TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Pelayan baru


__ADS_3

El bersyukur malam ini ada tempat untuk dia menginap. Meski hanya di kamar kosong yang sederhana, mungkin ini kamar pelayan rumah ini. Bagi El ini sudah lebih dari cukup dibanding dia harus tidur diluar kedinginan dan ketakutan.


"Makanlah Nona, siapa namamu?" Seorang wanita paruh baya menatapnya dengan senyuman sambil membawakan sepiring nasi.


"Terimakasih Buk" Air mata El berlinang dia memang sudah lapar.


"Makanlah, Tuan Jim berpesan untuk memberi nona makan malam"


El ingat sekretaris Jim pemuda membawa mobil yang menolongnya tadi.


Sementara Erik masih mempelajari beberapa file Larutnya malam belum juga membuat dia mengantuk. Belakangan ini Erik memang selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Dia tidak ingin teringat terus dengan El istri yang sangat dicintainya itu. Dipandangi foto El yang tertata diatas mejanya. Senyum El begitu manis sampai dia tak pernah lupa. Di usap Foto El dengan jari-jarinya air mata pun mulai berjatuhan dari matanya. Dia sesegukan mengingat El dan Papanya dua orang yang tidak pernah dia tahu dimana rimbanya. Semua memang sangat menyakitkan bagi Erik, Tak lama dia pun tertidur dengan memegang foto El. Begitulah malam-malam yang dia lewati begitu berat dan penuh kerinduan yang mendalam.


***


Pagi sudah menyapa kembali, Sekretaris Jim sudah menunggu Erik dibawah. Dia melirik jam beberapa kali. Sepertinya mereka akan terlambat sampai kantor. Sekretaris Jim mengundur waktu meetingnya, mengingat Erik belum turun juga.


Dia segera menyusul Erik keatas.


"Apa Tuan Muda ketiduran?" Begitu bisik hati sekretaris Jim


Dibuka pintu kamar Erik dengan kunci serepnya, memang Erik mempercayakan kunci serepnya kepada sekretaris Jim untuk mengawasi El.


Pintu terbuka, sekretaris Jim melihat Erik tertidur dengan tangan masih memegang foto. Tampak matanya sembab seperti habis menangis semalam. Sekretaris Jim ikut prihatin melihat keadaan Erik, selama ini dia berpura-pura tegar dihadapan semua orang padahal hatinya begitu rapuh.


Sekretaris Jim masih mematung dia tidak tega membangunkan Erik.


Dia kembali menutup pintu dan memutuskan untuk turun lagi kelantai satu.


"Bik Minah, Dimana Nona yang saya tolong semalam Bik?" Sekretaris Jim tiba-tiba teringat Nona muda berkacamata itu.


"Nona Sheyla, dia sedang menyiram bunga Tuan. Semalam dia makan dengan lahap, mungkin dia sedang lapar" Bik Minah tersenyum


"Baguslah Bik, dia ditinggal kakaknya. Dia juga tidak tahu jalan pulang karena baru pindah rumah" Jelas Erik.


"Ow jadi begitu Tuan. Kasihan sekali Sheyla" Raut wajah Bik Minah berubah. Dia ikut sedih mendengar cerita sekretaris Jim


"Tuan, bagaimana kalau dia bekerja saja dirumah ini?" Bik Minah memberi ide.


"Maksud Bibi? Menjadi pelayan?" Sekretaris Jim menatap Bik Minah serius.

__ADS_1


"Iya Tuan, setidaknya disini dia ada tempat tinggal dan tidak kekurangan makanan" Ucap Bik Minah.


"Benar juga Bik, saya juga kasihan melihatnya. Tapi tentu saya harus minta izin dulu sama tuan Muda"


"Saya yakin jika Tuan yang meminta, Tuan muda pasti mengizinkannya" Bik Minah antusias


"Baiklah Bik, nanti akan saya coba bicarakan dengan Tuan Muda" Sekretaris Jim melirik ketangga nampak Erik sudah berjalan menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi.


"Maaf membuatmu menunggu sekretaris Jim" Erik melirik jamnya.


"Tidak apa Tuan Muda, meting pagi ini sudah saya tunda" Ucap sekretaris Jim melempar senyum.


"Bik Minah pun memberi hormat pada Erik dan segera melanjutkan pekerjaannya.


"Terimakasih sekretaris Jim, kau memang bisa diandalkan" Erik lalu bergegas pergi keluar diikuti sekretaris Jim.


Erik berjalan dengan tergesah-gesah karena dia terlambat. Dia tidak sengaja menabrak El yang sedang bersih-bersih diluar.


"Ahhh" Erik spontan memegangi pinggul El.


Namun Erik sedikit merasa aneh karena tubuh gendut El begitu kenyal seperti berisi busa.


"Maaf kan saya Tuan" El terkesiap lalu menunduk ketakutan


"Nama saya sheyla Tuan, Saya wanita semalam yang menangis di pagar depan tuan" El bicara pelan sambil menyamarkan suaranya


"Tataplah lawan bicaramu kalau berbicara" Erik menantang El.


El mengangkat wajahnya pelan, mencoba menyatukan tatapan bola matanya dengan Erik


"Deg" Jantung Erik berdebar, tatapan itu sangat mirip dengan tatapan istrinya El.Tapi wanita ini memliki poni dan tompel dipipinya.


"Hmhm" Erik berusaha menguasai dirinya, walau jantungnya kini berdetak lebih cepat.


"Baiklah, saya akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat" Erik menatap El


"Apa itu Tuan?" El membetulkan kacamatanya.


"Kamu harus bersedia jadi pelayan dirumah ini" Erik bicara tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


"Baiklah Tuan" El setuju dengan permintaan Erik, karena dia juga tidak punya rumah untuk kembali. Dan siapa-siapa yang dia miliki saat ini.


"Ok, nanti kita lanjutkan lagi" Erik lalu bergegas diikuti sekretaris Jim dari belakang sambil melempar senyum kepada El. El pun membalas senyuman sekretaris Jim.


"Sekretaris Jim".


" Iya Tuan"


"Siapa nama gadis yang tadi?" Erik menatap sekretaris Jim dari spion dalam


"Sheyla Tuan"


"Dimana rumahnya? Kenapa dia tersesat?"


"Dia tidak ingat jalan pulang karena baru pindah Tuan"


"Oh ya, lalu apa kau sudah mencoba menghubungi keluarganya?" Erik penasaran


"Dia tidak ingat nomor keluarganya dan dia tidak memiliki HP" Jelas sektetaris Jim


"Ha, Tidak punya HP?" Erik terkejut.


" Saya juga terkejut kemaren Tuan, tapi sepertinya memang begitu adanya. Kemaren saya sempat berfikir dia wanita dari planet lain sejenis alien" Sekretaris Jim bicara serius.


"Hahahha" Alien, ya ya hanya seorang Alien yang seperti itu" Erik kembali tertawa. Itulah untuk pertama kali setelah kepergian istrinya Erik bisa tertawa lepas seperti itu.


"Sekretaris Jim, menurutku semua tentang Sheyla itu aneh. Mana ada zaman sekarang orang yang tidak memiliki HP dan tidak tahu jalan pulang. Lantas kenapa dia tersesat?" Erik bertanya lebih jauh.


"Dia bukan tersesat Tuan, dia ditinggal kakaknya" Ucap sekretaris Jim.


"Ha, ditinggal kakaknya? Aneh, kenapa seorang kakak tega meninggalkan adiknya seperti itu?" Erik terheran-heran.


" Sekretaris Jim, dia sudah setuju untuk menjadi pelayan di rumahku. Nanti beri kepala pelayan untuk menempatkan dia sebagai pelayan pribadiku" Erik tersenyum sambil melepas pandang keluar.


"Baik Tuan"


"Syukurlah aku tidak perlu memohon kepada Tuan muda lagi. Tapi kenapa kenapa Tuan muda begitu tertarik pada Sheyla bahkan menempatkannya sebagai pelayan pribadi" Bisik hati sekretaris Jim.


Mobil terus melaju menuju Axena Inc. Dalam Hati Erik tidak sabar ingin lebih mengetahui lagi tentang Sheyla. Mengingat semua keanehan Sheyla yang tidak masuk akal. Tapi rasa ini seperti dejafu, Erik seperti kembali lagi kepada rasa dimana dia tidak sabar waktu awal-awal serumah dengan El.

__ADS_1


"Sheyla Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya. Aku juga tidak yakin tubuhmu gendut, ada sesuatu yang kamu pakai untuk berkamuflase. Siapa kamu sebenarnya??? Untuk apa kakakmu meninggalkanmu dirumahku???. Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak Erik.


Bersambung🄰


__ADS_2