TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Tentang Black Card


__ADS_3

Pagi-pagi sekali El mendengar air kran telah berbunyi. Dia masih malas untuk bergerak. Tubuhnya masih berasa nyeri. Dia mencoba mengucek-ngucek matanya. Tampak Erik sudah keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada.


"Selamat Pagi cantik" Ucapnya tersenyum sambil mengeringkan rambutnya.


"Pagi sayangku" El masih berbalut selimut.


Dia mencoba turun ranjang.


"Aww" El merasakan ngilu di bagian perut bawahnya ketika bergerak.


"Sayang, masih sakit ya?" Erik menatapnya khawatir.


"Nggak apa sayang" Erik beringsut perlahan


lalu berjalan ke kamar mandi dengan pelan sambil membawa selimutnya.


"Sayang, kenapa gitu?" Erik terkekeh dengan kelakuan istrinya yang masih malu-malu.


"Habis badanku banyak tato dadakan" Ucapnya asal


"Apa tato dadakan hahaha" Erik tertawa mendengar perkataan El.


"Kenapa juga harus malu pada si pencipta tato?" Erik menarik-narik selimut El.


"Sayang udah dong" El merengek sambil menahan selimutnya. Dengan cepat dia masuk ke kamar mandi. Erik tertawa melihat El seperti itu.


El menatap tubuhnya di pantulan cermin, banyak tato dadakan dimana-mana.Di dilihat pahanya yang juga bernoda darah.


"Sekali terobos langsung blong. Ternyata suami yang disangka gay seperkasa itu. Dia mengingat lagi kejadian malam itu. Seketika senyum tersungging di bibirnya dia ingat betapa Erik memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta.


" Lalu kenapa selama ini dia tidak melakukannya?" Gumam hati El sambil berdiri dibawah shower yang sudah memancarkan air. Dipencet sabun dan di gosokkan ketubuhnya sehingga penuh busa.


"Sayang, handuknya ketinggalan" Erik berteriak dari luar.


"Iya sayang"


El membuka pintu sambil mendongakkan kepalanya keluar dan menyembunyikan tubuhnya di belakang pintu. Erik mengulurkan handuk.


"Sayang" El mendongak dibalik pintu.


Tampak kepalanya yang dipenuhi busa begitu lucu juga.


***


El bersiap untuk mengeringkan rambut.


"Sayang boleh tanya sesuatu?"


"Apa Sayang?" Erik tampak sudah rapi dengan setelan jaznya


"Sayang, dulu kok kamu nggak nafsu sama aku?" Pertanyaan itu terlontar juga dari mulut El.


"Maksud kamu?"


"Iya kamu nggak pernah nyentuh aku" El memainkan jarinya di dada Erik membuat dia geli sendiri.


"Sebenarnya aku sangat menginginkanmu sayang, tapi aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman. Aku kan tidak tahu kalau kamu juga cinta aku. Aku harus menahan semua rasaku terkadang aku hampir gila dengan semua itu. Dan terkadang aku memutuskan untuk menghindar karena sudah tidak tahan"


"Oh ya" El tersipu malu

__ADS_1


"Lagian aku tidak mau kamu merasa tertekan saat melayaniku. Aku tidak mau kamu kesakitan, tapi ternyata walaupun dengan rela hati kami masih kesakitan apalagi jika terpaksa"


"Maafin aku ya Sayang, aku mengira kamu tidak pernah mencintaiku. Karena aku merasa sangat kecewa ketika malam itu" El kembali mengingat


"Ow waktu malam kamu sengaja tidak pakai bra dan memelukku" Ucap Erik


"Apaan sih" El mencubitnya


"Sakit tau" Erik meringis


"Iya kenapa kamu harus lari untuk menghindar" El cemberut.


"Aku nggak lari sayang, aku tanya Mama aku"


"Tanya apa?"


"Iya tanya tentang kamu, Mama bilang kamu mungkin sudah siap untuk bulan madu. Tapi kamu malu-malu kucing".


" Apa jadi Mama tahu ya, Aduhhh malunya aku" Wajah El memerah


"Pantaslah pagi itu Mama nanyanya gitu" gerutu El.


"Biasa aja kali Sayang, kita kan suami istri"


"Jadi kamu sangat"


"Sangat-sangat ingin kamu" lanjut Erik kembali menciumi bibir El.


"Terimakasih mahkotanya sayang" Bisik Erik


El tertunduk malu


"Masih sakit sedikit"


"Oh ya bisa malam nanti kan?"


"Apa?" El terkaget, Erik terkekeh melihat ekspresinya


"Sayang, hari ini aku ada rapat dengan sekretaris Jim sekaligus peralihan pimpinan jabatan".


" Maksudnya Sayang kamu udah mau memimpin di perusahaan Papa?"


"Syukurlah sayang, Papa pasti bahagia sekarang. Lantas bagaimana dengan pekerjaan sebagai dosen?"


"Maaf Sayang, waktu itu Aku terpaksa berbohong. Waktu Aku bilang Aku cuti sebenarnya Aku sudah mengundurkan diri" Ucapnya menatap mata El.


"Loh kenapa Sayang, bukannya selama ini kamu kekeh nggak mau ninggalin pengabdianmu?"


"Sayang, memang ada sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Tapi Kita terkadang kita harus mengorbankan untuk sesuatu yang lebih berharga" Jelas Erik


"Maksudnya Sayang?" El tidak mengerti


Erik menggenggam kedua tangan El.


"El ku Sayang, Mengajar merupakan pengabdian dalam hidupku. Sebagai dosen tentu profesi yang sangat berarti bagiku. Namun saat kamu kritis Aku menyadari tidak ada sesuatu apapun yang berharga dari mu El. Sejak kamu kecelakaan Aku telah memutuskan akan menemanimu sampai sembuh. Aku tak berfikir lagi tentang yang lain. Harapan yang terbesar bagiku adalah melihat bola mata mu lagi. Dan menyatakan perasaanku yang sesungguhnya. Tentang alasan aku berbohong, aku tidak mau membuatmu merasa terbebani karena pengunduran diriku. Aku mau kamu hanya fokus untuk sembuh Sayang" Erik bicara serius


"Sayang" Mata El berkaca-kaca. Ternyata suaminya benar-benar mencintainya mungkin lebih dari apa yang dia bayangkan.


"Jangan menangis sayang" Erik memeluk El yang sesegukan.

__ADS_1


"Doakan supaya semua lancar ya Sayang" Erik mengecup kening istrinya.


El juga mengecup pipi Erik.


"Udah lincah ya sekarang" ledek Erik


"Ih apaan sih" El mencubit pinggang Erik


"Sakit sayang, kenapa suka sekali mencubit" Erik balas mencubit hidung El.


"Kita sarapan dulu ya Sayang" ajak El


"Ok honey"


Erik sumringah


Mereka melangkah dengan wajah yang bahagia. Tapi hanya ada mereka berdua dan para pelayan di meja makan.


"Mama mana Sayang" tanya El


"Mama pergi keluar negeri Sayang, mungkin masih ada urusan Papa yang perlu Mama urus"


El mengangguk, sejak kematian Papa Erik. Mama Erik memang jarang dirumah beliau begitu sering keluar negeri.


"Zzz Zzz" getar HP Erik


"Baik segera antar laporannya sekarang"


Tak lama Sekretaris Jim terlihat melangkah membawa Map. Entah kapan dia datang yang jelas dia selalu ada saat Erik butuh.


"Ini Tuan Muda" Sekretaris Jim meletakkan Map itu dengan hati-hati diatas meja. Sekilas dia membungkukkan badan tanda hormat kepada El.


"Terimakasih Sekretaris Jim"


"Sama-sama Tuan Muda"


"Laporan apa tuh sayang, El masih mengunyah makanannya"


"Ini laporan penggunaan black Cardmu"


"Apa?" El terkaget dan terbatuk-batuk.


"Minum dulu Sayang, kenapa kamu jadi gugup begitu"


"Nggak Rik, eh jangan lihat laporannya sekarang ya Please" El memohon


"Kenapa? Apa kamu membuat kesalahan? Bukan apa-apa Sayang. Kamu boleh gunakan sepuasnya aku cuma ingin tahu kegiatan kamu saja"


"Tapi"


"Tapi kenapa?"


Erik mengambil map dan mulai memeriksanya.


Dia terdiam perlahan wajahnya mulai datar


"Mati aku" El tahu Erik sedang kesal, dia hanya mematung menggigit bibir sesekali menatap sekretaris Jim. yang hanya diam berdiri seperti patung saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2