
Toby memasuki ruang makan dan segera memanjakan semua mata perempuan yang sedang berada di sana, termasuk aku.
Aku bisa melihat para wanita yang tidak muda itu mengamati Toby yang masih setengah berkeringat dengan pakaian golf lengkapnya.
Yup... Begitulah rasanya menjadi Istri Clebrity... Tertarik..? Uhf..
Anyway.. Aku mengaku aku memang mulai cemburu.
***
Senyum pertama Toby langsung tertuju padaku sebelum langkahnya segera melewatiku dan menyambut pelukan ibunya.
"Terimakasih sudah singgah di rumah kami dan berbagi hari yang menyenangkan bersama Mama" Sapa Toby cukup Elegan "Bagaimana denganmu sayang?" Selanjutnya Toby segera mengarah padaku dan melangkah untuk mengambil duduk di sampingku.
"Semua berjalan cukup lancar, hari ini aku belajar dengan Cheff piere untuk membuat makan siang" Aku tak kalah ramahnya menjawab Toby.
"I am curious"
"Aah... Sebentar," Aku segera memotong salmon dan menyertakan risotto yang sudah tersaji di piringku "Coba?" Tawarku tanpa mengurangi senyumku.
Tanpa Ragu Toby melahap penuh uluranku. Sambil setengah mengunyah dia membisikkan "Actingmu berkembang pesat"
Ehemm... "Aku dapat guru yang terbaik" Jawabku yang berbalas bisikan ke padanya.
"Seharusnya kalian tidak perlu bersikap terlalu mesra begitu, tentu saja kami mengenali istrimu" Celetuk salah satu teman mama.
"Tentu saja, aku tidak meragukan itu" sambut Toby yang segera memulai makan siangnya.
Ups...! Aku menutup gelas Toby "Bisa berikan minuman yang sama denganku untuk Tuan Toby?"
Toby menatapku heran melihatku mencegah pelayan untuk menuangkan White Wine ke gelas Toby.
__ADS_1
"Bukankah kamu harus menjaga kesehatanmu sebelum perjalan panjangmu ke Hongkong.
" Ah iya.. ", Toby menerintahkan pelayan untuk menurutiku.
*****
" Entah apa yang terjadi padamu hingga kemampuan actingmu meningkat pesat". Toby segera mengambil duduk di pusat sofa kamar tidur kami dan melepas bajunya yang berkeringat kering.
Otot tubuh Toby nampak menawan dengan kulitnya yang sepertinya samar bernuansa tan karena terpapar matahari. Garis lekuknya juga nampak lebih jelas dengan highlight dari cahaya matahari yang samar memasuki ruangan.
"A.. Aku....?"
"Tidak ada yang lain di ruangan ini?"
Aku melankah mendekatinya dengan mengulurkan tanganku menawarkan untuk membantu toby menaruh bajunya ke keranjang laundry. Serta tentu saja menikmati pemandangan dari tubuh Toby dengan lebih jelas.
DEG...
Toby segera menyerahkan kaos Golfnya begitu saja ke genggamanku. Tapi...
"Apa ada yang memandangmu sepele" sorot mata Toby lurus ke arah mataku yang sedang membiarkan pupilku berselancar sejenak.
"Ha.. Ha itu kisah classic, kalau kita salah masuk kelas"
Toby masih mengeggam erat ujung lain kaosnya meski aku sudah menggenggam satu sisi ujungnya.
"Apakah kamu tidak suka tinggal di sini?"
Ah bagus Toby bisa menangkap maksudku dengan sangat pas.
"Aku belum pernah memuji pengalaman tinggal di sini sekalipun" Aku menerawang sejenak "Aku sedikit sulit menerima kenyataan bahwa orang tuamu sepertinya lebih baik padaku saat di depan camera"
__ADS_1
Tentu saja, karena mereka melakukannya untuk Toby, bukan untukku .
"Jadi..??" Toby tiba - tiba menarik kausnya secara mendadak "Kamu ada permintaan? "
Tubuhkupun otomatis turun karena aksinya, dan wajahku segera bertemu dengan wajahnya yang tersirat rasa kecewa.
"Aku sadar, kamu mencintai orang tuamu. Dan sepertinya sementara ini mereka sulit menerimaku" Gumamku.
Toby menghembus pelan.
"Orang tuamu memiliki pelayan dengan certificate bintang 5,cheff international dan architect landscape dan sebagainya. Tentu saja aku yang amatir ini akan terlihat sangat kurang" aku mencoba memberi gambaran masalah di antara aku dan Mama Toby.
"Itu bukan tugasmu" jawab Toby seperti itu bukan beban.
"Tapi apakah orang tuamu berfikir sama denganmu?"
"Melihat Mama.. Sepertinya iya"
"Tapi mama tiap hari ke kantor yayasan dan bekerja, sedang aku di rumah. Tanpa ada hal yang bisa aku lakukan"
Toby seakan sedang berfikir sesuatu
"Ck... Tob.. Aku tidak berbakat menjadi perempuan rumahan. Baru menganggur kurang dari satu bulan, hidupku rasanya membosankan" Aku mencoba menegakkan punggungku dengan tetap mengenggam ujung kaos Toby dan masih berfikir dia akan melepaskannya.
Tapi kali ini Toby justru kembali menarik kaos Golfnya di tangan kami dengan lebih kuat
God.. 'Toby, ini nggak lucu' batinku.
"Jadi kamu mau menerima tawaran om Yoga...?"
Oh iya tawaran itu...
__ADS_1