TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Alasan


__ADS_3

"Jorge berpacaran dengan Nora, dan itu serius jadi jangan ungkit lagi antara perasaanku yang lampau"


Meski berbohong bukan hal yang benar. Dengan semua emosiku yang sudah terkuras, ini adalah satu satunya halnyang terbersit untuk membuatbToby tenang.


Sisanya aku urus selanjutnya...


******


Aku kembali ke ruang tamu dimana Tia masih berdiri tegak dan Kaku.


"Ikut Aku..." Aku segera mengisyaratkan Tia untuk naik ke lantai dua.


Namun aku sempatkan melirik Toby yang mulai melangkah dengan emosi yang mengganjal di ruang tengah.


**


"Beri tahu aku apa yang terjadi?" Tanyaku begitu kamu memasuki ruang Gym Toby.


Tia menatapku ragu, kemudian wajahnya menyapu rata ke arah koridor di luar ruangan.


"Tenang aja, Toby nggak akan nguping"


"Ehm... Itu.."


Aku melipat tanganku dan memilih menunggu Tia melontarkan ceritanya tanpa desakan.


" Bapak saya kecelakaan... Satu jam sebelum acara"


Aku menghela nafas "Semoga bapakmu lekas pulih, sekarang bagaimana keadaannya?"tanyaku baik - baik. Tapi...


Justru isakan yang keluar..


" Lho... Apakah kecelakaannya parah? "


Tia menggeleng cepat.


" Apakah saya bisa berhenti saja? "


Mataku langsung membulat." Kita bahkan belum mulai, dan... Aku belum merekomendasikanmu pada Toby. Mengingat belum ada langkah yang berarti"


"Tapi... Saya nggak bisa" Suara Tia terhenti sejenak dan berubah lebih lirih "Pak Rizal nggak main - main"


"Rizal...?" Kenapa nama itu muncul lagi di Telinga ku. "Apa hubungannya..."


"Kali ini hanya kecelakaan ringan, lain kali pasti tidak akan lebih ringan"

__ADS_1


Jawabab Tia membuatku terperangah dan tidak menyangka. Atas dasar apa Rizal memgancam Tia.


" Tia....kamu punya obrolan dengan Rizal tanpa sepengetahuan saya?"


"Dia cuma telphon... Saya nggakntahu karena nomor asing" Suara Tia makim lirih dengab wajah kembali mengarah pada pemandangan koridor yang nampak dari jendela.


"Kamu takut jiga dengan Toby?" Tebakku dengan mata terp3jam dan berharap aku juga sedang mengajukan resign saat ini. Resign dari pertuarungan konyol dua lelaki yang tidak jelas ujungnya.


Tia mengangguk saat wajahnya kembali bertemu denganku.


Aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. "Istirahatlah dulu sampai semua mereda, kota bicarakan lagi nanti"


"Tapi..."


"Rizal nggak akan tahu kamu sudah berhenti atau tidak. Perjanjian kerja kita tidak dapat dia akses seperti dia mngakses peejanjian kontrakku dengan Agency" aku menghembus nafas ke udara.


"Sebaiknya kamu pulang..."


"Apakah tidak ingin tahu keinginan pak Rizal?"


Aku menggeleng, dengan senyum tipis melangkah meninggalkan Tia.


Bukankah keinginan Rizal sudah jelas untukku? Dia hanya ingin aku bercerai dari Toby secepat mungkin meski....


Aku mengelus perutku....


******


Toby duduk di salah satu sudit sofa dengan sebotol wine dan gelas cryatal yang menemaninya.


Segelas... Dua gelas.. Terisi selama perjalananku melnagkah ke arahnya. Toby meminumnya dwngan cepat tidak seperti biasa. Apakah kegalauan hanya bisa dinredam dengan alcohol?


Ckckkckc... Aku menempatka telapak tanganku di atas gelasnya usai isinya telahbtandas habia.


"Cukup..."


"Aku tidak mabuk Sandra.."


"Justru itu, aku tidakningin kamu minum sampai mabuk" Aku meraih botol wine di tangan lainnya. Dan meletakkan di sisiku. "Hari ini cukup..." aku mendengus lelah.


"Aku mau suamiku sadar... Dan berfikir jernih"


"Aku tidal gila..." Potong Toby yang mulai menghempaskan tubuhnya pada samdaran sofa.


" bukan cuma kegilaan yang aku maksud..." aku tidak tahu harus berkata apa saat ini.

__ADS_1


Aku juga sedih resah, marah dan kadang ingin menyerah. Tapi ada hal lain yang membuatku harus bertahan bukan?


"Bagaimana kalau kita menjenguk ibumu sebelum kamu pergi?" entah kenapa justru itubyang muncul.


Toby langsunh bangkit "Besok?"


"Pagi sekali"


"Hah... Kamu pikir wartawan tidak akan melihatku? Dan meeka akan membuat asumsi yang lebih liar lagi"


"Apakah kamu sunghuh pemenang aktor terbaik?"


"Maksudmu?"


"Kalau kamu memerankan yang itu itu saja, pasti pekerjaan yang mudah buat aktor yang lain juga. Kenapa kamu tidak mulai mencoba karakter yang benar benar menghilangkan jati dirimu seutuhnya. Hingga wartawan tidak mengenalimu"


Toby mengerutkan keningnya... "Kamu punya ide apa?" wajah Toby mendekat padaku "Tubuh tinggiku yang di atas rata rata sudah jelas akan mudah di tebak"


"Aku hanya memberi saran... Pikirkan jalan keluarnya..." Aku segera menutup hidungku dari bau wine yang menyengat "Aku hanya berfikir untuk mengetahui versi Rizal dari sudut pandang Mama" kali ini suara ku lirih.


Toby mundur perlahan... "Kamu tidak berniat mundur kan? Kalau kenyataannya mengerikan? Karena aku jelas tidak"


"Bukan... Hanya saja, seperti yang kita tahu bahwa dia cuma anak simpanan. Meski semua anak harusnya di perlakukan sama, tapi nyatanya Ayah Rizal tidak begitu. Seingatku pak Adilokso tidak pernah menjenguknya dulu"


"Jelas ibunya pasti ingin anaknya dapat bagian bukan, perebutan keluarga konglomerat itu cukup rumit"


"Tapi pasti ada alasan yang bisa kira temukan untuk memperkecil kekuatan Rizal bukan..? Dia sepertinya hanya sibuk mengurusiku dari Pada bekerja. Itu aneh"


Toby menarik kerahku dan mendaratkan ciumannya begitu saja.. "Hei....!!" Keluhku yang segera mengelap bibirku usai kami terpisah.


"Ternyata kamu cukup pintar..." Toby mengusap ujung kepalaku.


"sssh..." aku menepis tangannya " jangan pegang - pegang.. Aku mau tidur" aku segera berdiri dari dudukku.


"Yakin kamu tidak mau aku ikut demganmu? Besok malam aku sudah tidak di sini dalam beberapa waktu"


"Yakin... Salah sendiri kamu minum alcohol" aku segera m3langkah meninggalkan Toby tapi..


Jemari Toby m3nvcengkeram ujung jariku kuat.. "Yakin???"


"Masih ada besok pagi bukan?" jawabku ketika mata kami bertemu. " Dan.. Jangan dekat dekat denganku malam ini, tidak hanya untuk sekedar numpang tidur.. Tidurlah di kamarmu sendiri" Aku memghempas tangan Toby hingga lepas.


"Kalau galak tambah cantik.." Toby menepuk pantatku.


Sorry... Tob.. Meski aku berminat, tapi itu tidak menggoyqhkan prinsipku.

__ADS_1


"Sorry.. Rayuan kamu gagal" cibirku s3belum meninggalkan Toby sendiri yang mulai m3nghabiskan sisa wine di botolnya.


__ADS_2