
Seorang wanita muda masih memandanginya dengan tatapan benci. Dia menatap El yang tengah terbaring lemah di tempat tidur.
"Ternyata dia tidak mati" begitu bisik hatinya.
Dia perlahan menempelkan tangannya ke leher El dengan tatapan penuh kebencian sepertinya dia ingin mencekiknya.
Di hela nafas panjang, "Ya, Aku bisa melakukannya. Begitu bisik hati wanita itu, dia mulai meletakkan tangan di lehernya.
" Ahhh" Miranda berteriak, kenapa dia tidak bisa membunuh wanita itu. Tangannya seperti kaku, apa karena dia baru pertama kali melakukannya.
" Miranda, kamu kenapa?" Juna berteriak di depan pintu.
"Tidak apa-apa. Maafkan Aku" Miranda tertunduk.
"Apa terjadi sesuatu?" Juna khawatir
"Tidak" wajah Miranda menjadi pias
"Apa kau sudah makan?'
Miranda menggeleng.
"Aku tahu yang terjadi padamu itu sulit,tapi jangan lupa makan. Jangan gadaikan kesehatanmu" Ucap Juna sambil memeriksa infus yang melekat pada tangan El.
Miranda terduduk dia ingat kembali dengan nasibnya kini. Semenjak dia dipecat oleh Erik waktu itu, tidak ada lagi perusahaan yang mau menerimanya. Dia benar-benar telah masuk dalam daftar hitam. Memang waktu itu El melarang Erik memecatnya, dan mereka sepakat Miranda akan pindah ke kantor cabang. Hanya saja, seminggu setelah itu Erik memecatnya.
"Ayo kita makan, Aku sudah beli dua porsi ayam geprek tadi" Ucap Juna tersenyum.
"Baiklah" Miranda segera beranjak dari kursinya untuk mengisi perutnya yang kosong sedari pagi.
"Terimakasih Juna" Ucap Miranda dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan terlalu kau fikirkan" Senyum mengambang dari wajahnya.
"Oh ya, Kalau saya boleh tahu. Kenapa kamu tidak bawa saja temanmu itu kerumah sakit?" Juna bertanya penasaran.
__ADS_1
"Oh itu, jadi ceritanya begini. Ada seorang pria kaya yang sudah lama kehilangan istrinya. Kebetulan wajahnya mirip dengan Sheyla, Jadi sejak saat itu Sheyla sering curhat kepadaku. Katanya dia selalu dikejar-kejar lelaki itu. Mungkin Sheyla jatuh kejurang juga karena dikejar lelaki itu. Aku khawatir kalau Aku membawanya kerumah sakit dia akan menemukan Sheyla" Miranda bercerita dengan wajah yang meyakinkan.
"Oh ya, seperti itu rupanya. Lalu bagaimana dengan orang tuanya? Apa kau juga tidak mengabari mereka?" Juna seperti polisi yang mengintrogasi saja, namun Sheyla dengan cepat memutar otaknya.
"Orang Tua Sheyla sudah lama meninggal. Maka dari itu Aku sudah anggap dia seperti adikku sendiri. Kasihan dia" Miranda menengok sekilas kearah kamar.
"Kasihan juga Sheyla, Apakah dia telah punya seorang kekasih?" Juna bertanya dengan wajah bersemu.
"Setauku tidak, Jangan bilang kalau kau menyukainya" Miranda menendang kaki Juna.
"Aw sakit tau, emangnya tidak boleh?"
"Apa? Jadi kamu beneran suka ya?" Miranda melotot.
"Kenapa kamu sekaget itu?" Juna mengangkat satu alisnya.
"Tidak bukan apa-apa?" Miranda memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
Juna hanya tersenyum tipis memperhatikan Miranda.
"Juna, boleh saya meminta sesuatu?" Miranda bicara perlahan
"Boleh Apa itu" Juna menjawab cepat, dia masih fokus pafa makanannya.
"Nanti kalau Sheyla sudah siuman, tolong katakan saja Aku Kakaknya" Juna terdiam sebentar,dari awal memang Juna telah memprediksi efek benturan keras dikepala El. Jika dia selamat, kemungkinan besar akan kehilangan memorinya.
"Baiklah kalau begitu, bukankah Sheyla juga telah kau anggap adikmu sendiri. Jadi kenapa tidak?" Juna tersenyum.
"Tapi semoga saja dia tidak hilang ingatan" Ucap juna
"Ya semoga saja" Ucap Miranda melawan hatinya
"Sekali lagi terimakasih Juna. Aku yakin tidak akan dapat membalas semua kebaikanmu" El tertunduk.
"Hey, kamu bilang apa? santai saja. Sesama teman juga" senyum kembali mengambang di wajah Juna
__ADS_1
"Bagaimana dengan pekerjaanmu Jun?" Miranda bertanya lembut.
"Semua berjalan lancar" Di rumah sakit yang beru tempat saya bekerja juga memberikan gaji yang besar dan bonus bagi pegawai yang memiliki loyalitas tinggi" Ucap Juna sambil meneguk air putih.
"Oh baguslah kalau begitu, pantas saja sekarang kamu bisa memiliki beberapa apartemen" Ucapnya El tersenyum tipis.
"Ya, Rezeki nggak kemana kok. Selagi kita suka membantu sesama rezeki kita pasti lancar" Ucapnya dengan senyum mengambang sehingga memamerkan lesung pipinya.
Mereka melanjutkan makan bersama. Setelah semua yang menimpa Miranda memang Junalah satu-satunya harapan Miranda. Kini kariernya telah hancur, hidupnya pun terasa amat berat ketika sang Kakak pun masuk penjara. Kini tinggal dia yang sebatang kara.
"Hey, jangan melamun seperti itu. Tersenyumlah" Juna mencoba menghibur Miranda. Miranda mencoba mengambangkan senyum diwajahnya dan menelan kepahitan yang ada.
Dia memandangi dokter bernama Juna itu, selain tampan dan cerdas Juna juga sangat baik kepadanya. Selesai mereka makan, mereka kembali lagi menghampiri El yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan Dia Jun?" Miranda menatap Jun dengan tatapan khawatir.
"Dia sudah berhasil melewati masa kritis, kita berdoa saja semoga dia secepatnya siuman" Juna menatap El dengan perasaan iba.
"Syukurlah kalau begitu" Miranda kembali menatap El.
"Kenapa dia tidak mati saja" Bisik Miranda dalam hatinya.
"Oh ya, kalau begitu Aku pamit pulang dulu. Kalau terjadi sesuatu jangan sungkan hubungi Aku ya" Juna meletakkan tangannya di bahu El.
"Baiklah terimakasih Juna" Miranda tersenyum.
Juna pun pergi meninggalkan El dan Miranda, di dalam hati Juna tidak ada terbersit sedikitpun rasa curiga. Dimatanya Miranda adalah teman yang sangat baik, yang peduli kepada El. Sebagai teman Juna sudah berkewajiban untuk membantu Miranda.
Miranda berdiri di jendela, menatap keluar kendaraan yang berlalu lalang. Dulu dia berada diantara orang disana, yang berkutat dengan aktifitasnya. Tidak seperti sekarang dia hanya terpaku di apartemen ini bersama wanita yang dia benci.Miranda teringat lagi dengan Diego, abangnya yang kini dipenjara.
"Bang, bagaimana keadaan Abang disana? Maafkan Miranda belum bisa menjenguk abang lagi. Karena Miranda harus pura-pura menjaga El, sampai Miranda temukan cara yang tepat untuk membunuhnya" Bisik hati Miranda. Miranda berjanji akan membalaskan dendam kita cepat atau lambat. Erik dan El harus membayar semua ini. Sedari awal kecelakaan sebenarnya Miranda bisa saja dengan mudah menghabisi nyawa El. Tapi dia selalu tidak bisa melakukannya, karena Miranda memang tidak pernah melakukan pembunuhan. Selama ini dia adalah seorang gadis yang baik dengan karier yang cemerlang. Namun semenjak dia ditugaskan menjadi sekretaris sementara Erik, disanalah dia tidak bisa mengendalikan diri. Dia tidak menyangka semua bakal berakhir pada kehancuran kariernya. Perlahan air mata jatuh berlinang di pipi Miranda. Namun nasi telah kadi bubur semua telah terjadi. Saat ini Miranda hanya dapat menatap El yang lemas.
"Kenapa begitu sulit untuk menghabisimu El? Dan semua orang yang mengenalmu kenapa selalu tertarik kepadamu? Termasuk abangku yang telah mengorbankan hidupnya hanya untuk mengejarmu" Miranda duduk lagi di kursinya. Untung saja Juna temannya yang dokter itu berhati baik, sekarang pun dia tinggal di apartemen Juna. Dan merawat El secara cuma-cuma.
bersambung
__ADS_1