TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Hadir


__ADS_3

" Aku cuma minta jatah Sand.. "


" Hah...?? " Ada ya..orang minta jatah tapi mengkritik lebih dulu.


" Dasar nggak peka.. "


Kapan Toby bisa sadar bahwa dia adalah yang paling aneh di antara kami.


" Tapi jangan kurang ajar.. Atau.. "


Toby menarik daguku dengan cepat" Kapan aku butuh bersikap sopan dalam urusan ini, dan aku rasa kamu cukup menyukai.. Caraku "


Aku b3nci Toby menyadari kelemahanku yang ini. Bahwa aku mulai sering terpikat dengan sisi antagonisntnya dalam sisi intim di antara kami.


" haruskah aku mengingatkan bahwa aku sedang hamil? " kali ini suaraku sedikit mereda.


Toby mengelus perutku sesaat.


" Well Compromise "


*****


Tob.. ..?"


Toby mengencangkan cengkeramannya dan menautkan bibirnya padaku. Tapi konsentrasiku jatuh pada hal yang berbeda.


Perutku serasa mulas...menusuk hingga ke jantung.


" Tob....!


"Sand...!


Kami saling memanggil bersamaan...


Bersamaan dengan..


Ketubanku pecah.


Toby mengangkat tubuhku dengan segera. Seketika tidak ada lagi hal lain di antara kami.


Kepalaku serasa mulai pening menahan rasa mulas yang luar biasa.


" Is it the time?"

__ADS_1


Pake nanya lagi.... Tapi tak ada kalimat yang aku sanggup ucapkan. Hanya sorot mataku yang semakin menajam.


"Ah iya.." Toby segera beranjak. Dan mengangkat gagang telpon kamar kami. Yang segera membuat empat oelayang segera menghambur membantuku.


Tanpa menunggu supir Toby segera menekan gas. Dan meluncur ke arah rumah sakit.


Hanya kurang dari satu jam kami telah tiba. Seperti biasa toby mendaratkanku oada layanan VVIP. Aku tidak perlu menunggu atau menganti bahkan mengisi data. Wajah Toby yang cukuo di kenal langsung menjadi Free pass buat kami.


Penangananpun cukup cepat dan tanggap. Dalam hitungan menit aku sudah di ruang bersalin, berjuang untuk menghadirkan buah hati ku dan Toby.


Bagaimanapun keadaan dan cara bayi ini hadir dalam dunia ini. Dia tetap adalah anak kami, anugrah Tuhan yang diberikan pada kami. Suka atau tidak Suka. Terpaksa atau rela, bahkan sekalipun ini adalah hasil dari jebakan Toby padaku demi karirnya.


"Tob...!!" Aku memanggil nama Toby berharap dia tetap di sampingku meski beberapa waktu lalu aku sempat sangat berharap dia enyah.


Tapi tidak sekarang, aku ingin Toby di sampingku. Membantuku memanen tenaga untuk menghadirkan bayi kami ke dunia.


"Nafas.. Sand... Huh.. Huh.."


Dan sepertinya Toby menjamin itu.


Toby coba memanduku untuk mengatur nafasku dan berusaha mendorong.


"Bagus... Bagus.. Ayo terus.." Lanjut Dokter yang menanganiku.


Kata kuat dari mulut Toby mematik emosiku. Dengan refflek aku segera mmindahkan jariku pada rambutnya yang baru tumbuh kurang dari lima centi.


"Kuaaat...??? ." pekikku sambil meringis.. Menahan sakit di tubuhku juga sakit hatiku pada toby yang mulai kembali "Katamu.."


Memang kamu siapa? Bisa tahu aku kuat atau tidak? Aku membatin dalam hati.


"Dorong.. Sand.." Wajah Tobypun ikut meringis dengan sorot mata kebingungan dengan sikapku.


"Aaaah..." aku mendorong dan menjerit sekuat tenaga.


Dan....


"oaaa......!!!!" suara tangis yang nyaring segera memecah ketegangan.


Semua mulut di ruangan itu mengucap syukur secara serempak. Termasuk aku dan Toby


Aku menangis segera.


Maafkan ibu nak... Kamu harus lahir di antara keluarga yang rumit.

__ADS_1


*****


"Bayinya sehat dan lengkap,... Dia begitu cantik"


Aku mengintip wajah suci yang sedang menggeliat dengan tangis yang masih berkumandang.


Oh God...


Bayi ini sungguh milik Toby, sepasang mata itu yang menatapku tajam denga kedip perlahan, sama sekali tidak berbeda denga ayahnya.


Aku kehabisan tenaga meski hanya ingin mengucapkan anakku.


Kecupan Toby mendarat di atas dahiku.


"Anak kita lahir sweet heart" Senyum Toby sungguh lebar.. Sangat lebar, belum pernah aku melihatnya sebahagia ini.


Aku memutup mataku perlahan dan....


******


Albert menatap Nora yang mulai sadar.


" bisakah kamu menghubungi ayah dari anakmu, untuk menemanimu?" Tanyanya tanpa basa basi dan menunggu.


Dengan kepala yang masih sedikit pening, Nora memicingkan matanya. Mencoba memastikan siapa lelaki yang sedang duduk di tepi ranjangnya.


"Ah kamu... Pergilah..! Ini bukan urusanmu"


"Benar...! Tapi rumah sakit akan menggangguku, karena mereka masih mengira aku suamimu"


Nora kembali menatap Albert, kali ini sorot matanya jadi terkejut.


"Jadi selesaikan masalah ini, sebagai balas budimu padaku karena aku telah membantumu"


"Semudah itu?"


Albert mengangguk cepat. Jemarinya langsung merogoh handbag mahal Nora dan mengeluarkan ponsel wanita itu dengan segera.


Taoi Nora segera menggeleng. "Dia tidak akan langsung datang"


Albert mengernyitkan dahinya "Dia m3ncampakkanmu karena hamil"


"Lebih buruk.. Karena aku susah di campakkan bahkan sebelum dimulai" Nora kembali membwnamkan kepalanya.

__ADS_1


"pergilah... Aku akan megatasinya sendiri, aku oastikan rumah sakit tidak menganggumu"


__ADS_2