
El masih menangis di pelukan Erik, memukul dadanya dengan tangannya mencurahkan semua rasa kecewanya.
"Kenapa kamu jahat Rik? Kenapa kamu curangi aku disaat aku sudah sayang banget sama kamu!" Tangan itu masih memukul dadanya, namun dia tetap memeluknya membelai rambut El dan menggosok punggungnya. Erik mengerti El merasa terluka, bukankah saat ini El sangat butuh di dengar? Jadi dia mendengar saja semua keluhan istrinya itu.
"Kamu jahat Rik, kenapa kamu berselingkuh? Apa kamu sudah tidak mencintaiku? hiks hiks" El terisak. Namun Erik masih memeluk dan membelai rambutnya. Perlahan tangan El yang tadi memukul dadanya sudah mulai melemah. El sudah pasrah dipelukan Erik.
"Aku Sayang sama kamu El" Bisik Erik di telinga El.
"Bohong! Lalu kenapa kamu selingkuh? Apa karena aku tidak secantik Miranda?" El selalu menyudutkan Erik dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya. "Kalau aku jawab dia pasti bilang aku bohong lagi!" Erik terdiam beberapa saat.
"Kenapa diam? Memang benar seperti itu?" Ucap El.
"Nggak Sayang, Kamu sangat cantik daripada Miranda" Ucap Erik lembut.
"Oh jadi kamu mencintaiku hanya karena aku cantik? begitu?" El marah lagi dia mencoba melepas pelukan Erik tapi Erik masih memeluknya erat.
__ADS_1
"Aduh Tuhan, kenapa sih manusia yang namanya perempuan ini ribet banget. Dijawab salah nggak dijawab salah" Bisik hati Erik.
"Nggak Sayang, aku tulus menyayangi kamu" Erik menciumi kepala El dan menggosok punggungnya seperti anak kecil.
"Tapi kenapa kamu tega sama Aku? Rik, kamu tahu Aku sangat sayang sama kamu. Aku bisa melihat Miranda itu suka pada kamu dari awal. Kamu pura-pura tidak tahu atau bagaimana sih? Apa kamu memang pura-pura bodoh". El terus saja mengoceh, namun Erik hanya mendengarkan dengan sabar. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar pengakuan El.
"Rik, kemaren itu dia kelihatan tidak suka aku mengantarkanmu makanan. Dia melihat aku seperti saingan yang mengancamnya. Dia itu pura-pura ramah sama aku Rik tapi aku berusaha bersikap wajar toh dia tidak ngapa-ngapain sama kamu. Aku mulai lega kamu sudah berjanji untuk tidak kontak fisik dengan dia dan tidak menatapnya lebih dari dua detik. Aku berfikir mungkin aku yang lebai dan terlalu cemburuan sama kamu" Lagi-lagi Erik hanya tersenyum kecil, dia masih membelai-belai rambut El yang sudah pasrah itu. Mungkin tenaganya sudah habis karena kegilaannya tadi. Lagipula seorang wanita yang merajuk sesungguhnya hanya perlu di dengar tidak perlu dilawan. Begitu pikir Erik.
"Kemaren saat aku membereskan jas kerjamu, aku merasakan benda keras di saku jasmu. Alangkah terkejutnya aku, ternyata benda itu lipstik. Kamu tahu dadaku serasa meledak saking kerasnya debaran jantungku. Hatiku seperti ditikam benda tajam rasanya sakit dan sesak. Makanya aku langsung ke kantor kamu, tadinya aku mau minta jawaban tapi aku malah lihat kamu berpelukan sama Miranda. Kamu tahu Rik, rasanya aku ingin jambak rambut Miranda. Tapi aku tidak mau,aku takut kamu malu dikantor nanti hiks hiks" El terisak lagi.
"Rik, sekarang aku merasa lelah, mataku sakit rasanya sulit untuk dibuka. Mungkin karena sudah sembab dari tadi aku menangis. Kalau kamu tidak lagi mencintaiku ceraikan saja aku dan pergilah bersama Miranda" kali ini air mata ikut menggenang di pelupuk mata Erik, bagaimanapun sekarang istri yang dia cintai sedang terluka dan kecewa. El lalu dia terdiam rasanya sudah semua dia katakan tadi.
"Sayang, pertama kali aku minta maaf. Aku tidak menyangka bakal kejadian seperti ini. Maafkan aku tidak jeli membaca hati orang lain sehingga menyakiti kamu seperti ini" El menciumi kepala El dan membelai rambutnya penuh kasih sayang
"Aku dan Miranda memang tidak ada hubungan yang spesial. Selam ini Aku dan Miranda selalu bersikap wajar, karena itu Aku tidak sadar dia menjebakku seperti ini" Erik menghela nafas membayangkan kelakuan Miranda hampir saja merusak rumah tangganya.
__ADS_1
"El, dimataku kamu sangat cantik, tidak sebanding dengan Miranda. Meski Aku mencintaimu bukan karena itu, tapi kamu harus tahu dimataku kamulah wanita tercantik di dunia ini Sayang" Erik masih memeluk El.
"Selanjutnya, jangan pernah mengucapkan kata cerai lagi. Kamu tahu aku tidak akan pernah menceraikan kamu El. Kamu akan menjadi Ibu dari anak-anakku nanti. Jadi aku mohon jangan pernah mengucapkan kata cerai lagi please!" Erik memohon dan memeluk El semakin Erat.
"El janji ya Sayang, jangan pernah bilang cerai-cerai lagi!" El mengangguk, saat ini hatinya mulai lega, meski dia belum percaya seratus persen. Tapi beban dihatinya perlahan mulai menguap karena sikap Erik yang sabar menghadapinya. Badannya sangat lelah, matanya terasa sakit dan berat untuk dibuka. Dia sudah pasrah dipelukan suaminya. Dia tak punya tenaga lagi untuk melawan, berteriak dan melempar seperti tadi. Dia merasa sudah menjadi wanita yang gila hari ini, namun setidaknya dia sudah dapat meluapkan semua kekesalan dan emosinya, membuat dia sedikit lega. Lama Erik masih memeluk El menggosok punggungnya perlahan dan tak henti menciumi kepalanya. Dia merasa sangat bersalah kepada istrinya itu.
"Sayang, kamu mau kan maafin aku?" Bisik Erik di telinga El, namun tidak ada jawaban Erik melepaskan pelukannya perlahan mencoba menatap wajah istrinya itu. Ternyata istrinya telah tertidur dengan riasannya yang berantakan, rambutnya acak-acakkan dan matanya yang sembab. Namun dia tetap cantik, ya bagi Erik El memang selalu cantik bagaimanapun keadaannya.
"Sayang, kamu sudah tidur ya? kamu pasti capek seharian menangis dan berontak seperti tadi. Ayo kita pulang Sayang" Erik menciumi kening, mata dan bibir El. Lalu dia menelpon seseorang untuk membatalkan segala pertemuannya malam ini. Dia hanya ingin langsung pulang tak ingin meninggalkan istrinya dalam kondisi seperti itu.
Kemudian menelpon seorang supir untuk menjemput mereka ke apartemen El. Erik mengangkat tubuh El perlahan menuruni tangga dan masuk kedalam mobil. Erik menatap istrinya dan segala kelakuannya tadi. Ternyata wanita itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat kalau dia sedang marah. Erik terkekeh ketika ingat El melemparnya dengan bantal, dengan lipstik dengan Vas bunga, apapun dia lemparkan karena kesal. Dia menjadi geli ketika El marah-marah sambil berkacak pinggang selama ini El tidak pernah seperti itu.
"Kenapa kamu jadi lucu sekali Sayang?" Erik menghapus sisa-sisa air mata El dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku Sayang" Bisiknya lirih, tiba-tiba dia ingat Miranda, kenapa wanita itu tega menjebaknya.
__ADS_1
"Miranda, Kamu harus membayar semua ini!" Ucapnya penuh rasa kekesalan.
bersambung