
Dalam hitungan detik, jemari jorge dengan cekatan telah menguasai tubub nora. Gaun hitam canrik itupun kini telah berpindah jafi hiasan di lantai granit putih.
Ini yang kamu mau bukan? Bisik Jorge. Dengan deru nafas yang menggebu.
"Jorge.. Ini" Nora Sebenarnya masih ingin menyangkal.. Namun...kenyataannya memang benar. Hari ini Nora ingin membuat Jorge menyesal mengacuhkan perempuan camtik bertubuh indah sepertinya.
Tapi dia tidak menyangka bahwa perkembangan ulahnya berakibat seperti ini. Sosok Jorge yang tenang dan terkesan kalem. Ternyata tidak sama dengan jorge yang ia hadapi sekarang. Yaitu, Sosok jorge yanng menari menggebu penuh hasrat menangkap umpannya.
******
Sand... Sandra... Kamu sudah sadar..?
Sebuah suara berat, tapi bujan milik Toby menyambutku ketika mataku perlahan terbuka.
"Tob... Istrimu sadar" Lanjut pria berambut sebahu pemilik suara itu, yang tak lain adalah Billy.
Bergegas Toby segera menasuki ruangan dan dengan segera meraih tanganku. "Sand... Kamu sudah sadar"
Aku masih bingung...
Segelas air purih hangatpun segera tiba di hadapanku aeiring dengan Albert yang memasuki ruangan. Yang disusul oleh
Rizal...?
Ngapain dia di sini.
Aku segera meraih air putih dari tangan Toby dan meneguknya. Alisku menyatu dengan sepasang mata yang menajam menatap wajah ketiganya secara bergantian.
Glek.. Ah.. Aku menghembuskan nafas panjang. Usai mengosongkan isi gelas kaca di tanganku.
__ADS_1
"Kenapa kalian di sini?" tanyaku reflek.
"Ini Rumahku.." Jawab Billy lirih tanpa berkedip.
Ah benar juga, ini rumahnya Billy..
"Mak... Maksudku bukan kamu tapi yang lainnya" Manikku segera mengarah ke Toby yang duduk di tepi kananku.
"Justru... Kenapa kamu di sini?" Toby balik bertanya kepadaku.
"Aku...?"
Aku mulai bingung, harus menjawab bagaimana dan dari mana.
"Ehemmm... Kebetulan aku lewat" bodoh, kenapa aku malah menjawab ini. Orang mana yang nyasar sampe pinggur kota begini.
"Kamu mengikutiku?" Tanya Toby yang kini melipat lengannya.
Bujankah harusnya aku yang bertanya?
Aku menggeleng cepat, menata ulang teka teki dalam otakku.
"Tob... Kamu nggak pulang sejak kemarin dan..." Aku memandang Billy yang menatapku dengan mata jernihnya seraya menggigit bibir bawahnya seakan takut mengeluarkan kalimat yang salah "Kamu bersama Billy, sang awal dari masalahmu.. Serta.." Kali ini manikku menuju Rizal yang mematung penuh hawatir "Biang masalah kita.. Rizal"
"Urusan Billy dan Toby... Tidak ada hububgannya denganku" Rizal menanggapiku dengan ketus. "Jangan menatapku curiga"
"Lantas kenapa kamu di sini? Kalian..."
Billly bergegas berdiri "No Sandra... That gossip was fake" jemari lentiknya mengusap rambutnya. " Dan.. I am normal"
__ADS_1
Aku masih bingung..
"Jelasin Tob.."
"With Rizal here..? No way..!!" Toby kini berdiri tegak dan menatap bergantian Billy dan Rizal. Lengan kekarnyapun segera terlipat di deoan dadanya. "Kamu juga belum jawab hububganmu sama bajingan ini"
"Siapa yang kamu sebut bajingan, suara Rizal terdengar meninggi..
Waduh.. Apakah mereka akan bertengkar.
" Kami juga teman Tob...! "Billy mengambil langkah untuk berdiri di antara Toby dan Rizal" Aku bebas berteman dengan siapa saja bukan? "
" Tapi kenapa harus dengan dia? "Toby mulai menunjuk wajah Rizal yang sudah mulai tak tenang.
" Memang Kenapa? Apa aku tak layak berteman dengan Billy..? "
Wow.. Wow..
" Stoooop...!! "Kini aku yang memekik. Dan segera mengucek mataku. Apakah aku mimpi?
Dua lelaki yang sempat bersitegang metebutkanku, justru kini sedang melakukan hal serupa dihadapanku, namun kali Billy objeknya.
Suasana hening dan ketiga pasang mata itu kini memandang kearahku.
"Kalian....???" Aku mendengus kasar "Bukankah setelah semua yang aku alami aku berhak dapat penjelasan?"
"Aku nggak ada hubungannya dengan bajingan Rizal itu" Toby langsung menangapiku cepat "Jangan - jangan kamu yang berhianat Bill?"
"Hei... Dia mengunjungi ku itu saja?" Bela Billy dengan gerakan tubuh lembutnya. "Ada apa sebenarnya di antara kalian?" Billy menatap Toby dan Rizal bergantian.
__ADS_1
Benar... Pertanyaan yamg sama juga ada dalam otakku.. Ada apa diantara kalian? Bertiga..