
Erik meletakkan tubuh El perlahan di ranjang. Dia menatap El dengan senyuman. Erik berdiri dan mulai membuka jasnya sambil senyum senyum sendiri mengingat pertengkaran tadi. Dulu dia sangat berharap bisa dicemburui pacarnya, tapi sekarang dia malah dicemburui istrinya. Ternyata dicemburui itu ada bahagianya juga, bukankah cemburu bagian dari cinta yang kuat.
Erik mengambil beberapa lembar tisu, mulai membersihkan beberapa sisa make up El yang belepotan. Dia membersihkan dengan perlahan wajah cantik istrinya itu. Di area matanya masih agak sembab.
"El kenapa kamu meratap begitu lama untuk hal yang sesungguhnya tidak pernah terjadi?" Gerutu Erik.
Setelah wajahnya bersih Erik menyelimuti El dan mulai mengambil posisi disampingnya. Dipandang terus wajah istrinya sambil membelai-belai rambut istrinya itu.
Erik menunggu kapan istrinya akan bangun.
Lama dia masih menatap dengan senyuman dan penuh cinta.
Tak lama El menggeliat, dia mulai membuka mata meski serasa agak berat.
"Udah bangun sayang?" Sapa Erik dengan senyuman
"Hm" Jawab El sambil menutup wajahnya dengan selimut.
"Lho kok ditutupi gitu sayang?" Erik tertawa kecil.
"Sayang, ayo kita makan malam" Kamu pasti capek
"Baiklah" El segera turun dari ranjang untuk makan malam. Dia masih agak sedikit jutek, mungkin masih ada sisa kekesalan dihatinya.
Makan malam berlangsung dengan penuh keheningan. El masih mengunyah nasi dalam diam.
"Sayang" Erik mulai membuka pembicaraan
"Hm" El menjawab dengan dingin
"Sayang, masih marahkah?" Erik menatap mata El, tapi El tak mau menatapnya.
"Hm"
"Sayang, jangan hm hm aja dunk Sayang"
"Hm"
"Ya Tuhan, segini amat kalau istriku ngambek ya" Pikir Erik.
***
Setelah mengganti baju tidur El hendak mencuci muka ke kamar mandi. Dia masih mencueki Erik yang sedari dari mengajaknya ngobrol. Meski dalam perkara ini Erik tidak salah, tapi entah kenapa dia masih terbayang-bayang Erik memeluk miranda tadi. Walaupun itu bukanlah sebuah kesengajaan tapi tetap saja membuat dada El sakit, dia tidak bisa lupa begitu saja.
Erik sudah menunggu El di ranjang. Namun El merebahkan diri di sofa.
" Sayang, kok tidurnya di sofa?" Erik menatap El
"hm"
"Sayang, Udah dong ngambeknya" Erik menghampiri El dia tidak tahu harus bagaimana ternyata di cuekin istri itu sakit.
__ADS_1
"Sayang" Erik mencoba membelai rambut El tapi El hanya diam tidak bereaksi.
"Sayang, maafin aku ya please" Erik menciumi jari tangan El. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Tampaknya El memang sudah membeku seperti Es membuat Erik frustasi.
"Tuhan bagaimana caranya supaya istri saya nggak jutek lagi ya" Erik mulai putus asa.
"Tidurlah di ranjang, aku keluar sebentar ya" Erik melangkah keluar
El hanya memandangi punggung Erik yang berlalu tapi tak berusaha menahannya.
Erik yang galau memutuskan keluar untuk mencari angin. Dia tidak tahu harus bagaimana hatinya terlalu sakit dengan sikap dingin El.
"Ahhh" Erik mengacak rambutnya
Lalu mengemudikan mobil dengan kencang.
***
Semenjak Erik keluar kamar El merasa bersalah. Bagaimana dia bisa menghukum Erik seperti itu untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. El merasa khawatir dan memutuskan untuk keluar kamar. El tidak menemukan Erik dimana-mana. Dia mendapat informasi dari pelayan kalau Erik telah pergi dengan mobil.
"Sayang, kamu kemana? maafin aku ya" El mengambil Hpnya dia akan menghubungi Erik. Tapi dia tidak melakukannya, dia gengsi menghubungi Erik duluan.
"Udah jam dua belas, Erik kok belum pulang ya?" El mondar mandir menanti Erik di teras rumah"
"Maaf Nona, apa tidak sebaiknya Nona menunggu Tuan di dalam karena sudah malam" Seorang pelayan menasehati El.
"Saya ingin menunggu disini saja" Tolak El.
"Tapi tuan muda akan marah kalau Nona nanti masuk angin" Ucap pelayan
"Tuhan, kenapa aku khawatir kayak gini Ya"
El menutup wajahnya dengan selimut, tapi tak kunjung membuat dia tertidur.
"Erik, kamu dimana hiks hiks" El mulai menangis.
Diambil lagi Hpnya, hendak menghubungi Erik tapi diurungkan niatnya.
"Zzz Zzz" tidak lama HPnya bergetar
"Halo dokter Rehan"
"Halo Nona El, Tuan muda mengalami kecelakaan. Sekerang sedang di rumah sakit" Ucapan dokter Rehan bak petir yang menyambar di siang bolong
"Apa dokter, bagaimana keadaan suami saya dokter apa dia tidak apa-apa hiks" El menangis membuat dokter Rehan menjadi tidak tega
"Ada luka di bagian kepala sekarang Tuan muda belum sadarkan diri" Ucap dokter Rehan
"Saya akan segera ke sana" El berlari dengan baju tidurnya dengan sandalnya yang belang karena panik.
El mengajak Lela untuk segera ke rumah sakit, Lela tidak mau bertanya banyak karena dia tahu kondisi sekarang sedang rumit.
__ADS_1
El menangis sepanjang perjalanan, dia sangat khawatir dengan keadaan Erik.
"Sayang maafin aku" Lirihnya.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit milik papanya Erik.
Setelah bertanya pada bagian informasi, El langsung berlari menemui Erik. Dia tidak peduli lagi dengan penampilannya sekarang.
dia membuka pintu, tampaklah suaminya terbaring tidak sadarkan diri dengan kepala yang sudah di perban.
"Sayang", El berlari memeluk Erik
Sementara dokter Rehan kaget dengan penampilan El
" Nona El, segitu khawatirnya sampai tidak sadar sandalnya belang" Pikir dokter Rehan
" Sayang, jangan tinggalin aku. Aku sayang sama kamu. Maafin aku tadi jutekin kamu" Sayang El meraba wajah tampan suaminya, dia masih meraung-raung.
"Sudahlah Nona El, tenangkan dirimu Nona" Ujar dokter Rehan
"Erik, bangun Rik. Maafin aku Rik hiks hiks" El malah menangis sejadi jadinya.
"Sakit" Erik meringis memegang kepalanya
"Sayang kamu sudah sadar? Syukurlah El langsung memeluk Erik. Dokter Rehan terkekeh melihat Erik, Erik mengedipkan sebelah matanya pada dokter Rehan, sementara Lela masih tidak mengerti apa yang terjadi
" Sayang, kamu sayang kan sama aku?" Erik memegangi tangan El
"Iya sayang, aku sayang banget sama kamu"
"Jangan jutek lagi ya" Erik memohon, Dokter Rehan semakin geli melihat adegan konyol itu.
"Dokter, suami saya tidak apa-apa kan dokter?"
El menatap dokter Rehan dengan wajah khawatir.
"Semua akan baik-baik saja Nona" Setidaknya aku tidak berbohongkan pikirnya.
"Sayang peluk lagi"
Erik merangkul tubuh El dan menciumi rambutnya, El merasa malu kepada Lela dan dokter Rehan. Namun tingkah Erik seperti anak kecil saja. El terpaksa menuruti karena Erik sedang sakit. Dengan wajah merona merah dia memeluk Erik.
"Sayang" Erik mengetuk ngetuk pipinya isyarat ingin dicium
"Sayang" El merasa sungkan dan melihat ke arah dokter Rehan dan Lela
Dokter Rehan pura-pura main Hp, sementara Lela hanya hanya mematung dan berusaha bersembunyi dibalik dokter Rehan
"Saya harus bagaimana dokter?" Bisik Lela
"Tenanglah di belakangku!" Ujarnya pelan.
__ADS_1
"Oh ya Lela, temani aku keluar sebentar yuk!" Dokter Rehan menarik tangan Lela mereka pun berlari keluar meninggalkan dua suami istri yang bertingkah konyol itu.
bersambung