TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Hamil


__ADS_3

Aku menarik nafasku dalam dalam dan menghembuskannya perlahan, dwntingan piano menggema dari arah ruang tengah. Jemari Toby pasti sedang menari indah di sana saat ini. Tentu saja dia lebih merindukan music dari pada isyrinya yang adalah Aku.


Ups... Bukankah aku ini hanya isyri yang berfungsi meyelamatkan karirnya? Bukan istri normal di berbagai rumah tangga pada umumnya.


"Uhhhhffff...." Aku m3mbuang nafas perlahan.


"Yoga..??!!"


Yang baru terlintas kini muncul, aku perlahan membuka mata menoleh ke arah suara otu berasal.


"Kamu nampak baik - baik saja, fan lebih segar?" Sapaku tanpa senyum.


"Aku berostirahat cukup baik" Toby memambil duduk dan bersila di sampingku.


"Kamu tidak merindukanku? "


Pertanyaan yang sama ingin aku lontarkan, Namim ingatan periatiwa di rumah Billy berhasil mengurungkan niatku yang konyol.


"Yang jelas aku senang kamu kembalj dalam keadaan utuh" Jawabku seraya mulai mencoba berdiri dengan memegang perut besarku.


"Kamu marah padaku?" Tanya Toby sebelum aku mencoba meningalkan ruangan.


"Aku bahkan tidak tahu apakah aku layak m3marahimu, Tob... Apakah kita seakarab itu?"


Toby berdiri dengan cepat dan mencengkeram pangkal lenganku.


Oh God... Sepertinya aku memicu emosinya.


"Bayi itu milikku dan kamu istriku, siapapun jua tahu kalau kita itu sangat dekat"

__ADS_1


"Kamu lupa kata seharusnya dalam kalimatmu.." Aku meralat kalimat Toby "Seharusnya kita itu sangat dekat"


Kami saling memandang "Tapi kenyataan tidak... Bahkan aku tidak tahu bahwa jadwal transplantasi jantungmu sama dengan hari perkiraan lahir anal kita"


"Seharusnya anak kita lahir lebih awal, kalau saja kamu tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi"


"well... Aku memang istrimu, tapi bukan berarti aku kehilangan hak atas tubuhku sendiri" Aku memejamkan mataku sejenak, memginat sekilas perjalanan Toby yang sering tidak sopan menjamahku "setidaknya... Seharusnya begitu.."


Toby melonggarkan genggamannya, jemarinya kini beralih ke perutku yang nampaknya mulai bergerak.


"Aku ingin bertemu anakku..."


Ah iya.. "Pastikan itu terjadi, aku tidak berbakat mengurus warisanmu yang banyak secara mendadak dan mengingat aku yang menganggur dalam waktu cukup lama. Aku tidak punya cukup uang untuk membayar pajaknya"


Toby memukul ringan pipiku.


Emosi Toby rupanya mulai stabil.


"Sudah aku bilang, akuntidak yakin kalau kita dekat" Alu menepis tangan Toby dan segera melangkah meninggalkannya.


Tiba... Tiba..


"Kriiiiing...!!" Ringtone sialan itu menambah penuh isi otakku.


"Bisakah kamu memgganti Ringtone sialan i.."


"Nora...??" pekik Toby.


Aku segera memghampiri Toby yanh baru saja menuebutkan nama temanku.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyaku segera penuh penasaran.


Toby menatap ke arahku dan bertanya "Kamu tahu dimana Nora tinggal?"


Aku berdecih sesaat.. "Untuk apa Albert mencari Nora?"


"Ah.. NO.." Toby menggeleng cepat "Dia men3mukan Nora pinsan"


"Ha...???"


"Bisakah kamu menghubungi keluarganya untuk ke rumah sakit"


Aku mengeleng pelan


"Nora itu ya.. Tim piatu"


******


Di rumah sakit..


"Jadi bagaimana keadaan Nora dok.." Tanya Albert cepat begitu dokter kembali menemuinya yang masih mendampingi Nora yang masih belum sadarkan diri.


"ibu. Nora baik - baik saja, hanya mungkin ke lelahan"


"Suukurlah..!!" Timpal Albert yang mulai merasa lega. Dan aegwra memalingkan wajahnya menatap nora yang masih menutuo mata "


." Dan selamat.. Anda akan segera menjadi ayah"


"ya... Bagus" response Albert sekenanya, tapi... "A.. Yah..??" kepala Albert berputar cepat kembali menatap kevarah dokter yang madih berdiri tegak dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


__ADS_2