
"Janji hari ini hanya dengan Nona Sandra" Edward berusaha menfilter tamu Papa Toby, bahkan dari anaknya sendiri.
"Aku tidak masuk, Sandra juga tidak"
"its ok..." sahutku yang tidak ingin memicu konflik.
"Kamu tidak mengenal Papa" Potong Toby "Tidak ada pembicaraan sederhana ketika letaknya di Kantor"
Karena itu rumah kalian terkesan damai dan tenang. Karena semua masalah akan terjadi di sini.
Apakah masalah Papa juga terjadi karena ambisi bodoh Rizal yang tidak jelas?
"Tapi..." Edward masih berusaha melakukan tugasnya dengan benar.
Tanpa sabar, Toby segera mengetuk pintu ruangan ayahnya.
"Masuk...!" Suara Berat Papa Toby segera menyambut seakan sudah tidak sabar menungguku.
Tanpa menunggu, Toby segera meneribos masuk dengan genggamannya yang semakin erat padaku.
"Maaf... Tuan Toby memaksa"
Kali ini pertama kalinya aku melihat Papa dengan wajah kurang nyaman. Mungkin bisa di bilang, marah.
"Jadi.. Ini?" Toby membuka maskernya "Cara anda menemui istri saya Tuan Adilokso?"
Ha..?? . Tuan Adilokso?
__ADS_1
Manikku segera menebar bebas ke set sofa classic yang ada di siai kanan ruangan.
Seorang pria dengan usia yang tidak begitu jauh dari Papa sedang duduk tenang dengan sebuah buku di tangan dan Cofee di depannya.
" Apa kabar Toby, lama tidak berjumpa" sapanya dengan senyum yang nampak cukup bijak. "Senang melihatmu nampak cukup sehat"
"Ini juga berkat doa Anda.. Namun saya belum tahu apakah saya senang bertemu dengan anda Om"
Om..?? Berarti Toby cukup dekat dengan Beliau?.
"Duduk lah...!!" pinta Papa yanh langsung memandu kami untuk duduk pada Area yang sama dengan Tuan Adilokso.
"Apa ini wanitanya? " Tuan Adilokso menyapukan pandangannya padaku dan tentu terhenti pada perut buncitku.
"Benar.." Sambut Papa tenang. "Kalian minum apa?"
"Langsung aja Pa... Aku sibuk" Sahut Toby yang malas berbasa basi.
" Tidak tanpa Sandra.."
"So... Kamu yang ikut aturan kami"
Aku masih bingung harus bersikap bagaimana pada percakapan yang tak terduga ini.
"Sudahlah... Mari kita mengalah dengan yang muda" Tuqn Adilokso menutup bukunya dan mulai menyesap lagi kopinya yang hanya tunggal setengah.
"Saya hanya ingin tahu, kenapa kamu belum memenuhi keinginan Rizal? Apa ada masalah?"
__ADS_1
Yang benar saja, apa aku tidak salah dengar?
" Sebelum lebih lanjut, mungkin anda tidak kami undang dalam pernikahan kami. Namun kami sungguh menikah dan sedang menantikan buah hati kami "Aku melempar pandang pada Toby yang tjdak menampakkan keberatan sama sekali dalam expresinya. Dia hanya membeku.
" Dari pernyataan saya tadi... Apakah anda punya pertanyaan lain? "Aku melanjutkan.
" Apakah karena saham sebesar 3% yang Toby janjikan usai kamu melahirkan menjadi penghalang perpisahan kalian? " Lanjutnya.
Oh... Saham itu.. Aku sudah sulit mengingatnya bahwa tawaran itu pernah ada.
" Radio tempatmu bekerja bernaung dalam salah satu perusahaanku, Toby membeli beberapa peraen sahamnya untukmu " Jelas Papa Toby tentang kebingunganku.
" Rupanya kalian berdua cukup detail memiliki information tentang kami" Aku menunduk sejenak, berharap Toby yang tadinya seakan meledak - ledak akan segera membantuku menangani kedua pria tua yang penuh kuasa di hadapan kami.
"Sandra..." Tuan Adilokso kembali ke posiai semula dan menyilangkan kakinya "Semua manusia memiliki siai egoisnya" lanjutnya setenang sebelumnya.
"Apabila aku memberikan lebih dari yang kamu dapat, apakah kamu bersedia menyelesaikan kekacauan ini?" Lanjutnya.
"Kekacauan???"
Kedua pria tua itu saling melempar pandang.
"Pilih saja cara dan angka yang kamu suka, aku akan menyetujuinya" Tuan Adilokso mulai menumpuk kedua tangannya dengan expresi menunggu.
"Kalian berencana membahas ini tanpa aku? Aku suaminya" Ahirnya suara Toby ikut muncul.
"Jangan konyol Toby, pemilik agencymu telah menjual cerita sesungguhnya tentang pernikahan kalian pada kami. Ketika seseorang butuh uang, kadang keluarga juga harus di korbankan" Papa menjawab dengan dingin. Sekan bukan Papa yang aku kenal.
__ADS_1
"Apalagi yang hanya sebatas hubungan kerja seperti kamu dan Yoga" Lanjut Papa tanpa memindahkan maniknya dariku.
"Pa...???" Toby nampak sangat kecewa.