TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Kangen Papa


__ADS_3

Erik mengemudikan mobilnya perlahan, semenjak sekretaris Jim cuti dia memang membawa mobil sendiri. Baginya tak mengapa tanpa sekretaris pribadi untuk sementara ini. Toh, bukannya selama ini dia juga hidup dalam kesederhanaan. Erik membelokkan mobilnya ketepi pantai yang selalu menyuguhkan keindahan bagi siapapun yang memandangnya.


Beberapa perahu telah berjejer di bibir pantai, beberapa orang nelayan dengan kantong kresek dan kail siap mencari rezekinya disana. Ya, begitulah laut menyediakan rezeki yang berlimpah tapi juga keganasan ombak yang mematikan


"Papa, kenapa Papa betah di dalam sana Pa? tidakkan Papa rindu Aku dan Mama" Erik berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.


"Pa aku rindu Papa menggosok kepalaku, Aku rindu saat Papa bilang jagoan Papa. Meski dulu itu menggelikan namun sekarang itu saat aku rindukan" Erik menatap laut yang berkejaran dengan tenangnya seakan tak merasa bersalah telah memisahkan Erik dan Papanya.


"Pa, dahulu Papa selalu menginginkan Aku memimpin perusahaan Papa. Sekarang Aku telah melakukannya Pa. Pa kembalilah lihat Aku sekarang Pa. Papa pasti bangga kan? Hiks Hiks" Erik menangis pilu menatap laut luas tak bertepi itu.


"Pa, apa Papa disana tidak merasa kedinginan? Apa Papa tidak rindu rumah kita? Pa, ayo kita makan lagi di restoran favorit kita Pa. Kita ajak Mama dan El"


Erik berjalan mendekati menyusuri tepi pantai dengan rasa rindu yang ia pikul, begitu berat rasanya namun apalah daya dia tak dapat menumpahkannya.


"Pa, Akhirnya aku sadar kenapa Papa ingin Aku memimpin perusahaan. Seharusnya dari dahulu Aku tahu Papa sudah lelah. Memimpin perusahaan sebesar itu memang melelahkan Pa. Terimakasih selama ini Papa telah berjuang dari nol untuk Aku dan Mama. Terimakasih Pa" Erik terduduk di pasir pantai itu, menangis sejadinya di sana tidak peduli mata yang memperhatikannya.


"Segitukah kalau pria sedang putus cinta?" Celetuk dua orang gadis remaja yang melintas di sana. Mereka menganggap Erik sedang galau karena patah hati. Namun Erik tidak peduli dia tetap meratap seperti anak kecil.


"Sudahlah jangan menangis lagi Tuan" Sekretaris Jim mengulurkan tangannya.


"Sekretaris Jim?" Sekretaris Jim membantu Erik berdiri.


"Kenapa anda tiba-tiba berada disini sekretaris Jim? Apakah urusan anda sudah selesai?"


Erik heran dengan kehadiran sekretaris Jim.


"Perasaan saya tidak enak Tuan, Saya rasa tidak akan ada seorang wanita yang tidak akan luluh melihat ketampanan anda. Saya khawatir akan ada skandal yang akan mengganggu hubungan anda dengan Nona El" Ucap Jim mantap


"Kamu betul sekali sekretaris Jim, kamu tahu El sampai minta cerai karena dibuat cemburu oleh Miranda" Erik mengingat kembali kejadian itu


"Maafkan saya Tuan, Padahal saya sudah merecomendasikan staf teladan kantor kita. Tapi ternyata dia juga tidak bertahan lama" Sesal sekretaris Jim.


"Tak apa sekretaris Jim, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kami sudah melakukan yang terbaik" Erik menepuk pundak sekretaris Jim perlahan.


"Terimakasih Tuan Muda" Erik tersenyum kepada sekretaris Jim.

__ADS_1


"Meski Miranda telah membuat kekacauan tapi nyatanya El memaafkannya. Dia memohon supaya saya tidak memecatnya. Akhirnya Saya pindahkan dia ke kantor cabang"


"Ternyata Nona El orang yang baik hati" Sekretaris Jim tersenyum.


"Itulah yang membuat saya semakin menyayanginya sekretaris Jim. Mulai sekarang jangan recomendasikan lagi sekretaris perempuan. Aku tidak ingin istriku minta cerai lagi"


"Baiklah Tuan Muda" Sekretaris Jim tersenyum tipis.


"Sudah malam, sebaiknya saya antarkan anda pulang Tuan. Nona El pasti sudah menunggu Tuan di rumah" Sekretaris Jim memberi saran agar Erik segera pulang.


"Baiklah Sekretaris Jim. Aku juga sudah rindu pada istriku" Erik tersenyum


Erik pun pulang diantarkan sekretaris Jim.


***


Mobil Erik memasuki perkarangan rumah, nampak seorang perempuan yang sudah menunggu di teras rumah.


"Sayang" El langsung menyambut Erik dan memeluknya.


"Nggak apa kok Sayang, lagian bosan di dalam terus" El nyengir.


"Selamat malam Nona" Sekretaris Jim membungkukkan tubuhnya


"Selamat malam sekretaris Jim? Apakah masih cutimu sudah berakhir?"


"Sudah Nona"


"Syukurlah, saya tidak mau lagi suami Saya punya sekretaris wanita. Saya takut mereka tidak kuat dan menggoda suami saya" Ucapan El kepada sekretaris Jim membuat Erik terkekeh.


"Baiklah Nona" Sekretaris Jim tersenyum


Setelah pamit sekretaris Jim kembali ke rumahnya, sementara Erik dan El langsung menuju kamar.


"Sini aku bantuin Sayang, El membantu Erik membuka jasnya.

__ADS_1


Erik duduk dan termenung di kasur, beberapa pasir masih menempel di wajah Erik.


" Sayang, wajahnya kenapa pasiran gini? El membersihkan dengan jarinya.


"Tadi aku pergi ke pantai Sayang" El terdiam mendengar jawaban Erik, dia bisa paham Erik mungkin merindukan papanya.


"Sayang, kangen ya sama Papa" El membelai rambut Erik yang tertunduk.


"Nggak apa Sayang, kalau pengen nangis nangis aja nggak udah di tahan-tahan Sayang" El merangkul tubuh Erik ke pangkuannya. Perlahan Erik sudah meletakkan kepala di paha El dan menggenggam tangan El erat.


"Hiks hiks" Erik mulai terisak, El merasakan cairan hangat di pahanya.


"Sabar ya Sayang, Papa pasti udah bahagia di sana" El membelai rambut suaminya, dia pun ikut merasakan kesedihan yang Erik rasakan.


Mungkin saat di kantor Erik terlihat sebagai sosok yang sangat kuat. Tapi di rumah dia begitu rapuh dalam pelukan istrinya.


"Sayang, seandainya Papa masih hidup dia pasti sekarang bahagia melihat aku telah menggantikan posisinya. Mungkin selama ini Papa telah lelah, tapi aku tidak peka dan keras kepala" Erik menghapus air matanya yang berjauhan.


"Sayang, sekarang Papa pun lihat kita kok. Beliau pasti sudah tenang dan bahagia di sana Sayang" El mencoba menenangkan hati Erik.


"El, saat ini yang aku miliki hanya Kamu dan Mama. Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan aku Sayang" Erik memohon kepada El.


"Iya Sayang aku janji tidak akan meninggalkan kamu. Aku janji tidak akan minta cerai lagi" El berjanji dengan sungguh-sungguh. Sekarang Erik sudah mulai tenang dan sudah berhenti menangis, Lalu dia menatap wajah El dan membelai pipi istrinya itu.


"Sayang, sekarang mari kita wujudkan keinginan Mama aku" Erik membelai bibir istrinya lembut dengan ibu jarinya.


"Maksudnya Sayang"


"Maksudnya mari kita berikan Mama seorang cucu" Ucapnya sambil tersenyum nakal.


Wajah El memerah


"Wajahmu memerah, aku sangat suka melihatnya" Erik semakin bersemangat. El mengulum senyumannya,sementara Erik sudah mendorong tubuh El keranjang. Dia menatap El dengan agresif dan siap menghujani El dengan cintanya.


"Sayang, aku mencintaimu sungguh sungguh mencintaimu, Jadilah ibu dari anakku" Bisik Erik ditelinga El.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2