
"Aw sakit sayang" El meringis
"Tahanlah sebentar" Erik melanjutkan mengompres bibir El yang pecah.
"Untuk sementara kamu makan bubur saja" Erik menatap El dengan penuh kekhawatiran.
Lihat tangannya, Erik menatap tangan El yang lecet.
"Dasar berandalan, teganya dia nyiksa kamu seperti ini. Kenapa kemaren tidak aku patahkan saja tangannya" Erik mulai emosi mengingat kejadian kemaren. Erik lanjut mengompres luka di tangan El.
"Sayang, Maafin aku ya" El bergumam pelan.
Erik menatap El sebentar lalu duduk di samping El
"El sebenarnya kenapa kamu ingin pergi dari rumah? Apa kamu tidak bahagia menjadi istriku?" Raut wajah Erik menjadi sedih
"Deg" Jantung El berdebar ditikam perkataan Erik
"Nggak Sayang, kamu jangan bilang seperti itu. Aku bahagia kok jadi istri kamu" El menatap Erik serius.
"Lalu kenapa kamu pergi El? Apa kamu merasa terkekang dengan cintaku?" Erik menatap El matanya berkaca-kaca.
"El, kalau kamu tak bahagia Aku takkan menahanmu disini pergilah El. Aku tak mau kau terpasung cintaku" Erik berdiri dan hendak meninggalkan El.
El berlari memeluk Erik dari belakang.
"Nggak Sayang, kumohon jangan buang aku dari hidupmu. Aku Sayang kamu Maafin Aku, Aku tahu Aku salah hiks hiks" El menangis lagi, begitu juga Erik air matanya sudah menetes di pipinya.
"Maafin Aku sayang, Aku mohon Aku akan lakuin apa saja yang kamu mau. Tapi jangan tinggalin Aku" El memohon.
"El untuk sekarang, Aku belum bisa memberikan maafku. Tapi Aku akan tetap memperhatikan dan merawatmu sampai lukamu sembuh. Setelah itu pilihan ada di tanganmu. Pilihlah jalan yang membuatmu bahagia, tinggalkan Aku jika hanya membuatmu tersiksa" Erik tidak percaya dengan ucapannya sendiri, jauh dilubuk hatinya dia tidak sanggup kehilangan El. Tapi seperti saran sekretaris Jim dia harus sedikit angkuh untuk menaklukkan El.
El tersungkur dia memeluk kedua kaki Erik yang hendak melangkah keluar kamar.
"Sayang, jangan tinggalin Aku. Aku mohon hiks hiks" El terisak.
"Sial, kenapa Aku jadi lemah begini. Kenapa Aku tidak tega melihat El seperti ini. Aku ingin memeluknya dan segera memaafkannya. Tapi, tunggu Aku ingin melihat usahanya dulu" Hati Erik berkecamuk sendiri.
"El, jangan seperti ini. Berdirilah"
"Nggak Mau"
"El, berdiri"
El berdiri dengan air mata yang berlinang.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku sendiri, tetaplah tidur di kamar. Jangan tidur dikamar tamu"
"El, bukannya kalau ngambek, kamu juga tidur di kamar tamu?" Erik mendekatkan wajahnya pada El.
"Cup" Satu kecupan mendarat di pipi Erik.
"Ya kan nggak jadi karena mati lampu" El manyum seperti anak kecil yang tidak di kasih permen.
"Duh, kenapa dia malah buat aku makin gemes. Ternyata sok cool itu menyiksa" pikir Erik
"Baiklah kalai begitu" Erik balik badan dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
"Erik duduk diranjang memainkan HPnya" Sementara El telah keluar dari kamar mandi mengganti bajunya dengan baju haram yang menggoda .
Baju transparan itu bewarna hitam, bagian dadanya rendah sehingga menonjolkan bagian dada El. Celananya juga teramat pendek, memperlihatkan paha El yang putih mulus.
El segera duduk di samping Erik, dan melingkarkan tangan di pinggang suaminya. Tapi Erik hanya diam dia seakan tidak peduli.
"Jadi, kamu belum tergoda ya Sayang? Ok kita lihat nanti" El menatap Erik dengan tatapan genit.
Jarinya yang lentik mengelus-ngelus dada bidang Erik membuat Erik semakin panas saja.
"Hmhm" Erik mencoba menjauh tapi El malah menindihnya dengan sebelah kakinya.
"Sayang" El memanggil Erik dengan manja dan mulai menciumi bibirnya. Tapi Erik masih bertahan dia tidak membalas meski dia ingin.
"Sial, kenapa Erik tidak tertarik. Apa dia benar-benar ingin membuangku?" El merasa makin tertantang. Dia menciumi pipi kening, mata bibir dan leher Erik membuat hasratnya menjerit.
El menciptakan beberapa noda di bagian dada dab leher Erik. persis seperti apa yang dilakukan Erik padanya.
"El, kenapa kamu siksa Aku seperti ini?" Hati Erik meronta.
El makin agresif sekarang dia telah berada diatas Erik dengan tatapan dan senyuman tipisnya dia membius Erik malam itu. Tapi kali ini dia yang lebih agresif, tapi Erik merasa bahagia dia merasakan sensasi yang berbeda. Setelah selesai dengan permainannya El merasa sangat lelah dan tertidur. Erik menatapnya dengan senyum tipis.
"Kamu mulai nakal ya sekarang" Erik menciumi kening El dan menutup tubuh polosnya dengan selimut. Ternyata sekretaris Jim benar, kali ini El yang lebih greget kepadanya. Sebenarnya dia sudah memaafkan El, tapi dia masih ingin melihat usaha El. Dia menikmati setiap pengakuan El sebagai cinta yang tulus dari istrinya itu.
"El Sayang, semakin hari kau semakin pandai membuatku mencintaimu" Bisik hati Erik.
***
Pagi-pagi sekali Erik memanggil semua pelayan tanpa terkecuali.
"Kalian semua tahu dimana Nona El kemaren?"
Hening tidak ada yang menjawab
__ADS_1
"Kenapa bisa istriku kabur, untuk apa kalian yang sebanyak ini ha?" Para pelayan terkejut, mereka hanya mampu diam dan menelan ludah. Selama ini Tuan Muda tidak pernah marah, mereka tau Tuan Muda bukan tipe yang emosian.
"Kalian tahu kemaren nyawa istriku hampir saja terancam" Mata Erik mulai berkaca-kaca
"Aku tidak bisa mentolerir kesalahan kalian semua. Mulai hari ini kalian semua saya pecat!"
Para pelayan hanya mampu diam dan tertunduk
"Sayang" El berlari memeluk Erik
"Jangan pecat mereka Sayang, mereka telah bekerja dengan baik. Aku yang salah, hukum saja Aku ya. Kasihan mereka Sayang" El memohon
Erik menghela nafas dalam
"Kalau kamu pecat mereka Aku akan merasa bersalah seumur hidupku" El merengek
Erik menatap mata El
"Beraninya kamu membela orang lain? Hukuman kamu aja belum selesai. Kamu punya nyawa berapa?" Erik kesal
"Sayang, please"
"Ok, demi istri saya kalian tidak jadi saya pecat Lain kali bekerjalah yang benar!"
"Terimakasih Tuan" Para pelayan terasa lega, mereka bisa mengambil nafas dalam setelah tadi tertahan karena ketakutan.
"Maafkan Saya, karena saya kalian semua kena marah"
Para pelayan terkejut melihat luka dibibir El dan lecet di kaki tangannya. Mereka merasa bersalah melihat kondisi Nona El seperti itu.
"Sayang" El mengekor Erik ke meja makan. Beberapa bekas merah masih menempel di leher Erik membuat sekretaris Jim terkekeh
Sepertinya Tuan Muda mulai berhasil pikirnya.
"Sayang, tunggu sebentar" El hendak menempelkan plester ke leher El.
"Nggak usah El, kenapa kamu harus menyembunyikan kenakalanmu" Erik bicara sambil mengunyah roti.
"Tapi sayang, apa kamu tidak malu nanti bakalan dilihat orang" El menggerutu
"Kenapa harus malu, ini kan tato buatan istriku. Kalau perlu nanti bakal aku umumkan di kantor. Kalau ini hasil karya istriku" Erik menunjuk-nunjuk bekas merah dilehernya. Sekretaris Jim hampir tidak bisa menahan tawanya karena kegelian.
"Apa?" Wajah El mendadak memerah menahan malu.
bersambung
__ADS_1