
Aku tidak peenah bersembunyi, setiap hari suaraku mengudara swlama satu jam pada pagi hari dan juga sore hari.
Alu juga tidak jarang naik kendaraan umum, memiliki social media dan kehidupan mormal lainnya. Tapi kenapa Rizal baru mengejarku saat ini? Dan mengacaukan kehidupan keluiarga Toby. Bukan keluargaku.
"Kita ke kantor Papa?" tanyaku yang mulai menyadati bahwa kami tidak dalam rite pulang
Toby hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan serius dengannya"
****
Toby menghapus riasannya setelah mengirim sederet pesan pada Albert.
"Kamu bisa menunggu di Lobby" Ucapan Toby lebih mirip seperti perintah.
Aku hanya mengangguk.
Senyum para pegawai kantor bergantian menyambut kami hingga kamintiba di lantai tujuh tempat kantor ayah Toby bersemayam.
"Kamu bisa datang kapan saja?"
"Aku sudah membuay janji dari semalam"
"Selamat pagi Pak Toby" sapa seorang pemuda yang berusia hampir seumur Toby "Bapak sudah menunggu"
Toby hanya mengangguk dan mempersilahkan aku duduk di deretan sofa yang tak jaih dari kami.
"Anda minum apa nyonya?"
"Apa saja" jawabku sekenanya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan juice?" Pemuda itu memandangi perutku yang memang mulai nampak.
"Air putih saja.." jawabku lagi yang tiba - tiba tidak berselera di antara cuaca yang panas.
Pemuda itu mangangguk dan segera beranjak kemejanya di depan ruangan Papa.
Dan tak lama berselang, seorang office girl sudah tiba dengan sebotol air mineral dan juga gelas kaca.
"Terimakasih"
Drrrt... Drrrt..
"Albert...???"
"Apa Toby bersamamu?"
"Bisa dikatakan begitu"
"Aku tidak mendapatkan yang dia mau.. Aku butuh berdiskusi dwngan segera bisakah kamu.."
Akuntidak ingin terlibat lebih dalam dengan urusan Toby yang lain. Tanpa bergikir aku segera berdiri dan memghampiri pintu ruang kantor Papa.
"Maaf ... Tangan pemuda itu segera menghalangiku"
"Apakah ini karena Papa?" Aku mendengar pekikan samar Toby dari dalam ruangan.
Aku menunjukkan handphoneku yang masih menyala bersama Albert yang menunggu di seberang sana.
Tapi pemuda itu tetap menggeleng dan mempersilahkanku untuk duduk kembali.
*****
__ADS_1
Toby dan Papa
" Bagaimana keadaan Sandra dan Cucuku"
Sambut Papa ketika Toby memasuki ruangan.
"Sehat.." Jawab Toby cepat dan tanpa ragu segera menghempaskan tubuhnya pada kursi berbalut kulit asli didepan meja kerja ayahnya.
"Aku langsung saja..." Toby mendengus sesaat "Ini soal Rizal Adilokso"
Papa Toby mengangguk dan mulai memperhatikan putranya dengan baik "Kamu tumbuh dengan baik ahir - ahir ini"
" Baru datang setelah sekian lama di lupakan, kekuasaannya tidak mungkin besar bukan? Apakah Papa terlibat?" Tanya Toby beruntun.
"Kamu tidak menanyqkan kabar Papa terlebih dahulu?"
"Papa nampak sehat dan pasti sehat, Andrew merawat Papa dengan baik"
"Seharusnya itu tugasmu, berada di sisi Papa dan merawat papa"
"Uhf.... Kita bahas masalah itu di pertemuan berikutnya tapi saat ini aku mau tahu soal Rizal"
"Dia juga mengusikku" Jawab Papa singkat. "Apakah kamu tidak mampir ke lantai dua? Ada team audit yang sedang berjalan"
"Semua perusahaan akan di audit Pa.." Toby mencoba mengarahkan kembali ke pada topik yanh jngin di ketahuinya "Rizal.. Bagaimana dia mendapatkan kekuasaannya?"
"Kenapa kamu tidak bertanya padamya secara langsung? Aku dengar dia mulai berinvestasi cukup besar pada Agencymu"
"Hmm... Benar! Tapi tentu saja dia tidak akan menunjukkan bagaimana cara memotong taringnya sendiri pada seseorang yang di anggap lawan"
"Kamu hanya Celebrity, memang kemampuan apa yang bisa membuatmu menjadi lawannya?"
__ADS_1
Toby tertegun sesaat...
"Jadi.." Kalimatnya menggantung dan mulai menata beberapa hal secara teratur " Apakah Ini karena Papa?