TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Gagak


__ADS_3

Mungkin pepatah itu benar, bahwa bunga memiliki waktunya sendiri untuk mekar, termasuk aku. Yang mungkin lebih mirip bunga bangkai yang sedang di perwbutkan oleh gagak seperti Toby dan Rizal, serta satu malikat penggoda seperti... Jorge, yang sudah menyefah sebelum berperang.


"Jadi apakah ini tentang istrimu?" tanya Jorge yang kembali terlontar.


"Hmmm..."


"Setidaknya... Andaikan aku tidak punya kesempatan. Bukankah lebih baik aku memihak keluargaku. Meski keluarga itu menyebalkan sepertimu" sambut Jorge.


"Setidaknya aku tidak pernah menaruh tanganku pada milik orang lain" sindir Toby,


"Ckckck... Masih saja kamu berprasangka buruk padaku, lagipula Sandra tak pernah menanggapiku jadi aku mulai kehilangan minatku"


Jadi Jorge benar - benar menyerah denganku? Uhf... Meski terasa sakit, tapi langkahnya juga benar. Aku dan Toby sudah tidak ada jalan keluar.


Tapi mungkin keserakahanku yang masih berharap memiliki keduanya.


"Jadi aku harus bagaimana?" Kali ini aku sudah kembali duduk.


"Tolak saja," jawab keduanya serempak


"Pastikan kamu melakukannya bersama Tia" Tambah Toby.


"Bagaimana aku harus menghadapi Om Yoga"


"Katakan saja kamu tidak bisa memenuhi syaratnya" Toby mendengus "Nanti aku yang bicara usai acaraku di Hongkong"


"Tunggu... Sebenarnya apa permintaan pangeran keluarga adilakso itu padamu?" Jorge yang mendukung tanpa tahu situasinya. Mulai ingin tahu inti masalah di antara kami.


"Dia ingin aku bercerai dengan Toby" Gerutuku.


Jorge mengerutkan dahinya. Mungkin dia berfikir itu ide yang bagus untuk membuka kesemptan untuknya.


"Tapi aku ini ibu anak dafi Toby " Lanjutku yang entah jadi sakit hati melihat expresi Jorge. Seharusnya Jorge bereaksi otomatis tjdak setuju bukan?


"Hamil...??"


Aku dan Toby mengangguk serempak.

__ADS_1


Uuh... Jorge mengatupkan bibirnya dan hanya mendengus keudara bebas.


******


"Aku Hamil, empat minggu" Aku ahirnya harus mengungkapkan kenyataan itu di depan Rizal hati ini.


Ruanganpun hening sesaat, Rizal yang sejak tadi menatapku dengan tajam mulai beralih menyambar botol mineralnya yang tinggal setengah dan meneguknya sampai tandas.


"Well, aku tidak melihat ada masalah"


Jawaban Rizal di luar expectasi.


Senyum simpul teroles di wajahnya yangblebih maskulin dati yang aku lihat di waktu lampau.


"Kamu tetap adalah kamu, Hamil dan berstatus janda kedengaran menarik" Rizal mulai mengetukkan jemarinya di atas meja jati "Aku menyukai pengalaman baru"


Aku menggeleng cepat,


Rizal memang benar psikopat.


Serempak, aku dan Rizal memgarah pada Tia yang masih berdirk di dekat pintu ruangan.


Wajahnya pucat, melihat situasi yang baru saja di pahami.


Dia menatapku seakan menanyakan, inikah alasanmu tidak mau di hubungi beberapa hari?


Aku menghirup semua oksigen yang ada di awkitarku sekaligus.


"Tetap tidak, aku tidak tertarik atau berkenan" Aku mencoba memasang wajah datar dan menyembunyikan semua kekhawatiranku.


Kekhawatiran akan apapun yang terjadi setelah ini. Kelecewaan om Yoga, ataupun karier Toby yang mungkin akan terancam.


"Aku belajar darimu, untuk hanya melakukan yang kamu mau tanpa mendengarkan pendapatku" nada Rizal cukup tenang namun seperti badai.


"Dan aku belum berubah.."


"Meski... Kemungkinan bahwa.."

__ADS_1


Aku menggeleng "Tetap Tidak"


Aku memandang Tia yang masih membeku menyaksikan kami berdua.


"Aku. Sudah kehilangan minat untuk berbasa basi denganmu, meski aku sangat merindukanmu" Rizal berdiri dan mengancingkan jasnya "Kamu bisa memeriksa berkas ini dan memberikan keputusan bukat usai memeriksanya"


Sebuah amplop coklat segera tersaji di hadapanku sebelum dia berjalan melewatiku.


"Apa ini?"


"Laporan penggelapan pajak dari Agency Toby serta kerja sama ibu mertuamu didalamnya"


"aah... Bullshit.. Mertuaku hanya ibu rumah tangga dan pengelola amal"


"Ckckck... Sudah aku duga pernikahanmu itu terlalu terburu - buru" Wajah Rizal segera sejajar denganku "Kamu cukup bagus membaca berita, tapi tidak begitu bagus membaca situasi"


Aku hanya berpaling mencoba untuk menyembunyikan kekhawatirankua yang baru.


"Aku bukan orang nganggur yang sibuk membuat laporan palsu" Rizal menepuk amplop coklatbyang masih belum aku sentuh "Semua ini aku hanya perlu menyalinnya, jadi kabari aku kapan aku mengirimkan berkasnya padamu"


Kali ini sepasang mata kami bertemu.


"Berkas perceraian sayang, dan kita akan bersama lagi seperti dulu"


Cih..


Tanpa sadar aku otomatis meludah ke wajah menyebalkan Rizal.


Rizal tertawa ringan, "Lain kali kamu boleh menjilat kembali ludahmu di wajah tampan ku ini"


Rizal mengelap perlahan wajahnya dengan sapu tangan dari sisi saku kemejanya.


Dan dalam hening ruangan, suara sepatu Rizal yang terkesan riang perlahan menghilang seiring tubuhnya yang tenggelam di balik pintu kaca ruangan.


Brak..!!!


*******

__ADS_1


__ADS_2