringan," Jadi kamu yakin bersama ku meski sekarang ada pilihan yang lebih baik..?"
Lebih baik dari mana? Lebih psikopat iya, batinku.
"Yakin..!!" jawabku mantap.
****
"Ups Sorry..."
sebuah suara dari arah pintu menarik perhatian kami secara bersamaan.
"Aku dengar Sandra sakit, bibi minta tolong aku mewakilinya, tapi aku tidak tahu kamu ternyata di sini" Jelas Jorge yang merasa canggung telah memilih waktu yang salah untuk memmasuki ruangan.
"Is ok" Toby merespon Ringan dan kembali duduk dengan manis di kursinya.
__ADS_1
"Kenapa dia yang datang?" tanyanya lirih padaku.
"Tanya ibumu " jawabku kesal. Bagimana mungkin ibu mertuaku yang pengangguran itu tidak sempat mengunjungi menantu satu - satunya ini.