TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Menguatkan


__ADS_3

" Ssstttt.... Lihat itu pak "Toby menunjukkan sebuah pendaftaran ajang pencarian bakat yang terpampang pada salah satu majalah yang sedang di jajakan di tangan penjual koran.


Tanpa ragu Toby melambai pada pemuda yang jauh lebih muda darinya.


" Aku mau majalah itu " Ucap Toby ketika penjual koran itu mulai mendekat.


"tiga puluh lima ribu rupiah" Sahut pemuda itu sambil segera menyodorkan majalah yang dimaksud.


Toby segera menukar majalah itu dengan s3lembar uang ratusan ribu.


"Aduh... Nggak ada kembalian" keluh penjual itu "Masih lampu merah kedua belum..."


"Ambil... Aja.." Toby melempar senyum sambil memberi isyarat pemuda itu untuk menjauh sebelum lampu hijau menyala.


Pemuda itu mundur segera tanpa sempat memgucapkan terimakasih, tapi wajahnya berbinar menerobos beberapa mobil yang mulai bergerak.


Toby m3ngintip isi dompetnya dan menghitung jumlah uang ratusan yiang masih tertata rapi.


"Harusnya aku lebih bahagia, karena punya lebih banyak, tapi hidup bukan cuma soal angka" gumam Toby.


"Kalau pak. Ahmad nggak bisa antar, aku bisa naik taxi" Bujuk Toby satubkali lagi akan aksi bolos yang diinginkannya.


Pak Ahmad mulai bingung, dia tahu sekali Toby selalu kuat dwngan pendiriannya. Lebih dari hanya mengantar Toby, keselqmatan Toby juga merupakan tanggung jawabnya.


"kalau tuan Toby terkena masalah..."


"Kalau begitu antar saja, nanti kita cari alasannya bersama"


"Tapi...."

__ADS_1


"Anggap saja, aku sedang mencari kado untuk mama agar punya bahan untuk arisan keluarga nanti"


"Hmmm... Baiklah" Ahirnya pak Ahmadpun menyerah dan memutar arah kemudinya ke arah di mana audisi itu sedang berlangsung.


Hari itu adalah hari terahir untuk Toby belajar di sekolah, karena bakatnya yang telah muncul ke publik membuatnya harus mulai sibuk mengukir namanya tanpa bayangan Ayahnya.


*******


Mataku segera terbuka, dan perlahan bayangan Toby yang samar mulai jelas.


Tentu saja dia tidak sedang tersenyum, namun jemarinya begitu cekatan meraih gelas yang telah terisi air jernih.


"Minum..."


Aku yang masih membungkam mulutku segera mengambil duduk dan menyambut tawaran Toby.


Aku menelan tetes terahir air di tenggorokanku. Sorot mataku menatap Toby lurus. Ingin bertanya....


"Bagaimanakah kita tetap bersama dan hidup damai?"


Namun mendapati rambut cepak Toby yang telah di warnai Turqoise seperti eancangan cover Albumnya, membuatku membatalkan tanyaku.


Bagaimanapun Toby bukan seutuhnya milikku, ada keringat dan lapangan pekerjaan banyak orang di bawah namanya.


Ada team musician dari pemain band hingga composer. Ada team creative stylist, choreographer dan team - team lainnya.


Semuanya akan mengalami kerugian besar jika Toby berhenti saat promi Albumnya masih berjalan.


"Sandra... Kamu sadar kan" Toby menepuk pipiku, tapi aku masih belum berminat untuk bersuara. Hanya beberapa tetes air mata sepertinya tidak ingin meneyembunyikan kesedihanku lebih lama.

__ADS_1


Toby meraih tubuhku dengan cepat dan membenamkannya dalam Pelukannya. Rasanya begitu nyaman dan seakan aman, hanya saja...


Raut wajah Albert yang bersandar di ambang pintu kamar mencerminkan sebaliknya. Kami tidak akan aman, selama kami bersama?


Aku mendorong Tubuh Toby segera, "jadi kapan kamu pergi ke jepang?"


Toby mengatupkan sepasang bibirnya beberapa detik.


"Jangan di tunda..." Selaku sebwlum kalimat lain muncul dari bibir merahnya "Bagaimanapun, tidak ada orang yang bisa sampai puncak tanpa bakat"


Toby melebarkan pupil nya.


"Tampillah sebaik mungkin, hingga mereka merasa menjadi manusia paling beruntung karena pernah melihatmu pada kehidupan ini"


"Ta.. Tapi.. Sand.."


"Aku baik - baik saja" aku menunduk dan menggenggam erat pundaknya "Semua hal yang tidak menyenangkan hanya di luar tembok ini kan?"


Toby beralih pandang ke arah Albert dan seakan mengisyaratkannya untuk meninghalkan kami berdua.


"Gossip dan makian orang juga tidak menurunkan nilaimu, meski kamu di lahirkan dari rahim seorang criminal, itupun tetap tidak mengubah dirimu" entah mengapa aku jadi banyak bicara.


Lebih untuk menghibur Toby, aku lebih ingin menghibur diriku sendiri. Sebuah kenangan ketika ayahku harus dipaksa pensiun dari kedokteran karena tangannya yang mulai bergetar akibat kecanduannya mulai perlahan kembali.


Saat itu ayah tidak punya istri yang berpendidikan, dan pengertian. Ibu hanya menyalahkan ayah, kenapa tidak menyembunyikannya hingga teraphy alcoholismnya selesai?


Tapi aku berbeda....meski banyak orang berusaha menarik suamiku turun. Aku akan membuatnya lebih bersinar dari sebelumnya.


"Mau temanin aku ke dokter? Kita lihat bayi kita sama - sama. Aku yakin itu bisa menguatkan kita meski hanya mendengar detak jantungnya"

__ADS_1


__ADS_2