TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Godaan


__ADS_3

Oh God.... Beginikah rasanya diperebutkan laki - laki? Bisakah di cabut saja?


"Antar Sandra pulang, pastikan dia aman sampai rumah"


Kedua tangannya segera menangkap kunci mobil yang di lempar Toby ke arahnya.


"Ok..!?" Jorge segwra menarikku dari dua pria yang nampak masih bersitegang hingga aku menghilang di balik kerumunan


*****


Beberapa menit kemudian aku dan Jorge sudah mengarungi jalanan kota yang sudah mulai tidak terlalu padat.


Sekitar baru luma menit aku dan Jorge meninggalkan area Premiere film Toby berlangsung. Aku menangkap bayangan Albert yang nampak gusar sedang berdiskusi seriua dengan Om Yoga.


"Apakah Toby ada masalah serius lagi?" Tanyaku dalam hati.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Rizal lagi?" Pikiranku jadi kemana - mana. "Apalagi yang akan di serang Rizal dari Toby?" batinku berkecamuk.


"Ibu hamil jangan banyak pikiran?" Suara Jorge membuyarkan lamunanku.


"Seharusnya begitu, entah mengapa itu sulit saat di posisiku saat ini"


" Biasamya kamu cukup persiapan akan segala hal yang akan kamu lakukan? Apakah kamu tidak bersiap dengan kejadian tadi?"


Aku menatap wajah Jorge yang masih seriua memperhatikan jalan.


"Aku mempertimbangkan resiko itu pada sisi Toby, tapi kali ini dari sisi ku ?"


Kali ini Jorge mengerutkan alisnya dan memgarahkan oandang padaku sejenak.


"Pertengkaran tadi karena aku, seperti yabg kamu Tahu Rizal masih bersikukuh untum aku bercerai meski aku sedang hamil" jelasku gamblang.


"uhf... Kenapa jenis mahkluk pemaksa di dunia lebih banyak dari perkiraanku"


"Nasib nikah denga Celebrity, para manta yang tidak puas pada muncul bukan" Tawa renyah Jorge bercerai.

__ADS_1


Namun anehnya aku bisa menerima itu sebagai candaan.


Aah... Andaikan saja aku bisa berdiskusi santai seperti ini bersama Toby. Masih jelas kala aku juga sering bersenda gurau bersama Jorge di sela - sela waktu kerja kami di masa lampau.


Andai saja aku mengatakan cintaku lebih dulu, mungkinkah saat ini ayah dari anakku adalah Jorge dan kami akan menikmati jalanan sepi malam ini sebagai suami istri yang damai.


"Hush.... Hush..!!" Hardikku pada diriku "Jangan macam - macam. Ayah dari anakmu jelas Toby, dan Jorge adalah pamannya" Aku memperingatkan diriku dengan tegas.


"bagaimana dengan pekerjaan dan business studiomu?" Aku mencoba membahas hal lain.


"Toby mwnyelesaikan dengan cepat, dia sudah mengambil alih studioku dan menfasilitasiku dengan Visa kerja, Dengan kata lain.. " jorge mengambil jeda berkonsentrasi untuk mengambil ruas kanan jalan dan memasuki arah kanan "Toby adalah Bosku" Senyum Jorge merekah.


"Kamu menyerah pada bussinesmu begitu saja?" Tanyaku yang sedikit terkejut.


"Aku di negeri ini adalah warga negara asing, lagi pula pendapatan terbesarku bukan dari photography" Nada Suara Jorge sepeeti tanpa beban. "Aku menjalaninya karena menyukainya"


Kehidupan yang santai sepeeti yang Jorge miliki adalah impian ku. Menjalani waktu demi waktu dengan santai dan tenang serta selalu berkepala dingin.


"Terdengar bahwa kamu baik - baik saja"


Dag... Dig.. Dug..


Setan enyahlah, pemandangan kedamaian itu bukan takdirku. Sekilas teelintas sosok Toby yang sedang merinci pengorbannya saat dengan memaksaku mencujur habis rambut lebatnya.


*******


Perlahan alat cukur yang kami pegang perlahan menuju lebih ke kepala Toby dan dengan setahap demi setahap segera melibas rambutnya yang pekat


"Aku kehilangan banyak kontrak ambasador, iklan, drama, ketika menikahimu, termasuk kontrak film. Aku sudah membagi kekayaanku sebanyak 50% denganmu di luar dengan uang bulanan dariku." Toby mulai merinci apa yang aku dapat tanpa berhenti membuatku mencukur rambutnya.


"Dan untuk mempertahankanmu, Mama mungkin mendekam dalam penjara, Papa mengalami krisis lkepercayaan dalam bisnisnya, dan Agency terancam akan menghentikan kontraknya denganku secara sepihak " ucapan Toby terus berlanjut.


Meski kini ada crystal bening yang mungkin membingkai manikku seirung pemandangan Toby yang mulai kehilanga rambutnya secara perlahan di hadapanku.


" Mungkin Mama pantas di hukum, tapi setidaknya tidak perlu publisitas berlebih, bila itu terjadi.."

__ADS_1


Uhuk... Aku tersedak salivaku sendiri.


"Tidak akan ada yang lain selain aku dalam hidupmu, sekalipun kamu melangkah sejengkal saja dariku"



******


Toby bisa menelanku hidup - hidup bila saja aku kabur, atau memilih orang lain. Apalagi saat ini aku ssdang hamil anaknya. Busa jadi aku akan di sekap di basement rumahnya.


Membayangkannya saja aku begidik.


"Apakah aku menakutkan?" Jorge mengamati wajahnya di kaca spion "Mungkin karena lingkar mataku?"


"Ah bukan... Aku hanya membayangkan hal yang lain..."


"Apa terlihat seperti vampire? Orang sering mengatakan itu bila aku terlalu sering begadang"


Aku mencoba tertawa, "Sungguh bukan itu" Sangkalku. "Ini hanya mengingat masalah tadi, itu sunghuh menegrikan berada di antara dua laki - yang sedang bersitegang"


"Oh..." Jorge mulai melajukan mobilnya ketika lampu mulai berubah hijau. "Saranku kamu lebih baik tinggal di rumah paman, semua staff dua pulub empat jam di sana. Akan baim untuk merawat kandunganmu"


Ah... Iya rumah mertuaku, di mana mertua perempuan sering tidak menghiraukanku. Dan pelayan yang enggan ramah padaku kecuali para cheff.


Aku tersenyum tipis "Terimakasih sarannya"


"Aku serius..."


Aku juga, aku tidak bisa membayangkan wajah para pelayan itu kalau tahu akunpenyebab Mama di penjara. Ckckck tidak, bisa jadi aku di racun pelan pelan.


Tapi di hindari bagaimanapun garis penyiksaan sepertinya akrab denganku. Meski aku memilih kabur dari sesak silent treatment di rumah Mama demgan kembali ke rumah Toby. Namun situasi jadi seperti ini.


"Setidaknya kamu punya teman yang menemanimu selama Toby dalam Tour promosi Albumnya" Kami telah sampai di garasi rumah Toby.


'Jangan tawarkan dirimu Jorge... Aku takut menjawab iya' Batinku sendiri yang masih saja terpikat denga swnyum lembut dan teduh milik Jorge

__ADS_1


__ADS_2