TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Bintang kecil dibawah bulan


__ADS_3

Hari-demi hari Erik lalui bersama El. Bahagia tentu itu yang mereka rasakan. Erik memandangi wajah El yang tertidur pulas di sofa. Akhir-akhir ini El menjadi manja sekali. Bahkan dia ikut kemanapun Erik pergi termasuk ke kantor.


"Ah sifatnya yang manja membuat ku bertambah cinta saja" Bisik hati Erik.


"Sayang, Ayo kita pulang. Kamu lelah sampai tertidur disini" Erik membelai rambut El.


"Udah malam Sayang?" El menatap sekitar


"Sudah, mari kita pulang" Erik dan El pulang diantar sekretaris Jim.


"Sayang, besok aku mungkin tidak akan ikut ke kantor" El menatap Erik sekilas.


"Kenapa Sayang? Bukannya kau telah menjadi sekretaris pribadiku dikantor. Beraninya sekarang minta izin" Erik menggerutu.


"Bukan begitu Sayang, Aku rindu sekali sama Mama dan Papa. Rasanya sudah lama Aku tidak bertemu mereka" El menunduk


"Tak apa Sayang, Aku hanya bercanda Kok. Ok besok kamu diantar Lela ya" Erik membelai pipi El.


"Iya Sayang" El tersenyum


Sesampainya di rumah El langsung menyiapkan air mandi Erik dan juga satu set pakaiannya. Semua telah dia siapkan.


"Sayang, airnya sudah siap" Teriak El dari kamar mandi.


"Iya Sayang, terimakasih ya" El lanjut menyampokan rambut Erik. Erik menikmati pijatan El, dia memang seperti bayi besar El.


Apapun kebutuhannya selalu dilayani oleh El.


Sehabis mandi El membantu Erik memasang kancing pakaiannya.


"Sayang, apa kamu ingat saat Aku membuka kancing bajumu untuk pertama kali" El menatap mata El.


"Ingat Sayang, bagaimana mungkin Aku lupa. Kamu wanita pertama yang melakukannya"


"Oh ya?, Bagaimana perasaanmu pada saat itu?".


" Sedikit berdebar" Erik tersenyum


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Aku juga berdebar sampai tanganku gemetaran" El tersipu malu


"Oh ya?" Erik terkekeh.


"Tapi Aku bersyukur, meski awalnya aku merasa terjebak dalam pernikahan ini tapi sekarang aku tidak ingin keluar dari jebakan itua"


Itulah namanya takdir Sayang, ada sesuatu uang kita rencanakan. Tapi ada sesuatu yang telah memang ditakdirkan"


"Sayang, Ayo kita keluar melihat bintang" El menarik tangan Erik


Mereka memandangi bintang lewat balkon atas.


"Bintangnya sangat banyak, maukah kuambilkan satu untukmu"

__ADS_1


"Oh ya, Aku tak mau satu. Aku ingin semuanya" Erik menatap bintang yang bertaburan diatas sana.


"Sayang, ada pepatah yang mengatakan. Jika kau rindu seseorang.Pandangi saja bintang diatas langit. Yakinlah dia juga menatap langi yang sama di sisi dunia yang berbeda" Ucap El menatap Erik sekilas. Entah kenapa kalimat El kali ini begitu dalam terasa.


"El, Aku hanya ingin menatap bintang dari belahan dunia yang sama denganmu. Jangan sampai dari sisi yang berbeda" Erik memegangi bahu El.


"Sayang, jika aku menjadi bintang. Aku ingin menjadi bintang yang dibawah bulan itu" El mengacungkan tangannya ke langit.


"Kenapa Sayang? kenapa kau ingin yang di bawah bulan itu?" Kata Erik penasaran


"Bintang yang dibawah bulan itu, ibarat mendapat cahaya dari bulan tersebut. Kamu tahu bulan itu seakan melindunginya dari kegelapan. Bulan itu seperti kamu yang selalu melindungiku. Melindungi bintang kecilmu yang tidak berdaya ini" El tersenyum sambil memeluk Erik.


"Tetaplah jadi bintang kecil disana, yang tidak akan pergi meninggalkan bulan" Erik mengecup kening El. Dibawah sinar rembulan yang terang.


"Aku berjanji, tetaplah menjadi bulanku. Dan jangan pernah mematikan lampu" Ujar El


Erik terkekeh memang selama ini dia sering mematikan lampu untuk menjaili istrinya itu.


"Iya Sayang, Aku akan menerangimu bahkan lebih terang dari bulan itu" Erik menepuk dadanya


"Janji"


"Janji" Mereka saling menautkan jari kelingking


dibawah sinar rembulan yang menjadi saksi. Malam itu begitu tenang dan hening. Angin yang dingin membuat mereka masuk lagi ke dalan kamar.


"Sini Peluk" El memeluk pinggang Erik.


Erik mengambil HPnya ingin melihat pemberitahuan yang penting disana.


Erik menatap El tak biasanya dia seperti itu. El seakan tak ingin melewatkan sedikitpun waktunya bersama Erik.


"Sayang, apa kamu sudah telat? Apa kamu hamil?" Tanya Erik menyelidik.


"Maaf Sayang, aku belum hamil" El tersenyum kecut.


"Tidak usah minta maaf, itu berarti kita harus bekerja keras lagi" Erik menatap El dengan tatapan nakal, sementara El segera memeluk bantal kepangkuannya


"Apa kamu sudah minum obat kuat?" El terkekeh.


"Kamu nantangin ya? Mau cari mati?" Erik segera mengambil bantal dipelukan El dan membuangnya kebawah. Dia menggelitik pinggang El dan menciumi perutnya.


"Sayang geli" El meronta sampai semua bantal berserakan kebawah.


Erik segera menyerang El, dan berharap mereka akan segera memiliki anak.


***


"Ayo kita berangkat Lela"


"Baik Nona" Lela segera mengemudikan mobil merah dengan nomor polisi XX itu.


"Nona, Apa anda tadi melihat perempuan yang berdiri di dekat mobil ini?" Lela menatap El dari spion dalam

__ADS_1


"Seorang wanita?"


"Iya seorang wanita sepertinya seumuran dengan Nona, Apakah itu teman Nona?"


"Hm Aku tidak melihatnya Lela?"


"Iya, perasaan saya tidak enak Nona. Dia


kelihatan mencurigakan" Lela mendadak menjadi khawatir membayangkan sosok wanita itu.


"Sudahlah Lela, sudah biasa saya diperhatikan seperti itu. Karena saya seorang model yang dulu kerap muncul di TV jadi wajar saja mungkin dia merasa pernah melihat saya" Ujar El meneguk air mineral di tangannya.


"Oh begitu Nona, Saya menjadi lega" Lela tersenyum. Dan lanjut mengemudikan mobil. Rumah Erik dan rumah orang tua El lumayan jauh, sehingga memakan waktu agak lama diperjalanan.


"Zzz Zzz" Hp El bergetar


"Halo Sayang"


"Iya Sayang, kamu dimana?"


" Ini Aku mau pulang bersama Lela"


"Baiklah kalau begitu, Bagaimana keadaan Papa dan Mama Sayang?"


"Iya keadaan Mama dan Papa sehat-sehat saja, mereka sangat senang Aku tadi berkunjung ke


rumah"


"Syukurlah Sayang, nanti kita akan sering berkunjung ke rumah Papa dan Mama diakhir pekan. Aku akan mengantarmu"


"Benarkah Sayang, Iya Aku juga senang mendengarnya"


"Sayang, bagaimana pekerjaanmu hari ini?"


El dan Erik melanjutkan mengobrol.


Tiba-tiba Lela merasa rem mobilnya tidak berfungsi lagi, sementara mobil mereka telah mendekat ke jurang.


"Nona remnya blong Nona" Lela berusaha menginjak rem dengan kencang namun hasilnya nihil


"Apa, remnya blong?" El mendadak panik


"Apa Sayang, remnya blong?" Erik terkejut bukan kepalang.


"Ahhhhh, prang" Erik mendengar teriakan Lela dan El, diikuti dengan suara tabrakan.


"Eelllll" Erik berteriak sekencang-kencangnya, sampai membuat sekretaris Jim terkejut.


"Ada apa Tuan?" Sekretaris Jim segera menghampiri Erik.


"El kecelakaan" dengan nada bergetar dan air mata yang jatuh terburai.


Mereka segera berlarian menuju mobil, sementara Erik langsung melacak dimana keberadaan El sekarang. Dadanya berdebar kencang, ibarat menantikan sebuah panggilan kematian.

__ADS_1


"El ku Sayang" Dia menangis dalam kekhawatiran.


bersambung


__ADS_2