TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Negotiation 2


__ADS_3

"Rachel..?? " Toby mengamati satu nama yang muncul dalam program duet yang tertera di kertas rencana karirnya ke depan.


"Aku sama sekali tidak bermasalah dengan itu.. Tapi" Albert mengetuk bagian lainnya.


Toby mendengus kesal sambil merigoh saku celananya dan segera mengeluarkan kunci mobil.


"Kemudikan ke tempat Rizal"


"Kamu tidak mempertimbangkan Sandra?"


"Wanita hanya berfikir dengan emosinya, terkadang kita perlu berteman dengan musuh yang kuat untuk memenagkan pertarungan awal"


Albert tak mau ambil pusing, tanpa bertanya lagi dia segera meraih kunci dari jemari Toby.


*****


"Maaf Pak.. Tanpa Janji pak. Rizal tidak bisa ditemui"


Toby mengangguk pertanda mengerti, namum perlahan dia menurunkan maakernya.


"Tapi.. Aku rasa kamu mengerti, aku tidak bisa membuat janji" Jawabnya lirih.


Namun reaksi receptionist itu segera berubah. Sepasang bola matanya membola dan refflect tangan rampingnya menutup mulutnya yang terperangah.


"Bila namaku tertulis di daftar tamu, akan begitu merepotkan"


Receptionist itu mengangguk cepat.


"Jadi.. Bisakah aku minta tolong padamu untuk mengkonfirmasi langsung dengan Rizal?"


Tanpa membantah, receptionist itu segera memencet tombol pesawat telphone di mejanya dan mengucapkan sederet kalimat, termasuk kata "Tamu special"


"Aanda bisa.. Menunggu di ruang meeting lantai enam. Beliau akan menemui usai rapat duapukuh menit lagi"


"Bagus... Terimakasih banyak" Toby melempar senyum mautnya.


"Bi.. Bi sakah anda memberi tanda tangan anda?" Receptionist itu menahan Toby sebelum beranjak.

__ADS_1


"Oh... Tentu..!" Toby segera meraih pena dan buku note yang di sodorkan ke arahnya. "Siapa namamu?"


"Angel..."


"To.. ANGEL keep shiny like a star" catat Toby mengiringi tanda tangannya.


"Teimakasih banyak" Gadis itu segera tertawa kecil menerima buku notenya kembali.


Toby dan Albert segera melangkah menuju lift "Bagaimana bisa berubah?"


"Tentang apa?"


"Keputusan tadi...?"


Ting.. Pintu lift terbuka.


"Karena itulah orang menyukai ke populeran yang kadang sulit dibeli dengan uang" gumam Yoby yang mulai melangkah masuk.


"Tapi untuk populer, kamu butuh banyak uang sponsor untuk promosi"


"Well... Simbiosis mutualisme"


Tubuh tegap dengan postur sempurna dan tinggi badan yang cukup mencolok tentu menjafi penyebab pertamanya. Namun warna rambut yang belum di ganti dari penampilan public Toby yang terahir, itu membuat mereka mulai menebak.


Ting..


"Anugrah Alami juga ikut andil" bisik Toby ketika mereka mulai melangkah keluar dati lift.


Paras tampan, suara indah serta bakatnya dalam bermusik dan berakting tentu mendukung untuk membuatnya memiliki nilai jual yang tinggi dan terus melambung.


****


"Namun.... Bukankah tak ada pentas yang tak berahir" Batin Toby sendiri saat dia menyadari bahwa tubuhnya sudah tidak sesehat keliatannya.


****


Pensiun dini, bukan hal yang di khawatirkan. Namun pensiun dengan title sebagai plagiator itu benar - benar tidak bisa ia terima. Karena iti sama dengan artinya seluruh karyanya sebelumnya bisa di cap plagiat juga, meski dia telah mengerjakan karya karya itu siang dan malam.

__ADS_1


Dan Toby saat ini siap untuk melakukan apapun untuk mencegahnya, termasuk harua berdamai denga pria yang sempat sangat di bencinya.


****


"Mimpi apa aku hingga seorang Celebrity ternama menungguku" Sambut Rizal ketika memasuki ruangan. Tentu saja dengan sebuah senyum tersungging manis, tapi kemungkinan beracun.


"Bukan mimpi, tapi mungkin impian" Jawab Toby yang mulai membuka maskernya. Usai Rizal menutup tirainya.


"Apakah kamu perlu manager dalam percakapan ini?" Rizal memmandang Albert yang nampak sibuk melakukan beberapa hal dengan tabletnya.


"Tentu... Aku butuh saksi"


"Ok.. Di terima" Rizal mengambil duduk di kursi yang tak jauh dari Toby. "Jadi.. Impian apa yanh kamu maksud"


"Tentu saja soal ayahmu.. Tuan. Adilokso"


Bukan hanya Rizal yang heran tapi juga Albert. Bukankah tujuan awal adalah perbincangan tentang...


"Pria tua itu selalu saja menarin untuk menjadi Topik"


"Tentu saja, terutama keputusan dia memberikan kuasa pada anak sepertimu"


Rizal segera mengerutkan dahinya.


Toby memang terbiasa to the point dan tidak sopan. Meski tujuannya menemui Rizal adalah meminta bantuan, tapi caranya selalu membuat orang terasa tcerancam.


"Maksudmu?"


"Anak haram, yang bisa bilang hampir setengah Hidupnya dia buang. Namun tiba - tiba dia memungutnya dan memberi jabatan strategis usai dia menjabat direktur di sebuah perisahaan akuntan public terkemuka di Singapore" Jabar Toby.


"Dan yang lebih aneh, prestasinya yang hampir memenuhi kriteria sebagai partner, bahkan mungkin sudah di nominasikan menjadi partner, ahirnya memilih mundur dan mengikuti keinginan orang yang paling dia benci dan bekerja menjadi baby sitter dari para bisnisnya "


" Kamu terlalu berputar - putar, langsung saja "


" Aku yakin di antara kalian, ayah dan anak ada permainan saling mengancam. Tapi permainan kalian terlalu jauh hingga ke ranahku. Sederhana... "Toby menarik nafas dalam dalam dan menyandarkan punggungnya." Aku ingin dikeluarkan dari lingkaran permainan kalian "


Di luar dugaan, Rizal tertawa lepas dan terpingkal..

__ADS_1


" Keluar? " tanyanya saat tawa itu mereda." Ayahmu sendiri yang masuk "


" Tapi aku tidak... Jadi pisahkan kami"


__ADS_2