TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
penyesalan


__ADS_3

"Lepaskan Saya, Diego. Kamu mau apa?" El berontak tangan dan kakinya sudah diikat oleh Diego pada tonggak kayu.


"Lihat dirimu El, Kamu memakai baju pelayan? Apa kamu dijadikan suamimu pembantu?" Diego mendekatkan Wajahnya kepada El.


"Hm saya tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada kamu. memangnya kamu siapa ha?" Erik membentak El.


"Saya, kamu bertanya saya siapa? Saya adalah orang yang sangat mencintai kamu hahaha" Diego tertawa


"Oh ya Aku penasaran, siapa suami kamu itu sebenarnya? Apa dia sudah memberikanmu kebahagiaan?" Diego memegang dagu El dengan telunjuknya, El langsung memalingkan wajahnya.


"Itu bukan urusanmu sialan, Suamiku laki-laki terhormat bukan seperti kamu" El mulai emosi


"Sayang, kamu cantik sekali marah marah seperti itu membuat aku tambah suka saja. Aku suka bibirmu yang mungil dan merona ini membuat ku tambah suka saja" Diego meraba bibir El dengan Ibu jarinya.


"Lepaskan sialan" El berteriak tapi Diego tidak peduli.


"El kamu tahu kamu dan suamimu itu telah menyakiti aku. Pertama dia menggantikan aku dalan iklan kita di majalah kamu ingat?"


"Itu bukan kesalahan suamiku, bukan juga kesalahanku. Bukankah kamu yang tidak ada kabar kenapa menyalahkan orang lain"


"Pandai sakali kamu bicara ha" Diego mulai emosi dan menjambak rambut El.


"Oh ya satu lagi, saat award dia tampil di panggil menggendongmu seperti pangeran di negeri dongeng saja. Kamu tahu aku hampir memecahkan televisi dirumahku karena melihat wajahnya"


"Kenapa? Apa kamu iri melihat ketampanan suamiku? hahha" El tertawa.


"Berani kamu ya?" Diego mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir El


"Cuihh" El meludahi wajah Diego.


"Dasar wanita sialan. Plak" Diego menampar wajah El.


"Ahh" El merasakan perih menjalar ketelinganya


"Zzz Zzz" Hp Diego bergetar


"Halo" Dia menjawab telponnya dan meninggalkan El.


"Sayang, jemput aku. Aku takut, maafin aku keluar tanpa izinmu. Maafkan semua kenalakalanku hiks hiks" El menangis, dia teringat Erik yang selalu melindungi dan mengkhawatirkannya selama ini.


"Sayang, Aku takut" El mencoba meraih tas di samping namun tangannya diikat tali. Tangannya sudah memerah bekas tali itu menempel disana. Perih, itu yang dia rasakan sekarang.


El terus saja ingat Erik, dia menyesal telah kabur dari rumah suaminya. Rasanya dia ingin lari kedalam pelukan suaminya kini. Dia ingin merasakan tangan suaminya yang hangat, yang selalu menggosok punggungnya.


"Maafin Aku sayang hiks hiks" El menggumam penuh penyesalan.


***

__ADS_1


Erik dan sekretaris Jim segera melacak keberadaan El.


" Bagaimana mungkin dia berada di daerah sepi seperti itu? Setau saya itu adalah gudang PT pupuk yang sudah lama tidak beroperasi. Perasaan saya mulai tidak enak sekretaris Jim" Wajah Erik sangat khawatir, dia bahkan menggigit bibirnya beberapa kali dan menghela nafas dalam.


"Untung saya memasang pelacak lokasi di HPnya, untunglah keposesifan saya bisa melindunginya"


"Syukurlah Tuan muda, kita akan segera menemukan Nona"


Tak lama mereka sudah sampai di sebuah gudang, di depan terlihat mobil yang terparkir mereka segera mendekat.


Mereka membuka pintu, alangkah terkejutnya Erik melihat El terikat di tonggak kayu dengan bibirnya yang sudah berdarah.


"Sayang" Erik memeluk El, dan melepaskan ikatan tangannya


"Sayang maafin Aku, hiks hiks" El menangis memeluk tubuh Erik.


"Katakan apa yang terjadi Sayang, siapa yang menyakitimu seperti ini" Erik tidak bisa membendung emosinya lagi.


"Diego"


"Apa?"


Diego mengambil kayu hendak memukul kepala Erik, tapi tendangan sekretaris Jim sudah mendarat di tangannya membuat kayu itu terpental.


Erik segera berbalik, dan menatap Diego dengan tatapan tajam


"Baik Tuan Muda, berhati hatilah" Sekretaris Jim dan El memperhatikan Erik bertarung dengan Diego. Diego mengambil sepotong kayu, dia kelihatan ketakutan melihat ketenangan Erik.


"Sekretaris Jim, Aku takut suamiku akan terluka" Bisik El khawatir.


"Tenang saja Nona, Tuan sudah sabuk hitam di karate. Saya rasa dia masih dengan mudah mengalahkan diego" Sekretaris Jim yakin dengan kemampuan Erik.


"Plak" Kaki Erik mendarat di wajah Diego membuat Bibirnya pecah.


"Ahh" Dia meringis Erik menambahkan lagi, hingga darah bercucuran dari bibirnya.


"Bagaimana rasanya, itu balasan kau telah menyentuh istriku" Diego membalas tapi langsung di tepis Erik.


Diego kewalahan Tinju Erik mendarat diulu hatinya membuat dia tersungkar. Erik menempelkan sepatu kekepala Diego.


"Cepat minta maaf" Erik menyeret Diego ke kaki El.


"El, Maffin Aku. Aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi" Diego bicara dengan meringis sambil memegang kaki El.


"Jangan sentuh" El segera menarik kakinya.


Tak lama polisi datang dan membawa Diego, dia memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

__ADS_1


"El sayang" Erik kembali memeluk El.


" Ayo kita pulang sekretaris Jim"


"Baik Tuan" Erik menggangkat tubuh El menuju mobil, El melingkarkan tangan di leher Erik. El membenamkan wajahnya ke dada Erik. Air matanya bercucuran membuat kemeja Erik menjadi basah. Erik merasakan cairan hangat di dadanya. Dia tau El sedang menangis dia menatap El sejenak dan masuk ke dalam mobil.


Sekretaris Jim kembali mengemudikan mobil kali ini dia membawanya dengan agak santai.


Erik mengambil tisu dan membersihkan luka El


"Aw sakit sayang" El meringis


"Siapa suruh kamu nakal" Erik menjawab datar


"Sayang maafin Aku, Aku menyesal aku tahu Aku salah. Maafin Aku sayang aku tidak akan nakal lagi hik hiks"


"El, Aku sedang tidak mau membahas itu di depan sekretaris Jim" Erik tidak membalas pelukan El


"Kenapa Sayang? Apa kamu marah? Kamu nggak mau maafin Aku?" El masih memeluk Erik.


"Lepasin dulu El" Ucap Erik


"Nggak mau" El merengek


"Apa kami tidak malu dilihat sekretaris Jim"


"Sekretaris Jim, kamu tidak melihat kan?" El masih memeluk Erik


"Tidak Nona, saya tidak melihat"


"Tuh kan sekretaris Jim tidak lihat" El mempererat pelukannya


"Sayang, jangan marah lagi ya" El menciumi bibir Erik. Erik tidak menyangka El jadi agresif bahkan di dalam mobil sekalipun.


"El"


Erik mencoba bernafas, tapi El menghujamnya lagi kali ini semakin dalam membuat Erik terbuai dan mulai membalasnya.


Sekretaris Jim hanya geleng-geleng kepala. Jiwa jomblonya merasa terbakar melihat Nona dan Tuannya.


"Sayang" El mencium lagi pipi Erik.Sebenarnya Erik ingin sekali balas mencium istrinya itu. Tapi kali ini dia harus lebih tegas sedikit.


"El, saat ini kita fokus kepada penyembuhan lukamu. Nanti kita bahas lagi masalah ini" Erik menatap El sendu. Di bola matanya terpancar kekecewaan yang dia sembunyikan membuat El semakin berdosa saja.


El menelan ludah.


"Baiklah Sayang, aku memang salah. Aku pantas dihukum Hukumlah Aku untuk menebus kesalahanku" El tertunduk menahan penyesalannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2