TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Sakit


__ADS_3

El bersiap hendak pergi keluar mencari angin,dia turun dan memesan taksi.


"Maaf Nona, anda mau pergi kemana?" Lela menghadang langkah El.


"Saya mau pergi pemotretan Lela, memangnya kenapa Ya?"


"Maaf Nona, Saya harus pastikan dulu Tuan Muda memberikan izin anda untuk keluar rumah".


" Ya sudah kalau begitu" El mengeluarkan ponsel pura-pura menelpon Erik.


"Ok, terimakasih ya Sayang" El tersenyum tipis


"Sudah" Dia menatap Lela.


Lela tersenyum tipis dan mengeluarkan HPnya.


"Tuan Muda, Nona Muda ingin keluar rumah" Lela rupanya seorang yang pintar


El jadi gugup.


"Ok baiklah tuan". Lela menutup telponnya


" Maaf Nona, tuan Muda tidak memberi izin anda pergi. Tuan Muda berpesan dia akan pulang sebentar lagi. Jadi dia yang akan mengantar anda Nona" Ucap Lela sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu"


El balik kanan, naik lagi menuju kamarnya.


El menceburkan diri ke kasur


"Sejak kapan pula ada aturan seperti itu" Gerutu El


"Tok tok tok"


"Ya masuk"


"Nona El, maaf kami mengganggu kami membawakan buah dan beberapa cemilan kesukaan Nona" Ucap pelayan tersenyum dan segera menaruh apa yang mereka bawa di meja.


"Oh baiklah bik, Terimakasih ya" El tersenyum hangat.


"Iya sama-sama Nona" Ternyata Nona Ek seorang yang ramah " Bisik Bik Minah dalam hati


El mulai mengunyah beberapa potong buah sambil menatap sekeliling kamar dia bosan berada di situ rasanya dia ingin keluar rumah.


"Erik kenapa sih Lu pakai larang-larang gue keluar segala" Gerutu El sambil memikirkan sesuatu.


El tiba-tiba merasa punggungnya nyeri dan merasa badannya agak panas


Dia memutuskan untuk tidur.


***


Sesampainya di rumah Erik bergegas menuju kamar. Dia ingin mengajak El keluar, dia paham El mungkin bosan di rumah terus.Dia lihat El yang sudah tertidur


Erik mengganti bajunya dengan baju tidur sambil memandangi El dari kaca.


"Rik, kamu sudah pulang" El tiba-tiba memanggil Erik dengan suara serak. membuat Erik terheran-heran.


"Kamu kenapa El?" Erik mendekat dan memegang kening El.


"Kamu panas El" Erik terlihat panik


"Aku panggilin dokter ya" Erik menawarkan


El menggeleng, dan memegang tangan Erik


"Dingin" El meringis


"Kamu kedinginan?" Erik menyelimuti tubuh El.


"Peluk" El merengek manja


Membuat Erik tak percaya dengan apa yang didengarnya


"Erik" El merajuk


"Iya El" Erik tidur disamping El dan memeluknya


"Kamu demam, aku panggilin dokter ya? Bujuk Erik


" Ntar aja" El mempererat pelukannya


Ternyata kalau sedang sakit El akan manja seperti itu.


"Ada yang sakit?" Erik memperhatikan El


El mengangguk

__ADS_1


"Dimana?"


"Dipunggung"


"Boleh aku lihat?"


El memperhatikan Erik sebentar.


"Ok baiklah"


Erik menyibakkan baju El, memperlihatkan punggung El yang putih bersih. Tampak ada sesuatu yang memerah disana


"Ini yang nyeri?" Erik berkata sambil meraba bagian yang merah


"Iya" El meringis.


"Sepertinya bisulan, apa kamu salah makan?"


"Iya, mungkin karena kemaren-kemaren aku ada makan udang" El mengingat


"Besok-besok jangan makan udang lagi ya" Erik mengingatkan


Erik mengeluarkan ponselnya, segera mencari nomor Rehan dokter keluarga Erik


Dokter keluarga segera datang dan memeriksa keadaan El, rupanya punggung El ditumbuhi bisul karena alergi makanan.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


Erik terlihat khawatir


"Tidak apa-apa Tuan Muda, Istri anda hanya alergi makanan. Nanti saya beri obat penurun panas dan salep nya"


"Syukurlah,Terimakasih Dokter"


"Sama-sama Tuan" Dokter pun berlalu


"El kamu minum obat dulu ya" Erik membantu meminum obat.


Habis ini pasang salepnya ya


El manggangguk


"Sini pasang salepnya"


Erik menatap punggung El yang putih mulus. Baru kali ini El terlihat pasrah saja karena dia sedang sakit. Erik lalu masangkan salep ke punggung El


"Tahan bentar ya" Erik memasangkan salep perlahan


"Sudah"


El bersiap untuk istirahat


El tiduran sambil memegang tangan Erik, Disaat sakit seperti itu dia menjadi manja.


Dia tertidur dan terus memegang tangan Erik.


Erik membelai rambut El dan menemaninya tidur.


Saat ini hubungan mereka sudah membaik dan jarang ada kajahilan. Namun tetap saja Erik belum menuntut kewajiban apa-apa.


El menatap El yang tertidur pulas. Erik meraba kening El merasakan suhu tubuh El


Sebenarnya ada hal penting yang harus diselesaikan Erik sekarang. Namun dia lebih memilih menemani El yang sedang sakit.


"Dingin" El merasa dingin


"Kamu kedinginan lagi" Erik segera memeluk El


El membenamkan wajahnya di dada Erik dan memeluk Erik erat.


Mungkin tak ada kata yang akan mereka jelaskan, yang jelas El merasa sangat nyaman entah mungkin Erik satu-satunya sosok tempat dia mengadu sekarang karena memang jauh dari orang tuanya. Begitupun Erik dia merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk membuat El merasa nyaman.


El menatap mata El yang terpejam, wajahnya yang sendu membuat Erik semakin betah memandangnya berlama-lama. El Terus saja tidur memeluk Erik karena saat ini dia hanya bisa tidur miring. Saat El tertidur Erik kembali ke kampus untuk menghadiri rapat.


El mengucek matanya, dia merasa kehilangan sesuatu di sampingnya. Rupanya Erik sudah pergi ke kampus. El mengucek matanya berusaha meraih HP di nakas dan menelpon Erik


"Zzzz Zzz "


Hp Erik bergetar


Beberapa kali HP bergetar tapi Erik tak kunjung mengangkat telponnya.Karena sedang rapat. El memanyunkan bibirnya kenapa kali ini dia kesal Erik tak kunjung mengangkat telponnya.


Dia memutuskan untuk berbaring di ranjang, dia malas keluar kamar atau hanya sekedar mencari angin.


Selang beberapa lama Erik telah sampai dirumah, dia segera menanyakan informasi kepada pelayan.


"Dari tadi Nona El tidak turun tuan"

__ADS_1


"Baiklah,terimakasih" Erik segera menghampiri El ke kamar.


"Apa demamnya semakin parah" gumamnya dalam hati.


Erik mengetuk pintu kamar, namun tidak ada jawaban dari El.


"El bukak pintunya" El yang kesal membiarkan saja Erik diluar.


"El, kamu nggak kenapa-napa kan?"


Erik semakin cemas saja dengan keadaan El.


"El, bukak pintunya donk" Masih diam


"Erik memanggil pelayan untuk membawakan kunci serep.


" Maaf tuan sepertinya ada kunci menggantung di dalam jadi kunci serepnya tidak mau masuk" Jelas pelayan itu.


"Baiklah biar saya dobrak saja pintunya".


" Biar saya yang melakukannya tuan"


"Tidak usah biar saya saja".Erik khawatir El mungkin pakai pakaian terbuka dia tidak ingin pelayan melihat El dengan keadaan seperti itu.


" Brak" Erik berhasil membuka pintunya.


Dia punggung El yang sedang tidur.


"El, Kamu nggak apa-apa kan?" Erik terlihat khawatir


El hanya diam tanpa kata, tanpa sadar bulir bening sudah mengalir di pipinya.


"El kamu nanngis" Erik maraba kening El yang panas.


"Kita kerumah sakit ya" Erik mendekati El.


El menggeleng


"Ayolah El, jangan kayak anak kecil dong. Kamu sedang sakit nanti sakitnya tambah parah"


"Memang kamu peduli, bukankah mengangkat telpon aku saja kamu tidak bisa" El menjawab ketus


"Telpon?" Erik segera mencari HP dalan tasnya.


3 Panggilan tak terjawab dari El


"Aduh maaf ya El, aku tadi sedang rapat"


"Aku tahu pekerjaanmu lebih penting"


"Bukan gitu El, aku nggak tahu kamu nelpon" Erik menjelaskan namun El tetap ngambek.


Erik mengusap rambut El dan menciumi keningnya


"Maafkan aku ya El, Maaf" Erik berkata lembut sambil menghapus air mata El.


"Kita ke rumah sakit ya!"


"Nggak mau" El tetap keras kepala


"Bukannya dokter sudah memeriksaku, sama saj seperti rumah sakit.


"Beda El, dirumah sakit fasilitasnya lebih lengkap"


"Nggak mau pokoknya nggak"


Tidak mau berdebat lagi Erik mengangkat tubuh El secara paksa. El berteriak-teriak sementara Erik terus saja menggendong tubuhnya tanpa mempedulikannya. Dia melewati tangga melewati pelayan dan orang tuanya yang sedang duduk di ruang tamu. Orang tuanya hanya menggeleng saja melihat tingkah El dan Erik. El dan Erik telah masuk mobil dan bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di lobi Erik ingin menggendong El kembali tapi El tidak mau karena malu dilihat orang.


"Bisa jalan sendiri" Dia berjalan sambil menggerutu membuat Erik terkekeh.


Akhirnya El dirawat dirumah sakit, setelah minum obat dia tidur di ranjang sambil membelakangi Erik


"Masih ngambek" Erii menciumi pipi El


"Cup"


membuat jantungnya berdegub


"Jangan ngambek lagi ya" Tapi El masih manyun


Erik menggenggam dan menciumi jemari El. Tak lana El sudah tertidur karena pengaruh obat.


Erik memandangi wajah El, entah kenapa kalau lagi ngambek cantiknya beda.


"Maafkan aku ya Sayang, aku janji aku bakalan temenin kamu disini" Kata-kata itu terucap dari mulut Erik sambil membelai rambut istrinya yang sedang tertidur.


bersambung❤❤❤

__ADS_1


💕


__ADS_2