
"Seharusnya kamu memberi tahuku lebih awal soql kondisimu, hingga aku bisa membantumu untuk meminimalis resikomu"
"Bagaimana bisa mengantisipasi apabila semua kontrak sudah kita setujui?" Perlahan Toby menurun kaca jendelanya saat mereka melintas di jalan Tol "Semua jadwal harus terus berjalan, pekerjaanku bukan hanya soal aku, tapi juga yang lainnya"
"Jadi bagaimana keputusanmu?"
"Kita lihat saja usai bertemu dengan sutradara" Toby kembali menutup jendelanya dan memandang lurus ke arah jalanan yang nampak lebih sepi."Apakah penulis naskah juga hadir?"
"Rencananya seperti itu, tapi belum ada konfirmasi"
****
Gedung Agency tempat Toby bernaung perlahan mulai terlihat. Namun, tentu saja kerumunan wartawan telah memadati pintu utama.
"Kenapa mereka todak bisa bersabar, hingga aku melakukan pengumuman?"Keluh Toby" Apakah kamu sudah mengatur soal konferensi persnya? "
" Tentu saja! "jawab Albert yakin seiring memutar kemudi untuk menuju pintu loading gedung di area belakang.
****
" Seperti rumor yang beredar kamu memang memiliki aura yang kuat, sejujurnya kamubmemang cocok untuk peran ini."Sambut Sang Sutradra begitu Toby mengambil duduk di hadapannya.
" Langsung saja, aku tidak suka yang berbelit belit"
"Apakah karena sibuk dengan berita yang beredar?"
Toby hanya diam dan mulai membaca naskah tentang film yang sedang mereka bahas
"Sepertinya kamu tahu bahwa berita tentangmu kurang baik. Apakah semua itu Sebenarnya adalah nyata"
__ADS_1
"Kamu bisa mencari siaran ulang semua hasil konferensi persku, aku selalu tidak pernah menghindari masalah"
"Aku tidak tertarik dengan apa yang tersaji di media, aku lebih tertarik hal yang nyata. Kita sama - sama tahu bagaimana dunia tempat kita bekerja"
Segurat senyum tipis Toby menyeruak. "Semua kebohongan sudah mulai terbukti kebenarannya. Kalau masalah oeang tuaku..." Toby mengambil nafas sejenak " seharusnya itu bisa dipisahkan, mengingat aku sudah lama tidak tinggal bersama mereka dan lebih lagi aku tidak ada kaitannya"
"Soal nepotism...?"
"Well kalau nepotism aku tidak perlu susah mengantri untuk audisi pada masa awalnya. Tapi apabila memang nepotism itu terjadi. Popularitas itu tidak bisa di hasil kan dengan korupsi, bakat dan ketekunan hanya satu satunya cara memenangkan hati public"
"Pembelaan yang bagus, Tapi nepotism tetap nepotism, dan yang aku dengar para investor proyek yang kamu bintangi adalah ibumu. Yang kita tahu saat ini, bahwa uangnya sedikit diragukan kebersihannya"
Brak..?!
Toby menutup cukup keras naskah di tangannya.
"Kalau kamu sebenarnya enggan bekerja denganku, aku tidak masalah. Aku juga sedang mengemis pekerjaan"
"Semua karya memiliki resiko, asal resiko itu bukan karena karyanya yang jelek. Kalau untukku itu bukan masalah"
"Toby... Aku.."
"Aku tidak suka hal yang setengah setengah" potong Toby yang hilang minat mendengarkan ocehan sang Sutradara "kalau kamu takut! aku yang mengatakannya pada penulis naskah"
"Apa yang akan kamu katakan..? Kita bahkan belum membahas apapun?"
"Kalau kamu tidak suka dengan gossip tentangku"
"Tapi...."
__ADS_1
Toby mengarahkan telapak tangannya "Inikah alasanmu meminta bertemubdenganku lebih awal?" perlgan tubuh tegapnya kembali berdiri "Apakah kamu sungguh berfikir bahwa aku akan mengubdurkan diri...? Apakah kamu justru ingin membujukju seperti itu..?"
"Aku hanya butuh pertimbangan, semua orang pasti ingin bersih Tob"
"Ckck.. Aku saja belum setuju dengan naskahnya.. Seharusnya pastikan dulu penulis naskahnya tidak mengincarku" kali ini dia mulai memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada sutradara. "Naskah itu yang datang padaku, jadi kamu sudah tahu kualitasku di mana?"
Tanpa ragu jemari Toby mendarat di ujung kerah sang sutradar.
Albert yang mengamati dari luar segera masuk berharap bisa mereda kemungkinan perselisihan yang lebih tinggi.
"Ehem...!! " Dia mencoba memperingatkan Artistnya agar tidak menimbulkan masalah.
Tobybmemejamkan matanya sesaat, jemarinya melonggar dan dia kembali berdiri tegak seperti semula. Wajahnya menoleh tegas ke arah Albert yang memberi kode untuk segera keluar ruangan.
"Ngomong - ngomong, aku masih sangat sibuk.. Aku akan bilang terus terang bahwa kamu adalah sutradara yang pengecut" Gumamnya kemudian, ketika langkahnya sudah di ambang pintu.
"Tob...semua orang pasti setuju denganku, aku sudah cukup berani untuk bilang padanya, bahwa kamu tidak akan popular selamanya" Pekiknya.
"Aku tahu.." Desis Toby pelan ketika sudah berada di luar ruangan.
"Ups..!!" Albert yang mengekor di belakang Toby tak sengaja menabrak Om Yoga yang baru saja melintas. Dokumen di tangannyapun jatuh berceceran.
"Kamu sakit Tob..." tanya om Yoga segera ketika melihar map bertuliskan medical check up.
"Tentu saja, aku bekerja cukup keras ahir ahir ini" jawab Toby santai sambil melenggangkan langkahnya.
"Ksmu mau ke mana?"
"Kami punya konferensi Pers di Aula" Jawab Albert yang baru berdiri dari memunguti kertas dan dokumen yang berceceran.
__ADS_1
"Tapi.. Aula sedang digunakan untuk pengenalan Artist baru"
"Apa??" Toby dan Albert saling memandang sesaat.