
El masih tertidur di ranjang rumah sakit. Kepalanya di perban, infus juga masih menempel di tangannya.
Erik memandang El lekat, betapa wajah itu kini menjadi pucat. Erik membuka lagi kotak kotak kecil berwarna merah. Dilihat lagi cincin permata di dalamnya. Sekarang dia menyesal karena terlambat menyematkan cincin tersebut di jari El. Dia khawatir tidak punya kesempatan kedua lagi. Sekarang El masih belum sadarkan diri meski dia telah pindah ke ruang ICU dan melewati masa kritisnya. Tapi Erik merasakan kekhawatiran yang amat dalam. Perasaan harap-harap cemas menghantuinya membuat dia semakin galau saja.
"Sayang, kamu tahu sejak pertama kali kita bertemu di kafe kemudian kamu pulang dengan hati galau disitulah pertama kalinya aku merasa khawatir terhadapmu. Sampai-sampai aku menyuruh Reno mengikutimu hanya untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat.
Erik melanjutkan bercerita mengenang masa lalunya bersama El. Meski El tidak mampu meresponnya.
"Sayang, Waktu pertama kali kita berbalas pesan, kamu tahu aku tidak sabar menunggu pesan balasanmu. Meski saat itu isi pesannya cuma memanggil aku kunyuk dingin dan aku memanggilmu teletubbies tapi tidak kupungkiri aku tersenyum-senyum sendiri seperti orang kasmaran.
" Sayang, Kamu ingat ketika kamu menyuguhkan aku teh asin buatanmu. Aku terpaksa menelan teh itu hanya untuk memastikan kamu tidak malu di depan orang tuamu meski tenggorokanku terasa terbakar. Erik menggenggam dan mengusap tangan El yang lemah. Dia tidak mengetahui Buk Zahra dan Pak Baskoro telah berada di pintu dan menahan langkahnya disana.
"Pa, sebaiknya kita pulang aja dulu ya Pa. Erik butuh waktu berdua dengan El. Dia masih asyik mengajak El bercerita Pa. Kasihan Erik" Buk Zahra pun bersedih menyaksikan keadaan anak dan menantunya kini.
"Iya Ma, sepertinya Erik dan El memang butuh waktu berdua Ma. Ya sudah ayo kita pulang Ma"
__ADS_1
Buk Zahra dan Pak Baskoro memutuskan untuk pulang.
Sementara di dalam ruangan ICU, Erik melanjutkan ceritanya.
"Sayang, waktu malam pertama pernikahan kita kamu membuat drama kelupaan membeli pembalut. Saat itu walau dengan enggan aku membelikanmu pembalut meski anehnya aku mati-matian memikirkan pembalut apa yang cocok denganmu. Sampai aku membaca setiap detail pembalut itu berapa panjangnya, bersayap atau tidak sampai aku ditertawai pengunjung yang lain. Saat aku membayar ke kasir aku dikira akan melakukan penelitian karena aku membeli semua jenisnya. Kamu tahu aku hanya ingin kamu merasa nyaman.
"Sayang, apa kamu ingat waktu kita tarik-tarikan pembalut handukmu lepas, Kamu sangat khawatir aku telah melihat sesuatu yang berharga darimu sampai kamu mendesak dan mencubitku. Jika ku pikir-pikir lagi itu begitu konyol dan menggelikan. Erik terus bercerita kali ini dia tertawa kecil mengingat kelakuan konyol istrinya
" El ku Sayang, terkadang aku tidak mengerti kenapa aku suka menjahilimu. Kamu ingat ketika kita menonton film horor, setelah itu aku membalikkan sekring lampu agar lampunya mati. Saat itu aku mendengar kamu berteriak memanggil mamamu di kamar. Kamu tahu ketika kamu mengendap-endap masuk kamar aku merasa menang rencanaku berhasil. Yang tidak bisa aku lupakan adalah pelukan pertamaku saat aku pura-pura tertidur dan menganggapmu guling. Aku tahu kamu terpaksa tapi senyumku tetap tersungging dalam kegelapan.
"Sayang, ketika kita pergi ke Bali untuk bulan madu palsu kita. Disitu aku begitu syok melihatmu pingsan di kolam renang. Dan setelah ku tahu ternyata alasanmu begitu konyol hanya tidak ingin aku melihat tubuhmu. Tapi Maaf untuk Kejadian itu betul-betul memaksaku melihat semua yang berharga milikmu. Kamu tahu Sayang, ternyata semua milikmu begitu indah dan aku tidak bisa melupakannya.
"El Sayang, ketika kamu lupa membawa bra. Aku segera membelikannya ketoko. Meski kasirnya menertawaiku. Mengingat warna bra yang kamu tulis di kertas itu seperti warna pelangi. Merah kuning hijau, dan bodohnya aku yang tidak membacanya terlebih dahulu. Kamu terlihat senang telah mengerjaiku, Tapi saat itu aku merasa lega. Aku hanya tidak ingin orang lain menerawang tubuhmu cukup aku suami statusmu.
"Sayangku, bagiku kamu wanita yang nekat juga. Didepan para stafku kamu berani menciumku hanya untuk menghentikan aku memukul sekretaris Jim. Kamu tahu saat itu Jantungku seperti kau meledak. Kamu memang telah berhasil menghentikanku.
__ADS_1
" El, satu hal yang harus kamu tahu. Malam itu kamu memelukku tanpa bra membuat aku tidak tahan lagi. Malam itu bukan aku tidak menginginkanmu Sayang, Tapi aku lihat kamu telah tertidur dan aku tidak tega membangunkannya"
Erik mengecup kening El.
"Oh ya, satu hal yang membuat aku kesal ketika kamu mengira aku seorang gay. Entah kenapa dadaku seperti tertikam benda tajam. Padahal sebelumnya aku tidak peduli dengan omongan orang-orang tentang aku gay. Saat aku mendesakmu saat itu kamu ketakutan, dan aku begitu suka dengan ekspresi itu. Ketika aku mencium bibirmu untuk pertama kalinya sebenarnya aku tidak tahan dan ingin lebih. Tapi sekali lagi aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Aku ingin kamu melayaniku dengan rela hati"
Erik membelai rambut istrinya, mengusap Alisnya dan mengecup kening mata dan bibirnya.
"Sayang bagiku, kamu itu begitu sempurna. Sikapmu yang terkadang perhatian, jahil, konyol, ceroboh dan terkadang kamu bertindak nekat. Dan sikapmu yang polos telah membuat aku telah jatuh cinta padamu El. Meski aku tidak tahu persis kapan aku mencintaimu tapi yang jelas sejak pernikahan kita. Kamu menjadi pusat perhatianku yang membuat aku senyum - senyum sendiri. Sejak kahadiranmu, hidupku menjadi penuh warna. Dan aku sekarang sadar, ternyata cinta tidak selalu datang dari awal kamu memandang, tidak pula datang karena bertabrakan di perpustakaan seperti khayalanku selama ini. Tapi terkadang cinta datang karena kita telah terbiasa bersama. Kita telah terbiasa saling menjahili namun kita saling khawatir satu sama lain.
"El ku sayang , saat ini hanya satu aku pinta pada Tuhan. Aku hanya ingin kamu tahu perasaan aku yang sesungguhnya. Aku sangat mencintaimu dan aku sangat menginginkanmu sampai terkadang aku merasa hampir gila menahan semua gejolak itu. Namun sekali lagi kamu harus tahu aku tidak ingin memaksamu El. Aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman di sampingku karena aku tidak tahu kamu juga mencintaiku.
"Sayang, kamu harus sembuh ya. Kamu harus tahu kalau aku juga mencintaimu. Jika tidak aku akan menyesal dan tersiksa seumur hidupku"
Erik menciumi lagi jemari El, dan menatap mata El yang tertutup. Entah kapan dia akan menatap bola mata El yang indah. Dia khawatir tidak dapat menatapnya lagi.
__ADS_1
bersambungđź’•