TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Menjadi Istrimu Saja


__ADS_3

"Sayang pakai yang ini saja" El memilihkan salah satu dasi dalam lemari.


"Ok Sayang" El membantu memasang dasi


dan mengambil sepatu Erik.


"Sayang, Aku bisa sendiri kok" Erik menatap El yang yang sedang membawa sepatu Erik


"Jangan banyak protes ya" El mendudukkan Erik ditepi ranjang. Dan mulai jongkok dihadapan Erik. Dengan perlahan dia memasangkan kaus dan sepatu seperti anak kecil saja.


"Sayang"


"Iya" El mendongak,


"Cup" Satu ciuman mendarat di pipinya.


El tersenyum


"Mau lagi?" El tersipu


"Cup" Kali ini mendarat di bibir El.


El memeluk Erik dengan pelukan hangat.


Akhir-akhir ini El sudah jauh berubah, dia melayani Erik dengan sangat baik. Baginya Erik memanglah suami sekaligus penyelamat hidupnya. Mungkin tidak terhitung berapa kali kecerobohannya mengundang marabahaya, dan suaminya itu selalu menyelamatkan hidupnya.


"El, kamu bangun jam berapa? setiap Aku bangun semua telah tersedia" Erik mematut tubuhnya di kaca.


"Jam lima Sayang" El merapikan tempat tidurnya.


"Sayang kalau kamu kecapean kan kamu bisa minta bantuan pelayan"


"Sayang, Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu. Apa itu salah?" El duduk di tepi ranjang


Erik mengambil sisir dan mulai menyisir rambut El.


"Nggak kok Sayang, asalkan kamu bahagia" Erik menciumi kening El dan memeluk kepalanya ke dada Erik.


El tersenyum.


"Ayo kita sarapan Sayang, nanti kamu bisa terlambat"


El menarik tangan Erik menuju meja makan.


Rupanya sekretaris Jim telah berdiri di sisi meja makan.


"Selamat pagi Tuan dan Nona" Sekretaris Jim memberi hormat.

__ADS_1


"Selamat pagi sekretaris Jim, Apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Erik


"Baru lima belas menit Tuan" Ucap sekretaris Jim


"Sekretaris Jim, ikutlah sarapan bersama kami. Sampai kapan kamu jadi patung disitu?" El menggerutu sambil menuangkan beberapa sendok nasi goreng ke piring Erik.


"Terimakasih Nona" Sekretaris Jim tersenyum, sesaat kemudian wajahnya kembali datar.


"Sayang, tolong carikan sekretaris Jim seorang kekasih. Aku yakin dia seperti itu karena kurang belaian wanita. Biar hidupnya rileks sedikit" Ucap El serius.


Erik terkekeh.


"Sayang, Apa aku terlihat seperti orang yang lihai dalam hal itu. Dulu Aku juga tidak pernah pacaran, bahkan dibilang gay".


" Bagaimana kalau kita jodohkan saja dengan Lela, Lela gadis yang baik dan pintar. Aku rasa sekretaris Jim akan suka" El bersemangat


"Bagaimana sekretaris Jim?" Erik menatap sekretaris Jim sambil mengunyah nasinya.


"Iyakan saja sekretaris Jim, agar istriku bahagia" Begitu arti tatapan mata Erik


Sekretaris Jim, tersenyum dia seolah tersipu


"Sayang, sepertinya sekretaris Jim tidak menolak"


"Oh ya, Baiklah kita akan atur kencan mereka" El mengunyah makanannya sambil tersenyum


"Sayang, kenapa kamu mengkhawatirkan seorang playboy?" Bisik hati Erik


"Sayang, nanti siang aku antarkan makan siang ya"


"Oh ya? Apa kamu akan memasak lagi untukku?"


"Tentu"


"Sayang, nanti kamu capek. beristirahatlah" Erik menggenggam tangan El


"Sayang, Aku nggak capek kok. Aku malah senang sayang, memasak itu ternyata menyenangkan" El bersemangat


"Baik Sayang, asal kamu bahagia ya" Erik tersenyum


"Aku bahagia Sayang, Aku bahagia saat Aku menyiapkan sarapanmu. Aku bahagia saat Aku memakaikan kaus dan sepatumu. Aku bahagia saat menunggumu pulang. Dan yang pasti Aku sangat bahagia bisa sering keramas tiap pagi" celetuk El.


"Apa?" Erik terkekeh


"Mulai nakal ya sekarang"


Erik menggelitik pinggang El

__ADS_1


"Sayang geli" Rengek El manja.


Sekretaris Jim ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan Nona dan Tuannya.


"Sayang, Aku mau strawberry"


"Iya Sayang" Erik mengambil strawberry dan menyodorkannya ke mulut El.


"hm nggak mau" El memanyunkan bibirnya.


"Tapi katanya mau strawberry?" Erik menatap El yang merajuk.


"Iya suapinnya pakai mulut dong" Ucap El merengek


"Apa?". Erik tersipu dan menatap sekretaris Jim, Sekretaris Jim masih berwajah datar seperti tidak terjadi apa-apa.


" Ayolah" Erik menyematkan strawberry itu dibibirnya dan mendekatkan ke bibir El.


El menggigit strawberry yang ada di bibir Erik. Seketika bibir mereka menyatu, Erik merasakan hembusan hangat nafas El dan lembut bibirnya.


Erik tersenyum memandangi El mengunyah strawberrynya. Seketika sekretaris Jim merasa atmosfir udara semakin panas, apalagi dia seorang playboy yang baru saja menjomblo.


"Gimana rasanya sayang" Erik menghapus cairan strawberry di bibir El.


"Enak Sayang, Orang jomblo pasti nggak bakalan tahu rasanya" El melirik sekretaris Jim.


Erik terkekeh


"Sadahlah Sayang, jangan terus-terusan membully sekretaris Jim" Erik membelai rambut El


"Iya-iya sayang, Aku berjanji tidak membullynya lagi kalau dia sudah berpacaran dengan Lela" Ujar El sambil meneguk air putih.


"Aku juga ingin dia menjalani hidup normal. Tidak menjadi patung terus menerus. Kalau dia punya pacar bakalan ada yang memperhatikan dia, sehingga hidupnya jadi lebih berwarna dan rileks. Lanjut El.


"Terimakasih Nona, dibalik tingkah anda yang selalu membully saya. Ada perhatian yang anda sematkan disana. Anda sungguh wanita yang hangat walau terkadang anda suka jail juga" Bisik sekretaris Jim.


"Sayang, Kamu telah menjadi istri yang sangat baik untukku. Sebagai hadiahnya Aku akan mencabut larangan pemotretanmu. Jadi mulai hari ini kamu boleh ikut pemotretan lagi. Tapi dengan catatan kamu harus diantar Lela dan tidak boleh pergi sendirian". Erik menatap El serius.


" Sayang, terimakasih telah menjadi suami yang sangat pengertian untukku. Tapi Aku tidak tertarik lagi jadi model sayang. Aku telah sangat bahagia menjadi istrimu saja. Aku tidak mau lagi menghabiskan waktu diluar. Nanti waktuku akan tersita dan tidak bisa melayanimu dengan baik. Kamu pernah bilang kita harus berkorban sesuatu yang berharga untuk sesuatu yang lebih berharga lagi. Bagiku kaulah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku Sayang. Dulu waktu Aku kecelakaan kau rela melepaskan profesi dosenmu hanya untuk merawatku, lalu kenapa Aku tidak bisa melepaskan profesi modelku untuk mengabdi kepadamu? Saat Aku diculik diego, Aku sadar kenapa kamu selalu memberi aku pengawalan. Ternyata aku begitu tidak berdaya diluar sana, bahkan kalau kamu tidak datang waktu itu Aku tidak tahu apa sekarang kita masih bisa bergenggaman tangan seperti ini?" Mata El berkaca-kaca mengingat kejadian itu, perlahan air bening itu mulai jatuh


"Sudahlah Sayang, Sekarang Diego sudah dipenjara. Dia tidak akan bisa menggangu kamu lagi. Jadi kamu tidak usah khawatir lagi ya" Erik mengusap air mata El dengan Ibu jarinya.


"Sayang, terimakasih ya" El menciumi jemari Erik


"Iya Sayang" Erik membelai rambut El, Dia juga tidak bisa membayangkan seandainya dia terlambat sedikit saja. Diego bisa saja memperkosa El seperti yang akan dilakukannya tempo hari di apartemen El.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2