
Erik Selalu setia menemani El dirumah sakit.
"Ayo makan dulu" El menggelang melihat makanan yang tidak memancing selera makannya
Ayolah Erik menyodorkan makanan ke mulut El.
El akhirnya menurut saja.
Setelah habis beberapa sendok, El merasa nyeri pada perut bagian bawah dan rasa mual segeta menghampirinya
"Erik Muntah" El menutup mulutnya
"Ayo cepat ke kamar mandi"
El muntah di kamar mandi, Erik mengusap tengkuknya. El meraba perut nya yang nyeri
"Perut kamu sakit El"
"Iya" Ek hendak jatuh Erik segera menangkap tubuhnya.
Erik menggendong El ke tempat tidurnya
"Mana yang sakit" Erik menyibak baju El.
Dia meraba perut El
"Geli, El menggeliat" Erik tersenyum
"Kamu mungkin mau halangan?"
"Sepertinya iya" El meringis.
" Sini aku kompres dulu" Erik mengompres perut El.
"Gimana udah baikan?"
"Lumayan, Terimakasih ya Rik" El tersenyum
"Iya" Erik mencubit hidung El
"Aw sakit" El meringis
Erik terkekeh
"Rik, kenapa gue merasa nyaman banget dengan sikap kamu yang baik Rik. Terimakasih telah memperlakukan ku dengan baik. Meski kamu tidak mencintaiku" Bisik hati El yang dia tahu Erik belum pernah menyatakan cinta kepadanya. Mungkin Erik memang tidak mencintainya.
Tak lama setelah itu,
__ADS_1
Orang tua El sudah datang menjenguk, mereka merasa bahagia melihat Erik memperlakukan El dengan baik.
Selamat siang Papa dan Mama, Erik segera menyalami El.
"Bagaimana keadaan El nak Erik?" Mama El tersenyum hangat
"Keadaan El sudah membaik Ma, cuma kadang El tidak mau makan"
"El kamu jangan bandel bandel dong sayang, kasihan Erik pasti capek merawat kamu" Papa menasehati El.
"Nggak apa-apa kok Pa, sudah kewajiban Saya merawat El Pa" Erik tersenyum.
"Terimakasih Nak Erik, telah memperlakukan putri kami dengan baik"
Orang tua Erik merasa sangat bahagia dan bersyukur, ternyata Erik adalah seorang suami yang baik untuk El.
Mama dan Papa Erik ikut bergabung disana mereka berbincang-bincang seputar bisnis.
Keluarga itu terlihat sangat dekat, El merasa sangat bersyukur dia sudah mulai menjalani hidup yang nyaman bersama Erik.
***
Setalah beberapa hari di rumah sakit El telah diizinkan pulang oleh dokter.
Dia pulang bersama Erik. El selalu tersenyum dengan karena perasaannya yang bahagia. Entah karena apa itu sulit dia jelaskan.
Sesampainya dirumah El menggandeng tangan Erik, Sepertinya El tidak ingin melepaskannya. Itu adalah pegangan tangan yang tulus meski Erik menyangka itu hanyalah sandiwara di depan orang tuanya.
"Aku siapkan air ya" El berlari ke kamar mandi menyiapkan air mandi untuk Erik.
Erik terheran dengan tingkah El yang perhatian, namun dia bahagia mungkin saja itu tanda terimakasih El karena Erik telah merawat El dirumah sakit.
Selesai mandi Erik keluar dengan bertelanjang dada mencari baju di lemari.
"Mencari apa? Ini bajunya" El menunjuk baju yang teronggok di kasur.
"Oh ya" Ef rik mendekati El, El segera mundur beberapai langkah dengan wajah tertunduk dan memerah. Erik tahu El gugup tapi hal itu makin membuast dia semangat menjahili El.Erik terus saja mendekatkan wajahnya ke El. El gugup danis memejamkan mata. Lalu Erik berbisik di telinganya.
"Terimakasih ya" Dia pun terkekeh melihat wajah El yang memerah.
"Eh iya" El jadi salah tingkah.
"Ya sudah aku mandi dulu ya" El kabur ke kamar mandi.
El tersenyum memperhatikan El.
Erik membuka lemari, dia ingin mencari baju tidur El. Tapi sepertinya dia tidak melihat baju yang biasa di pakai El. Semua jenis baju tidur bertipe "haram"
__ADS_1
Erik menyerngitkan dahinya. Sejak kapan El mengganti koleksi bajunya bukankah dia baru pulang dari rumah sakit?
" Ada apa?" El keluar dengan handuk menatap Erik yang sedang kebingungan
"El" Erik balik menatap El, membuat El kikuk dan menutupi dadanya dengan tangan.
"Sejak kapan kamu mengganti koleksi baju tidurmu?"
"Apa? Koleksi baju tidur?" El heran dan langsung mengecek lemari
"Dia pun heran, tidak ada lagi piyama yang dia pakai. Yang ada hanya baju " haram " yang tergantung disana.
El heran sambil memandangi Erik. Erik mengangkat bahu dia pun tidak tahu siapa yang melakukannya.
Ya sudahlah
El mengambil satu berwarna peach lalu memakainya.
Sementara Erik sibuk memainkan HP sambil duduk di ranjang.
Sesekali Erik memperhatikan El yang wara-wiri sambil menutupi dadanya yang terbuka. Bajunya benar-benar tembus pandang membuat Erik menelan ludah.
El segera naik ranjang rasa kantuk sudah menghampirinya.
Dia seketika meluncur ke dalan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Erik hanya memperhatikan tingkah istrinya yang menganggap dia sebagai orang lain.
Kadang dalam hati ia mengeluh
"Sampai kapan dia akan begini?"
Namun dia harus sabar, Entah kenapa sekarang dia tak ingin kehilangan El. Apa mungkin dia cinta atau karena terbiasa? Entahlah baginya dia nyaman disamping El itu saja.
El sudah mulai tertidur tak lama dia menyibakkan selimutnya.
Sontak membuat Erik memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Tubuh El begitu sempurna, membuat Erik berdecak kagum. Seandainya El bersedia melayaninya dengan ikhlas malam ini.
El Mulai menggeliat dan tak sengaja memeluk pinggang Erik. El pun mengangkat sebelah kakinya ke atas kaki Erik. Hal ini membuat Erik semakin sesak. Dia berusaha menahan semua gejolak yang ada dalam dirinya.
"El kenapa kamu selalu siksa aku seperti ini?" Keluhnya dalam hati.
"Istriku yang cantik, seandainya kau juga menginginkanku" Erik mengusap bibir merah El
Dia menyeloroh disamping El dan memandangi wajah istrinya itu.
Perlahan dia tak mampu lagi membendung semua rasa. Di beranikan diri mendekatkan wajahnya ke El dan mulai mengecup bibir mungilnya.
"Cup" Sebuah kecupan yang lembut dan hangat.
__ADS_1
El menggeliat dalam tidurnya dan mempererat pelukannya. Erik menyelimuti tubuhnya, berharap El tidur dalam kehangatan dan pelukannya.
bersambung