TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Pilihan


__ADS_3

Tidak.. Aku tidak bisa di tekan oleh siapapun. Tidak juga Toby.


"Aku tidak salah, pilihanku benar" Aku memberanikan diri membela diri meski suaraku tak sepenuhnya berpihak.


"Kejahatan Mama kamu, cepat atau lambat, dengan atau tanpaku pasti terungkap. Bukankah itu kenyataan , dia tidak akan dalam situasi sulit kalau dia bersih " Aku menjelaskan posisi yang memang tidak salah.


Toby masih diam seolah menunggu kalimat berikutnya, hanya saja tekanan tangannya menjadi lebih kuat.


"aku...." kataku terbata sejenak. Tentu saja ada rasa takut yang menjalar. Perbandingan tubuh kami tidak seimbang, jika mungkin rerjadi perkelahian.


Aku menaruk nafas cepat serta Manikku segera menuju pisau cukur yang belum berhenti berdesis di depanku


"Hanya ingin... keluarga yang aku mau" lanjutku tanpa mengalihkan pandangan "pernikahan kita maksudku"


Glek..sial kenapa Toby tak merespon apalagi bereaksi. Dia masih memaku seperti elang dengan cengkeraman yang masih sama.


Uhf Tuhan... Pleaase.. Bantu aku.


"Kamu dan aku serta anak kita, you got it? " aku tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirku lagi.


Kali ini satu sudut bibur Toby mulai terangkat.


"Tapi pengorbanan dari sisiku... " desisnya dengan suara beratnya.


"Tapi.. Memilih itu Hak ku" potongku cepat.


"Sandra... Setelah ini, lihatlah aku baik - baik"

__ADS_1


Aku memeras mataku sejenak dan membuka perlahan seiring jemari Toby yang sudah sampai di tenggorokan.


"Aku tidak membutuhkan jasamu, aku tidak membutuhkanmu..." Toby mendengus cepat kewajahku "Tapi kamu berbalas budi padaku, dan mulailah menyenangkan hatiku"


'Apa - apaan ini?' tanyaku dalam hati akan kemana arah ucapan Toby.


Toby meraih jemariku dan mulai memaksaku menggenggam alat cukur yang tak henti menyala sejak tadi.


Aku sungguh tak ingat kapan Toby mengisi baterainya, padahal aku berharap benda mendesis itu segera berhenti.


Toby mulai memandu tanganku ke depan wajahnya. "Jangan berkedip"


Glek...


Cegahnya ketika aku hampir mengerjap.


Perlahan alat cukur yang kami pegang perlahan menuju lebih ke kepala Toby dan dengan setahap demi setahap segera melibas rambutnya yang pekat


"Dan untuk mempertahankanmu, Mama mungkin mendekam dalam penjara, Papa mengalami krisis lkepercayaan dalam bisnisnya, dan Agency terancam akan menghentikan kontraknya denganku secara sepihak " ucapan Toby terus berlanjut.


Meski kini ada crystal bening yang mungkin membingkai manikku seirung pemandangan Toby yang mulai kehilanga rambutnya secara perlahan di hadapanku.


" Mungkin Mama pantas di hukum, tapi setidaknya tidak perlu publisitas berlebih, bila itu terjadi.."


Uhuk... Aku tersedak salivaku sendiri.


"Tidak akan ada yang lain selain aku dalam hidupmu, sekalipun kamu melangkah sejengkal saja dariku"

__ADS_1


"A... A.. Aku hanya melakukan yang kita rencanakan. Tidak lebih.. Tapi kalau Rizal mengincar keluargamu itu bukan salahku.. Aku sudah terus terang dari awal" kenapa aku masih membela diri dari Toby yang jelas sedang emosi.


Entah ada gunanya atau tidak,Tapi... Angin sudah berubah. Setidaknya aku sudah berusaha.


Perkataan Toby ada benarnya, bahwa memang Toby membayar mahal untukku. Dan tidak adil bila aku yang selalu setengah hati menjadi istrinya seperti dua detik lalu.


Ketika Toby membuka bathrobeku tanpa ragu, dan menunggu reaksiku, yang masih membeku.


"Beginilah... Kalau kamu mengambil dengan paksa Tob, ikhlas itu tidak pernah mudah" ingin aku membalas dengan ucapan itu. Tapi...


Bayangan Rizal yang nampak lebih tidak ramah, membuatku tetap bungkam. Setidaknya Toby tidak akan mencelakaiku, karena kasusnya dengan Billy Wang belym usai.


Uhf...


Aku mengusap embun mataku sendiri, dan berhenti menahan isak.


Ini hanya fase yang harusaku lewati.


"Lihatlah..!" Toby menyapu pandangannya padaku "Kamu masih bersikap seakan dirimu bukan untukku"


"Aku..." desisku lirih "Tidak tahu" Suaraku semakin melemah "Bagaimana cara memulai Tob" isakku pecah meski sedikit.


Bagaimanapun aku hanya wanita biasa, kalau di tekan terus begini. Aku juga takut bukan?


"Ccck..ckck.." Toby berdecih sejenak dan mengecup pipiku yang memerah karena rasa takut yang membekas. "Sungguhkah kamu tidak tahu? Atau memang sengaja..?"


" apakah aku kelihatan berbohong? " Aku memberanikan diri untuk sedikit mendorong tubuh Toby menjauh, namun tentu saja tubuh itu tidak bergeming.

__ADS_1


"Jadi.. Ahirnya tetap aku yang harus memulai?"


Aku hanya mampu mengangguk Sebelum pasrah akan apapun yang terjadi setelah ini, entah bodoh atau tertipu. Tapi sekali lagi aku tidak punya pilihan selain Toby.


__ADS_2