TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Draft 4


__ADS_3

Aku memghembuakan nafasku yang tertahan cukup lama, mulai mencerna percakapan kedua pria itu,.


"Jadi.... Aku juga Alat buat Rizal... Aku hanya alasan saja?"Batinku yqng hampir yang hampir tak percaya. Tapi semuanya mulai masuk akal untukku.


Ckckck... Sosok sepertiku mana mungkin membuat dua laki - laki super seperti mereka terobsesi.


"Sand...!" sebuah tangan mendarat di pundakku,


Aku segera merespon dengan teriakan lantang "Haaa..!!"


"Ngapain di sini.." sergah Nora yang membungkam mulutku segera, hawatir klo di sanka Kenapa - kenapa.


Dengan cepat aku membuka tangannya yang menutup mulutku dan menggandengnya pergi ke arah berlawanan dengan tujuanku sebelumnya.


"Balik yuk... Aku nyasar" jawabku asal.


***


Sepanjang konser pikiranku melayang ke arah seberapa jauh kira - kira Rizal akan berulah.


Seharusnya aku curiga dari awal, alasannya pasti bukan aku. Karena jelas semua yang diserang hanya dari sisi Toby. Kalau saja dia jelas mengingunkanku, seharusnya dia juga membujuk keluargaku.


Lantas... Tia... Dia bukan bagian dari kami. Tapi kenapa juga dia turut antusias mengharap perceraianku.


"Nor.. Anterin aku ke Toilet lagi" ajakku pada Nora yang asik bersorak menyanyikan lagu Toby. "Takut nyasar nih.."

__ADS_1


"Nanggung nih Sand..."


"Mau aku antar?" Tanya Jorge yang ada Di antara kami.


Aku menggeleng cepat. Nggak mau cari penyakit. Bukan nggak percaya sama Jorge, tapi dengan tubuh penuh estrogen bisa bisa aku baper dengan pembawaan Jorge yang pernah memikatku di masa lampau.


"Maaf... Butuh urusan wanita" lirihku sanbil meringis.


"Salah sendiri beli tiketnya nebeng uang ibu hamil, jadi sering pipis kan?" kali ini aku sedikit memaksa Nora dengan menarik tangannya. Meski sedikit dongkol, ahirnya Nora pun mulai ikut.


Setelah masuk Toilet aku memastikan untuk memeriksa bahwa tidak ada orang di dalamnya. Kami terpaksa menunggu sekitar lima menit. Hingga satu satunya orang asing di antara kami keluar dari area toilet wanita.


"Emang mau ngapain? Sampai harus nunggu sepi?" Wajah Nora yang terpantul di cermin nampak penasaran mendapatiku yang seperti gelisah.


"Imbalannya?" Tanggap Nora cepat, seraya memperbaiki sedikit riasan pada paras cantiknya.


"Aku serius nih.... Atau mau aku bongkar scandal kamu sama bos station TV itu ke Jorge"


"Eh... Kok main ancam, ini beneran" Nora segera memghadap ke arahku dengan wajah dongkol sekaligus penasaran.


"Kamu tahu keluarga Adilokso kan?"


"Jelas.... Orang kaya mana yang terlewat olehku" Nora mulai melirik arah pintu masuk seolah menghawatirkan tentang kedatangan orang yang tidak kitabinginkan. "Kamu ada masalah dengan mereka"


"Sangat.... Ckckkck.." Aku menarik nafas panjang.. "Ini rahasia, inget ya?"

__ADS_1


"Aku bakal terlibat langsung nggak"


"Aku cuma butuh kamu mencarikanku detective swasta, mungkin detective yang sama yang pernah menangani kasusmu"


"Untuk....??"


"Menyelidiki apapun yang tidak baik dari keluarga Adilokso, terutama anak barunya yang baru bergabung sekitar setahun atau dua tahun ke belakang"


"Aah... Pak. Rizal..?"


Aku mengangguk mantap "Kedatangannya yang tiba - tiba itu aneh"


"Enggaklah.... Bagaimanapun dia anaknya. Setelah menjabat sebagai penjabat public, Ruan Besar Adilokso itu tidak boleh mengelola perusahaaanya.. Tentu saja anak akan jadi alternative terbaik sebagai pihak yang di percaya"


"Ya... Ya... Aku juga faham" aku memutar manikku, aku memang tidak ahli untuk bicara berputar putar"Pokonya aku mau tahu semuanya tentang tiap - tiap dari mereka, dari jumlah kekayaannya, bagaimana sumber uangnya bekerja, sampai isi toiletnya aku juga pengen tahu"


"Wow... Wow...budgetnya gedhe nih?"


Aku mulai mendengus, berurusan dengan teman yang matrealistis memang kadang membuatmu susah bernafas. Tapi setidaknya mereka aelaku bersedia dengan jumlah yang pantas.


"Tentu...!" Jawabku tanpa pilihan, kecuali "Aku juga butuh kamu kenalkan dengan reporter yang memiliki reputasi baik, dan akan lebih bagus kalau mereka memiliki kecenderungan pada pihak yang berleawanan dengan Pak adilokso"


"Sand... Kamu mau perang dengan mereka?"


Ah... Itu... Apa kelihatannya seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2