
Kerumunan wartawan segera memenuhi area sekitar kantor agency dan tentu rumah Toby.
Berita manipulasi pajak ibu Toby melalui gallery seninya mulai menghiasi headline berita pagi ini.
Kerumunan wartawanpun sudah tidak bisa di hindarkan.
Ada rasa bersalah di hatiku, msski sebagian mengatakan bahwa ini bukan salahku.
Kehadiran rizal hanyalah alat membuka fakta dari sisi gelap ibu Toby. Yang bahkan keluarganya sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.
Dan aku, sekali lagi adalah tumbal dari peristiwa dalam hidup Toby.
"Jadi.. Kira kira mana yang kamu suka,?" Suara Tia mengingatkanku pada daftar panjang tentang tawaran pekerjaan untukku.
"Aku belum selesai" Kilahku.
Beberapa tawaran pekerjaan memang sudah seperti kriteriaku. Tapi serasa ada yang janggal.
Toby saat ini kehilangan banyak pekerjaan. Tapi justru aku yang kebanjiran pekerjaan.
I smell something fishy...
Selain istri Toby, kehidupanku tidak begitu mencolok. Sonia yang menggantikanku di acara jam 6 pagi, juga mulai mendapat tempat di hati para audience.
Secara tidak langsung, sebenarnya sisi diriku yang lainsudah mulai dilupakan.
Aku mengarahkan netraku kepada Tia yang sibuk dengan laptopnya. Dia pasti sedang menghiasi social mediaku dengan gambar - gambar candid yang sudah tersebar di berbagai tempat.
Wajahnya yang terkadang suram adalah cerminan karena hampur tak ada yang baru yang bisa di ambil dariku, mengingat frekuensiku di tempat public sangatlah minim.
"Sudah...?" Tanya Tia sekali lagi.
__ADS_1
Aku melempar senyum dan menggeleng.
"Apakah memungkinkan aku berdiskusi dulu dengan Toby?"
"Tentu saja, tapi bukan moment yang bagus" Tia mengambil kembali kertas kertas berisi tawaran pekerjaan di hadapanku "Apakah kamu tahu kalaubToby yang memilihku?"
Kenyatannya tidak..
"Aku perlu memberi kesan baik padanya" Lanjut Tia yang kemudian kembali memberikan beberapa lembar daftar pekerjaan kepadaku dan menyimpan beberapa yang lain.
"Aku mengerti..." Aku menerima dan memasukkan pada map kulit yang selalu tersedia di rak buku ruang tengah kami.
"Untuk itu... Apakah bisa kami meninggalkan aku dan Toby sendiri, hingga aku memghubungimu?"
Tia mengerutkan keningnya.
"Jangan khawatir, gajimu tetap aku bayar beserta bonusnya. Dan aku akan memberikan cerita yang baik tentangmu" aku menorehkan senyum di ahir kalimat.
*****
Asal usul tidak jelas, prestasi yang standard dan fisik yang rata - rata. Sangat rata...
Jika aku membandingkan diriku dengan wanita yang tampil dalam iklan di layar TV.
Begitupun untuk manager seperti Tia. Asumsiku dia ingin mendapatkan Toby dengan melompat dariku.
Jadi bagaimanapun, aku tidak bisa lepas dari takdirku menjadi bagian dari Toby.
*****
Aku menghitung beberpa botol di bar yang mulai aku hafal satu demi satu.
__ADS_1
Uhf... Semua masih utuh..
Ah... Ada satu yang baru... Sebuah botol dengan ukuran lebih besar kombinasi clear glass dan biru.
Seingatku botol itu ada dengan isi yang sudah berkurang sejak Toby tiba dari Hongkong.
Tapi sekarang...?
Uhf... Botol itu sudah di tempat sampah.
Aku beralih ke basement di mana Toby menyimpan koleksi wine miliknya dengan sangat penuh perhatian.
Satu.. Dua... Aku mulai menghampiri rak demi rak, memastikan semua isinya masih penuh. Dan...
Ada dua botol yang kosong.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya peelahan.
"Masalah dan Alcohol" desisku ringan "Itu bisa jadi rumit" Aku segera beranjak dan mencari Toby apabila mungkin dia sudah pulang.
Drrrt... Drrrtg,
"Apa kamu mengantar Toby pulang?" Tanyaku pada Albert yang mengangkat telphonku lebih cepat dari biasanya.
"Aku rasa seharusnya dia sudah tiba di rumah, aku menurunkannya lewat gerbang belakang perumahan kalian"
"Apakah dia tidak ada jadwal hari ini"
"Seharusnya dia istirahat hingga dua hari lagi sebelum tournya di jepang"
"Jadi... Toby pasti tidak kemana - mana?"
__ADS_1
"Kamu tidak bisa menemukannya di rumah?"