
"Tentu saja!" Jawab Papa masih tanpa menoleh "Selain jantungnya, dia juga memiliki gangguan neuron" Papa tertawa kering "Karena itu dia perlu sering mencengkerammu. Mungkin juga dalam urusan intim kalian"
"Ow..." Aku reflek memegang rahangku yang masih memiliki bekas memar. Usai activitas kami yang rerahir.
Uhf..... Akupun mengantarkan kepergian Papa dengan nafas yang menghembus bebas ke udara.
Seakan aku juga bertanya, apakah aku akan sebebas udara itu, tanpa Toby, namun memiliki harta berlimpah dan putri kami?.
******
Pertanyaan iru masih bergaung hingga saat ini, dan seolah perlahan pudar oleh dentingan piano Toby yang mulai mengalun dari ruang tengah.
Yup....
Dia sedang memainkan irama dari lagu duet kami "nothing wrong" . Sejenak aku khawatir lantunan nada itu akan mengusik Andhira, putri kami. Tapi sepertinya ke khawatiranku tidak terjadi. Justru kenangan bagaimana lagu itu dibuat kembali teringkas singkat dalam pikiranku.
Aku mulai berjingkat perlahan menghampiri di mana Toby masih terjaga dengan jemarinya yang menari perlahan di atas tuts - tuts piano.
Sepasang maniknya yang tajam segera menangkap kehadiranku.
"Belum tidur?" tanyanya tanpa memghentikan jemarinya.
__ADS_1
Aku memilih hanya memasang senyum dan melangkah mendekat serta mengambil dusuk pada bangku panjangnya. Entah hanya perasaanku, suasana serasa dingin saat itu.
"Kenapa kamu belum istirahat, kesehatanmu penting?" Tanyaku lirih dengan manik yang l3bih tertuju pada j3mari Toby yang tak henti m3nari.
"Aku harus membuay lagu baru segera"
Huh... "Apakah itu penting?" di otak Toby hanya ada karirnya saja.
" Bagian terahir harus yang paling bagus" Toby mulai merubah musiknya. Nada - nada baru mulai muncul dari tarian jemarinya.
Aku berasumsi itu adalah musik naru yang akan di kerjakannya. Masih sangat mentah, bahkan mungkin belum ada liriknya.
"Tapi kesehatanmu juga penting"
Kami saling memandang dalam ruang yang memang temaram.
"Mungkin kamu sanggup menanggung sebagai mantan istri seorang Celebrity yang plagiat. Bahkan itu mungkin akan menjadi alasan sempurna untuk kamu memilih bercerai" Uacapan toby di luar perkiraanku, tapi masuk akal.
Kali ini wajah Toby mengarah pada tempatku muncul beberapa saat lalu.
"Tapi... Apakah Andhira sanggup menjadi putri seorang plagiat dan mungkin juga nepotism atau cucu dari Diva yqng berahir di penkara karena kejahatan ekonomi?"
__ADS_1
Wajah Toby kembali tertunduk menatap tuts - tuts piano yang nampak hening.
"Aku yakin dia tidak kekurangan harta, atai cinta darimu dan dariku. Tapi.. Buatku" Toby memulai beberapa nada " semua itu terlalu kejam, bila aku mewariskan sangsi sosialku padanya"
Deg...
Seperti ayahku..
Aku pernah di puji menjadi putra seorang dokter yang cukup andal dan popular. Namun aku juga pada ahirnya tidak bisa masuk pendidikan kedokteran karena reputasi ayahku yang di ahiri dengan buruk.
Semua kasus medisnya sebenarnya selalu berhasil, bahkan tidak ada yang gagal. Hanya karena dia ternyata alcoholism, serta terdeteksi mengkosumsi alcohol saat bekerja. Dan bila apa yang di katakan Papa Toby benar. Itu yang terburuk.
Aku di hukum, karena kesalahan ayahku, dan begitu pula ibu, yang ahirnya berahir hanya bolak - balik rumah sakit serta merawat ayah yang kesehatannya selalu bermasalah.
Aku mengerjap padaa Toby yang sudah tidak melihat ke arahku. Kata - katanya tidak salah, bahkan baru kali ini aku mencerna bahwa Toby adalah orang yang cukup peduli.
"Mau bernyanyi?"
Aku tertawa kecil "Suara tudak bagus tanpa autotune"
"Aku tidak memintamu menyanyi dengan bagus" Sambut Toby yang kini mulai memainkan intro lagu kami. "Lagi pula aku guru vocalmu, aku sudah melihat yang terburuk"
__ADS_1
Aku tetap menggeleng, aku lebih suka melihat suamiku masih bernafas ketika aku bangun. Aku berdiri mengulurkan tamganku ke arah Toby.
"Tidur... Inspirasi besok mungkin lebih indah"