TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Menghapus rasa dendam


__ADS_3

Hari demi hari berlalu Miranda mulai memasukkan setetes racun setiap pagi kedalam minuman. sampai racun itu hampir habis.


Pagi sudah menyapa dua saudara palsu itu, pagi ini Miranda akan memasukkan racun lagi namun dia mulai enggan melakukannya. Dia menatap El yang sedang menyapu, ada perasaan lain di hatinya yang tidak bisa dia jelaskan.


Tiba-tiba Miranda merasa pusing dia memutuskan ke kamar.


"Oenni, Oenni tidak apa?" El menatap Miranda khawatir.


"Tidak apa dik" Miranda meyakinkan dirinya baik-baik saja. El meraba kening Miranda.


"Oenni, Badan Oenni panas. Kalau begitu Oenni istirahat saja ya. Hari ini tidak usah pergi bekerja" El mulai mengompres kening Miranda.


"Dik tidak apa Oenni baik-baik saja" Miranda menolak.


"Tidak Oenni, Badan Oenni panas" El kemudian memijat kaki dsn tangan Miranda. El begitu perhatian kepada Miranda, perhatian yang selama ini tidak pernah Miranda dapatkan dari seorang saudara perempuan.


"Oenni, aku ambilin makanan dulu ya" El lalu berlalu kedapur meninggalkan Miranda yang terus memperhatikannya.


Miranda melihat persediaan makanan mereka, memang tidak ada apa-apa yang bisa dia masak. Ini sudah akhir bulan, persediaan makanan mereka pun habis dan Miranda belum gajian.


"Duh, makanan sudah habis mana Oenni sedang sakit lagi" Bisik hati El


El kembali mengecek lemari dapur dia berharap menemukan sesuatu yang bisa dia suguhkan pada Miranda. Namun El hanya menemukan sepotong roti di dalam plastik. El mengambil roti itu dengan hati bersedih, lalu dia membuat segelas teh manis.


"Oenni" El tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihan dari wajahnya.

__ADS_1


"Oenni makan dan minumlah teh ini" El menyuguhkan roti dan teh tadi


"Dik, apa hanya ini makanan terakhir kita?" Miranda menatap sepotong roti di piring itu


"Tadi ada dua potong kak, Aku sudah memakannya satu potong jadi ini bagian kakak" El berbohong.


"Dik kenapa kamu berbohong?" Miranda ingat betul roti itu hanya tinggal sepotong.


"Ayo dimakan kak" El membantu Miranda untuk minum dan memakan roti yang telah dibuang kulitnya itu.


"Terimakasih dik" Miranda terharu, matanya berkaca-kaca. El lalu memeluk Miranda


"Oenni, Oenni adalah satu-satu keluarga yang aku miliki. Aku sangat menyayangi Oenni. Jika Oenni kenapa-kenapa Aku tidak tahu harus apa. Aku terlalu takut menapaki dunia ini sendiri, bagaimana bisa Aku hidup di dunia ini sendirian sedangkan Aku lupa siapa Aku" El menangis, Miranda pun ikut berkaca-kaca mendengar perkataan El. Ternyata adik palsunya itu memang sangat menyayanginya.


"Kakak istirahat dulu ya" El menyelimuti Miranda dan berlalu pergi. Miranda menatap punggung El yang berlalu dengan rasa bersalah. Dia menatap tubuh El yang berbungkus baju murah yang selalu dia suguhi racun.


Dia bangkit dan menyusul El keluar, alangkah terkejutnya Miranda melihat El tengah memakan kulit roti. Pantas tadi rotinya tidak ada kulit, ternyata El telah menyisihkan kulit roti itu di saku bajunya dan memakannya dengan segelas air putih. El memang sudah lapar dari tadi, tapi baginya kesehatan Oenni adalah yang utama. Seketika air mata Miranda langsung luruh,


" Adik maafkan Oennimu dik, kamu rela hanya menikmati kulit roti untuk Oennimu yang jahat ini" Miranda hendak meminta maaf dan mengakui semuanya tapi dia tidak punya keberanian untuk itu. Dia pun memutuskan untuk kembali tidur diranjangnya.


"Ya Tuhan, maafkanlah Aku betapa jahatnya Aku tuhan. Dendam telah membutakan mata dan hatiku. Tuhan, bagaimana Aku akan menebus kesalahanku. Racun itu pasti akan segera membunuhnya. Apa yang harus Aku lakukan, bagaimana Aku akan menyelamatkannya. Aku tidak ingin kehilangannya Tuhan, Aku ingin dia menjadi Adikku untuk selamanya. Menjadi Adik yang Aku sayangi setulus hatiku,seperti tulusnya dia menyayangiku" Hati Miranda di penuhi rasa penyesalan,bahkan selalu bertambah kadarnya.


Tak lama El kembali lagi ke kamar untuk melihat kondisi Miranda.


"Adik, Oenni ingin pergi bekerja" Ucap Miranda

__ADS_1


"Tidak Oenni, Oenni istirahat saja ya. Biar Aku yang bekerja untuk Oenni" El bersemangat.


"Tapi kamu mau bekerja apa dik?" Miranda heran


"Oenni Aku bisa mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya kepasar" Ucap El.


"Tidak dik, tidak boleh Oenni tidak mengizinkan. Di hutan itu ada ular. Oenni tidak mau kamu kenapa-napa" Itu yang pertama kalinya Miranda khawatir dengan tulus.


"Oenni"


"Adik jangan keras kepala, temani saja Oenni disini ya please" Miranda memohon


"Baiklah Oenni" El selalu menemani Miranda sampai akhirnya dia tertidur di pinggir ranjang.


"El, maafkan Aku. Aku lah wanita jahat yang membuat hidupmu menderita. El maafkan Aku yang dendam pada suamimu, hingga kau lah yanv harus membayarnya" Miranda membelai rambut El. Hatinya sangat gelisah dia teringat kembali dengan racun yang dia berikan pada El tiap pagi.


"Bagaimana kalau El kalau benar-benar mati besok" Miranda khawatir, sekarang dia malah tidak ingin kehilangan El. Ya dia-dia benar-benar telah menyayanginya. Ketulusan El telah mengubah perasaan bencinya menjadi cinta. Miranda berfikir keras bagaimana dia akan menyelamatkan El.


"Apakah Aku harus menemui wanita tua itu lagi, untuk meminta penawarnya?" Pikir Miranda.


"Ya, Aku harus pergi besok sebelum semuanya terlambat. Dipandangi lagi El, air matanya mulai jatuh bercucuran.


" El maafkanlah Aku" Bisiknya pilu


Dia ingat El yang selalu memeluknya dan selalu bergelantungan padanya. Setiap hari mereka bersama, bahkan tidur dan makan pun bersama. Miranda merasa El benar-benar telah menjadi saudara perempuannya.

__ADS_1


"Abang maafkan Miranda yang tidak bisa membalaskan dendam kita. Miranda menyerah bang, Miranda tidak ingin hidup dalam dendam lagi. Miranda pun telah capek berpura-pura, Miranda tidak ingin memakai topeng lagi. Sudah cukup semua ini. Miranda menyesal telah jahat sama El. Dia tidak pernah salah apa-apa sama Miranda. Semua memang salah Miranda, dan abang masuk penjara, semua memanglah kesalahan abang yang hendak memperkosanya. Miranda juga tidak mengerti mengapa kita jadi hancur seperti ini. Mungkin ini balasan yang harus kita terima, mungkin Tuhan telah marah kepada kita bang. Maafkan Miranda,Miranda tidak bisa memenuhi janji Miranda kepada Abang" Bisik hati Miranda, dia teringat Diego abangnya yang kini dipenjara. Sejahat-jahatnya Diego, tapi dia tetap abang Miranda, dan dia sangat menyayangi Diego. Sejak kematian kedua orang tua Miranda. Miranda memang tinggal bersama Diego, hanya saja ketik Miranda sudah mulai bekerja di perusaan Erik dengan gaji yang besar dia memutuskan untuk tinggal terpisah dari Diego. Dia tidak ingin menyusahkan abangnya lagi, Miranda gadis yang mandiri dan baik. Tapi dendamlah yang mengubahnya selama ini, dendam yang akan dia hapus dari hatinya. Ternyata dendam itu menyiksanya, dan membuat dia sakit.


bersambung


__ADS_2