TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Terimakasih mahkotanya


__ADS_3

Hari demi haripun berlalu, keadaan Kaki El pun mulai membaik meski belum seratus persen karena masih ngilu ketika berjalan. Malam ini tepat pada malam award. Dimana para artis yang telah menjadi nominasi akan mengetahui apakah mereka terpilih untuk mendapatkan penghargaan tersebut.


El masih duduk termenung, hatinya mulai surut dengan kondisinya kini. Lebih tepatnya dia mulai tidak percaya diri lagi. Setelah kecelakaan itu jalannya masih belum normal.


"Sayang, Ayo kita pergi" Erik menatap El dengan senyuman. Sementara El hanya tertunduk lesu.


"Kenapa Sayang? Jangan gitu dong kamu harus semangat ya. Aku akan temani kamu" Erik menggenggam tangan El. El tersenyum dan memeluk Erik yang selalu setia menemaninya.


Pada acara malam ini begitu ramai, para artis dan wartawan. Tentu saja El dan Erik tidak luput dari perhatian mereka. Erik yang begitu tampan, bahkan tidak kalah dengan artis-artis di sana tentu mengundang perhatian dan rasa penasaran orang yang melihatnya. Namun mereka memutuskan tidak banyak memberikan tanggapan. Apalagi pertanyaan mereka yang sudah menjalar kemana-kemana.


El duduk bersebalahan dengan Erik. Erik menggenggam tangan El seolah ingin memberi kekuatan kepada El. Beberapa Nominasi telah dibacakan beserta nama yang terpilih. Namun kali ini El tidak berharap banyak. Baginya untuk saat ini mungkin ini akan menjadi kali terakhir dia menghadiri acara seperti ini mengingat kondisinya kini yang masih belum sembuh betul.


"Sayang, kamu gugup" Erik mengusap-usap tangan El.


El hanya tersenyum


"Tak apa Sayang, tenanglah" El mengusap rambut El.


"Makasih Sayang" El tersenyum kembali.


Akhirnya setelah sekian lama menunggu MC menyebutkan juga nominasi putri iklan terbaik Yaitu Elzia Putri Baskoro. El tak percaya ketika namanya disebut dia seperti tidak yakin tampil kedepan panggung dengan jalan seperti itu.


"Ayo Sayang" Erik memberikan tangannya pada El. Namun El masih mematung dikursi itu.


"Tapi Sayang, Aku.." Kalimatnya tertahan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Erik menggendongnya naik keatas panggung. Sontak saja membuat semua orang terpanah. Masih dengan suasana yang tadinya riuh menjadi hening. Tampak sorot lampu mengikuti langkah kaki Erik yang menggendong istrinya itu.


"Terimakasih kepada MC yang telah memanggil nama istri saya. Mohon maaf jika ini agak janggal, namun sekarang istri saya sedang kesulitan untuk berjalan. Maka dari itu, saya mohon izin untuk menjadi kaki untuk istri saya" Erik tersenyum dengan wajahnya yang sangat tampan. Sontak membuat semua orang berdiri mereka bertepuk tangan dengan meriah bahkan ada pula yang sampai meneteskan air mata.


El pun berdiri dibantu Erik


"Terimakasih, Saya ucapkan pada suami saya yang tercinta, keluarga saya dan juga kepada para penggemar yang telah memberikan suportnya. Aku sayang kalian semua. Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa" El berucap dengan rasa keharuan. Akhirnya dia mendapatkan piala awards yang dia impikan selama ini.


Sekali lagi semua orang ramai memberikan tepuk tangan dan tentu saja sekian banyak kamera yang mengarah kepada mereka berdua. Tapi tidak dengan seseorang yang sedang menonton acara tersebut. Tangannya mengepal, hatinya mulai panas. Dibanting remote TV yang ada disampingnya. Hatinya seperti belum rela melepaskan wanita yang sangat dicintainya selama ini.


"Awas Lu Rik, setelah dulu kamu menggantikan posisi aku dengan menjadi model dadakan. Sekarang kamu telah merampas wanita kesayanganku. Lihat saja nanti, akan aku balas kau" Ucapnya menatap Erik tajam.


***


Sesampainya dikamar Erik membantu El membuka sepatunya dan melepaskan gaun yang dipakainya. Kini baju itu telah lepas meninggalkan pakaian mini yang masih menempel ditubuh El. Erik memeluk El dari belakang. Mencium tengkuknya perlahan.


"Iya Sayang" El menjawab dengan suara bergetar.


"Sayang, malam ini kita" Erik berkata sambil menciumi bahu dan punggung El membuat dia semakin berdebar entah kenapa dia menjadi gugup.


"Sayang, aku kekamar mandi dulu ya" El berlari ke kamar mandi. Erik tahu mungkin istrinya itu sedang gugup. Biar bagaimanapun selama ini mereka belum pernah melakukan malam pertama.


El membasuh wajahnya, bahunya sudah naik turun menahan debaran dadanya. Tapi dia tidak akan menghindarinya, dia hanya gugup saja. El menatap wajahnya di cermin.


"Ayolah El jangan gugup kayak gini, santai saja" Ucap hatinya menenangkan tubuhnya yang gemetar.

__ADS_1


"Sayang, cepetan dong" Terdengar teriakan Erik dari luar.


"Ok El, jangan gugup santai saja" Sekali lagi dia mensugesti dirinya sendiri.


El melangkah ke luar. Tampak Erik yang sudah duduk menunggunya di bibir ranjang.


El melangkah dan duduk di samping Erik. Kali ini dia menunduk wajahnya memerah. Erik memeluk El mengangkat dagunya dan mulai menciumi bibir mungil El. El memeluk Erik erat dengan nafasnya yang memburu. El membalas ciuman Erik meski dengan nafas tersengal.


Erik kembali menyusuri leher El, mengecupnya dan memberi beberapa tanda disana.


"Hmm" El mendesah merasakan kelembutan sentuhan Erik apalagi setelah tangannya tidak dapat dikondisikan. Erik perlahan membuka pakaian mini El sehingga sekarang dia menjadi polos.


Erik menatapnya tajam melihat setiap jengkal tubuh El yang nyaris sempurna membuat Erik semakin tidak tahan saja.


El mengambil selimut berupaya menutup bagian sensitifnya. Namun Erik telah melempar selimut itu terlebih dahulu. El pun berusaha menutupnya dengan tangan. Erik tersenyum melihat tingkah El yang pemalu dan wajah yang memerah.


"Nggak apa sayang" Bisik Erik sambil memindahkan posisi tangan El. Erik pun menikmati setiap jengkal tubuh Istrinya itu, setelah sekian lama mereka menikah. Erik menghujam El dengan semua cinta yang dia miliki. Dia berusaha melakukannya dengan lembut, namun tetap saja El merasakan perih dibagian bawahnya.


"Sakit sayang" El merintih air matanya sudah meleleh, namun Erik masih melanjutkan aksinya sambil menghapus air mata El dengan ibu jarinya.


"Bentar lagi sayang" Erik merasakan gejolak yang semakin lam semakin memuncak. Sampai akhirnya Erik menyemburkan cikal bakal anak ke rahim El. Akhirnya Erik menyudahi permainannya, semantara El meringis memegang bagian sensitivnya. Erik dapat melihat bercak darah di paha El.


"Sayang, Terimakasih sudah memberikan mahkota terindahmu untukku" Erik menciumi kening El yang sudah tertidur kemudian menyelimuti tubuhnya yang polos.


Erik memeluk Erat tubuh istrinya

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, telah membuatmu kesakitan. Kamu pasti lelah kan?" Erik tersenyum menatap El yang tertidur kelelahan.


bersambung


__ADS_2