
Hari ini sesuai dengan rencana Miranda sebelumnya dia pun pergi menemui orang pintar diseberang sungai itu. Jarak antara rumahnya dan kontrakan mereka lumayan jauh, dan memakan waktu yang cukup lama. Setelah melewati beberapa pertanyaan dari adiknya, dia pun bisa melangkah dengan bebas. Dan Karena kepolosan adik palsunya itu, dia percaya apapun yang diucapkannya. Dia seperti benar-benar mempercayai Miranda menyayanginya. Tak ubahnya seperti anak TK yang mudah dibujuk dengan permen.
"Akhirnya Aku bisa pergi juga" Miranda menengok sebentar di arah rumahnya.
Untuk menuju seberang sungai Miranda harus pergi naik motor becak dan melanjutkan naik perahu.
Akhirnya sampai juga.
Miranda telah sampai di sebuah rumah kayu yang bersuasana sepi. Hening dan dingin begitulah suasana rumah itu. Disekeliling rumah itu agak sepi, hanya ada beberapa pohon kelapa dan dan pohon pisang.
"Tok tok" Miranda mengetuk pintu pelan.
"Iya sebentar" Suara wanita tua terdengar dari dalam. Perlahan pintu terbuka, tampak wanita tua yang mengunyah sirih dengan mulutnya kemerah-merahan.
"Masuklah" Ucapnya dengan wajah datar.
Miranda mulai merasa takut, namun dia tetap memberanikan diri.
Suasana rumahnya begitu mencekam,banyak benda-benda lama di rumah tersebut. Mulai dari keris dan kepala rusa yang telah diawetkan. Miranda Menelan ludah dia berusaha menatap wanita tua itu.
"Begini Mba" El menelan ludah berusaha memikirkan kata-kata yang harus dia keluarkan.
"Tidak usah kamu jelaskan,saya sudah tahu. Bahkan saya sudah memprediksi kedatanganmu. hehehe" Dia tertawa sambil memegang sirih di tangannya.
Bulu roma Miranda berdiri
"Benarkah dia sudah tahu berarti nenek ini benar-benar sakti" Bisik hati Miranda.
"Hahaha" Nenek itu tertawa.
"Jangan ragukan kesaktian saya" Wanita tua itu seakan bisa mendengar suara hati Miranda.
"Apakah kamu benar-benar membencinya? Apakah kami sudah memikirkannya dengan matang?" Nenek itu menatap Miranda tajam membuat Miranda menelan ludah.
"Iya Mba" Ucap Miranda takut-takut.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar" wanita tua itu lalu mengeluarkan botol bening kecil dari dalam saku bajunya.
"Ini adalah racun pemati syaraf. Berikan setetes air yang ada di botol ini kedalam gelasnya setiap pagi. Ketika cairan di botol ini habis, dia akan mati besok tepat pada jam dua belas siang" Kata wanita tua itu sambil menyerahkan botol itu.
"Terimakasih Mba" Miranda menerima botol kecil itu dengan hati berdebar.
"Tapi, ada satu syarat yang harus kau lakukan agar racun itu manjur" Ucapnya sambil mengusapkan sirih ke giginya yang memerah.
"Apa itu Mba?" Miranda penasaran.
"Berbuat baiklah kepadanya setiap hari, anggaplah dia benar-benar adikmu yang sesungguhnya. Karena racun ini hanya bekerja pada orang yang bahagia.
" Baiklah mba" Miranda menatap botol itu lalu memasukkan botol ke dalam tas.
"Oh ya, jangan langgar pantangannya. Jadi kau tidak boleh membuat dia bersedih apalagi sampai dia menangis. Teruslah bersikap baik padanya, sampai dia benar-benar telah pergi untuk selamanya. Wanita tua itu lanjut mengoleskan sirih itu ke giginya, dan meludahkan cairan merah dari mulutnya.
" Baiklah mba, Mba, Ini ada sedikit untuk Mba" Ucap Miranda sambil meletakkan sebuah amplop disana
"Letakkan di atas peti itu, hehehe" wanita tua itu tertawa.
"Baiklah Mba, saya permisi dulu ya Mba" Miranda pamit dan mengundurkan diri.
Dia segera pamit meninggalkan rumah kayu itu dengan cepat.
Wanita tua itu melihat Miranda dari kejauhan, perlahan senyuman muncul dari bibirnya.
"Dasar gadis jahat, tapi bodoh hahaha" Wanita tua itu tertawa dalam hati. Miranda cepat-cepat pergi hari sudah mulai agak petang. Dia melihat sebuah perahu yang sudah berisi beberapa penumpang di sana. Miranda pun segera bergabung dengan penumpang itu.
***
Sesampainya dirumah Miranda segera menghampiri El.
"Sheila apa kau sudah makan? Oenni buatkan makan malam ya" Miranda tersenyum
"Oh ya, Terimakasih Oenni" Seperti biasa El akan bergelantungan di lehernya.
__ADS_1
"Aku harus baik, ya aku harus baik padanya" Ucap Miranda dalam hatinya.
El menatap Miranda dengan tatapan hangat. Dia sangat bersyukur memiliki kakak sebaik Miranda.
"Sudah malam, waktunya untuk tidur" ucap Miranda. El segera bergabung ke ranjang, dia memeluk Miranda
"Oenni, terimakasih telah menjagaku selama ini" Ujar El dengan mata berkaca-kaca.
"Hey, jangan bilang begitu. Kau adikku satu-satunya. Bagaimana mungkin aku tidak menjagamu" Miranda menatap El hangat
"Dulu Oenni pernah lalai menjagamu, sehingga kau tertabrak mobil waktu menyebrang jalan. Maafkan Oenni ya?"
"Oh ya Oenni, jadi bekas di kakiku adalah bekas kecelakaan?" El ingin tahu
"Iya, itu adalah bekas operasi, tapi untunglah kau segera sehat. Kalau tidak Oenni lah yang merasa paling bersalah seumur hidup" Miranda berkata meyakinkan.
"Oenni jangan berkata begitu, aku beruntung memiliki Oenni. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini" El menahan haru.
"Sudahlah, jangan bersedih begitu. Mama dan Papa selalu berpesan kepada Oenni agar selalu membuatmu bahagia dan tidak boleh membuatmu bersedih.
El sangat tersentuh dengan kata-kata Miranda sampai dia memeluk sambil meneteskan air mata. Semenjak dia sadar memang Miranda lah yang selalu berada di sisinya. Dan yang dia tahu Miranda kakak yang sangat menyayanginya.
"Sudah malam, mari kita tidur. Besok Oenni akan pergi bekerja jadi harus bangun pagi-pagi" Miranda mengambang selimut dan bersiap-siap untuk tidur.
"Apa Oenni tidak capek bekerja?" El menatap Miranda
"Tidak semua untuk kita, untuk kau dan Oenni" Miranda menatap El yang juga telah berbaring disampingnya.
"Terimakasih Oenni" El lagi-lagi berterimakasih, dia memeluk Miranda hangat. Sehangat hatinya menyayangi kakak palsunya itu.
Mereka kemudian tidur bersama dalam satu selimut yang hangat.
Meski dalam hati Miranda agar merasa risih, namun dia harus tetap bersikap baik pada El. Semua demi memuluskan rencananya. Dia ingat perkataan wanita tua itu. Kini dia hanya perlu bersabar sebentar saja untuk menyingkirkan El. Dia tidak sabar menunggu pagi, tidak sabar memasukkan racun itu ke minuman El. "Abang Miranda akan membalaskan dendam abang. Kita hanya perlu bersabar sedikit saja" Miranda menatap wajah El yang tertidur, menatapnya dengan tatapan sinis.
"El tunggulah hari dimana kau tidak bisa menghirup udara lagi, tidak bisa tersenyum ceria lagi. Dan tentunya kau tidak bisa bergelantungan lagi kepadaku. Maaf El kau harus membayar mahal atas kesombongan suamimu. Itu cara yang paling ampuh untuk menyakitinya. Aku tahu dia sangat mencintaimu. Bukankah kehilangan orang yang sangat kita cintai itu sangat menyakitkan? Aku ingin Erik merasakan itu, kepahitan yang tiada tara. hahaha" Miranda tertawa dalam hatinya, Dia seperti memegang kartu As Erik. Kartu As yang akan membuka kekalahannya.
__ADS_1
bersambung