TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Kehilangan yang memilukan


__ADS_3

Erik menatap layar Hp dengan senyum, beberapa hari ini sikap El menjadi sangat baik dan lembut. Tapi Erik tidak tahu persis apakah itu cinta atau tanda terimakasih saja. Entahlah.


"Zzzz" Hp Erik bergetar


Sebuah panggilan masuk dari El


"Hallo El"


"Hallo Rik, lagi apa?"


"Ini lagi membaca skripsi mahasiswa"


"Pulang jam berapa?"


"Sebentar lagi, kenapa? kangen ya?"


"Eh enggak dasar Gr"


Erik terkekeh


"Gini Aku mau keluar bentar ya"


"Kamu mau kemana El?"


"Ada pertemuan dengan beberapa rekan aku Rik, kebetulan aku masuk nominasi bintang Iklan terfavorit"


"Wow, selamat ya?"


"Jadi gimana aku boleh pergi?'


" Kamu pergi sama siapa?"


" Sendiri"


"Kalau sendiri nggak boleh, pergilah bersama Lela"


"Ok, baiklah. Jadi kapan aku boleh bawa mobil sendiri?"


"Nggak ada cerita kamu jadi pembalap lagi. Entar kamu masuk RS lagi".


" Ya sudah, baiklah"


El mematikan Telpon, menghela nafas panjang. Entah kenapa sekarang dia tidak mampu lagi melawan Erik.


***


Erik telah sampai dirumah, dia melihat kamar yang kosong karena El belum pulang.Dia benamkan dirinya kekasur untuk melepas penat seharian bekerja. Erik turun ke halaman belakang, disini ada kolam renang dan taman. Suasana sangat nyaman tampak mamanya sedang menikmati secangkir teh hangat.


"Eh Erik, udah pulang ya?" Buk Mellya tersenyum sambil menyeruput teh.


"Iya Ma, Papa Mana Ma? Apa masih di kantor?"


"Papa mu pergi sama Sekretaris Jim. Katanya mau pergi memancing, Papa udah lama pengen pergi memancing tapi karena kesibukan jadi Papa baru sempat pergi tadi pagi"


"Sama siapa aja Papa pergi Ma? Kenapa Papa nggak ajak Erik Ma?"


"Papa tidak mau mengganggu. Mungkin kamu lagi sibuk"


"Oh ya Rik. El belum pulang?"


"Belum Ma"


"Katanya ada pertemuan dengan rekan kerjanya. Karena El masuk nominasi Model tervavorit Ma".

__ADS_1


"Wah hebat donk Rik, Istri kamu memang cantik dan berbakat ya"


"Oh ya Ngomong-ngomong apa kalian udah?"


"Udah Apa Ma?" Erik menyeruput teh


"Udah bikin momongan untuk Mama"?


" Uhuk uhuk" Erik tersedak


"Mama sudah tahu pasti belum kan?"


"Darimana Mama tahu" Erik berlagak bego


"El yang bilang"


"Memang iya Sih Ma. Habisnya El kayaknya masih takut Ma. Mungkin dia belum siap"


"Bukannya kalian saling cinta?"


"Iya sih Ma. Tapi El katanya takut Ma" Erik berbohong


"Heheh lucu juga ya. Ya udah kamu yang sabar aja"


Erik terkekeh mendengar perkataan mamanya.


"Iya Ma"


"Rik, kamu janji kan akan memberi momongan untuk Mama" Mama menatap Erik dengan penuh harap.


"Iya Mama sayang, Erik janji Ma. Siapa juga yang nggak mau punya anak Ma. Hanya saja Erik akan menunggu sampai El benar-benar siap"


"Baiklah kalau begitu sayang. Kamu anak mama satu-satunya. Mama tentu sangat berharap cucu untuk penerus keluarga kita"


"Maksud kamu?" Mama jadi bingung dengan perkataan Erik


"Nggak Ma. Maksud Erik jikalau Erik punya anak dafi El tentu ikatan kami semakin kuat" Erik menjelaskan.


"Iya tentu sayang" Mama tersenyum menatap anak semata wayangnya.


"Zzzz Zzzz" Hp Mama bergetar.


"Hallo"


"Ya Jim, Apa?" Mama kaget bukan kepalang seperti tersambar petir.


"Jim, kamu bohong kan? Kamu nggak serius kan?" Mama seperti tidak percaya dengan kabar yang diberikan oleh Jimi


"Ada apa Ma?" Erik ikut khawatir melihat reaksi Mamanya.


"Papa kamu Rik hiks hiks" Buk Mellya terisak seperti tidak mampu membendung tangisannya.


"Papa kenapa Ma?" Erik setengah berteriak.


"Papa kamu terjatuh kelaut Rik. Dan Sekretaris Jim tidak berhasil menemukan Papa" Mama berkata sambil berurai air mata.


"Apa Ma?" Erik terkejut bukan kepalang mendengar perkataan Mama. Dia pun bergegas pergi tanpa berkata apapun


***


Di sebuah dermaga ditepi pantai, semilir angin berhembus suasana begitu tenang tidak nampak tanda badai ataupun cuaca buruk.


El juga telah hadir disana bersama Lela. Tim SARS telah turun ditambah beberapa kapal yang diturunkan sekretaris Jim. Beberapa orang terlihat masih memantau di dermaga dan menunggu kabar dari Tim penyelamat.

__ADS_1


Erik tergopoh-gopoh menghampiri sekretaris Jim yang hanya menunduk kelihatan merasa bersalah.


"Maaf tuan Muda"


Erik mengepalkan tangannya dan segera mendaratkan tinju di wajah sekretaris Kim. Hingga membuat tubuhnya terhuyung. Rasa panas menjalar di hidungnya. Perlahan cairan bewarna merah sudah mengalir dari hidungnya. Tapi dia berusaha untuk berdiri lagi tanpa perlawanan. Baginya mungkin ini sudah pantas dia dapatkan.


Tak puas dengan rasanya. Erik juga memukul beberapa anak buah papanya yang ikut. Erik membabi buta dan hilang kendali. Namun tak seorang pun berani melawannya.


"Udah Erik cukup" hanya El yang berteriak-teriak menyaksikan kebrutalan Erik. Namun Erik tak menghiraukan dia malah makin manjadi-jadi.


Tanpa pikir panjang El memeluk Erik dari belakang.


"Sudah Rik, cukup hiks hiks" Dia menangis melihat Erik seperti itu. Dia pasti merasa sangat kecewa dan hancur.Erik pribadi yang ramah dia tidak pernah manyakiti siapapun dengan perkataan ataupun perbuatannya.


" Dia pasti sangat terpuruk sekali sekarang" Pikir El.


"Erik cukup" El terus berteriak tapi Erik tak hirau.


El lalau berdiri di depan Erik barulah dia berhenti.


Air mata sudah bercucuran di wajahnya begitu pun dengan El yang ikut merasakan kehancurannya.


Erik mengepalkan tangan lagi


El segera memeluk Erik dan mencium bibirnya


"Cup"


Semua itu terjadi dengan refleks.. Mereka berciuman dengan air mata yang saling bercucuran. Tidak peduli lagi dengan banyaknya pasamf mata yang memperhatikan mereka. Mungkin hanya itu yang dapat mencegah Erik.


Erik kaget dengan kelakuan El. Ciuman itu terasa hangat bahkan sampai ke hatinya. Betapa dia juga tidak ingin melepaskan dan tidak mempedulikan orang-orang yang sedang menatap mereka.


Mereka hanyut dalam ciuman yang hangat.


El melepaskan ciumannya dan memeluk Erik dengan Erat.


"Sudah jangan begitu lagi. Tenangkan dirimu dulu" Ucap El lalu menghapus air mata di pipi Erik.


"Lela kamu pulang naik taksi saja. Aku ingin pergi sebentar dengan Tuan Erik" El menatap Lela yang terpaku


"Baik Nyonya"


El menarik Erik kedalam mobil dan mulai menyetir mobil.


"Aku tahi kamu terpukul, ini memang sulit. Semua ini berasa mimpi. Tapi please kendalikan diri kamu Rik" El menatap Erik sekilas. Dia masih terpaku dan terpukul.


Air matanya kembali bercucuran dia berusaha menahan isak tangis yang perlahan mencuat juga.


El memarkirkan mobil di sebuah taman.


"Ayo kita turun" Erik menurut saja dengan apa yang dikatakan El.


Air mata kembali bercucuran di pipinya, Isak tangis yang ditahan mulai mencuat juga.


"Menangislah jika itu membuatmu tenang"


El memeluk Erik. Perlahan dia sudah merebahkan kepalanya ke pangkuan El. Seakan tubuhnya ikut berkata tidak mampu lagi menanggung beban seberat itu.


El mengelus kepala Erik perlahan. Saat ini Erik sangat butuh dukungan untuk kepulihan hatinya.


Siapa yang tidak akan terluka, siapa yang tidak akan terpukul kehilangan orang terkasih.


Dia pun terus menangis di pangkuan El. Seperti anak kecil di kelonan ibunya. Tidak peduli sekitarnya semua sudah teramat menyakitkan baginya. Dia hanya merasa hatinya teriris, pilu dan cairan hangat yang tak berhenti mengucur dari matanya.

__ADS_1


__ADS_2