
"Sandra Tunggu..!"
Toby melepaskan diri dari Billy dan berlari menahanku.
Tapi...
"Dan sejak kapan kamu tahu bajwa ibumu berselingkuh dengan om Yoga..? Bukankah penjara adalah tempat yang pantas?"
Oh... Rizal memang sialan.
Aku dan Toby serempak menoleh ke arahnya. Tanpa berfikir Toby kembali mendekat, meski belum melepas tangannya yang melingkar di pangkal lenganku.
" Tahan Sandra.. Aku perlu membuat perhitungan dengan bajingan satu itu "Gumam Toby yang menghempaskanku pada Billy.
Aku berniat untuk melerai dan berharap Toby tidak menanggapi Rizal. Tapi Billy menahanku.
" Sebaiknya kamu melihat pertunjukannaya secara uruh "Nasihatnya denga raut muka yang juga nampak gusar.
Tapi bukan percakapan lagi yang kami dengar.
Sesuai duagaanku yang cukup mengenal Toby yang tidak begitu banyak suka bicara.
Yup.. Dua pria itu mulai baku hantam.
" Look...!! Aku tidak mau melihat ini"
Billy memutar maniknya.. "Duduklah...!"Bilkypun segera menghambur menghampiri dua tubuh tegap yang saling beradu.
" Stop.. "Billy memkik beberapa kali. Tapi iti sama sekali tidak banyak mengurangi pertempuaran keduanya.
__ADS_1
Untung saja Albert datang dan membantu! Usai meleparkan sarapan di tangannya ke arah meja terdekat.
"Tob... Ingat kesehatanmu.."pekik Albert dengan wajah sedikit memucat.
Pertarungan perlahan melamban. Dan Toby berahir merebah di atas rumput, dengan rizal yang juga tersungkur di sampingnya dengan tubub yang babak belur.
Dasar rizal sialan. Masih saja dia mengoceh seperti beo dalam situasi seperti ini.
"Setidaknya semua menang. Hingga saat ini, ayahku tak kunjung meneruma bantuan ayahmu dalam karir politiknya. Tua bangka iru terlaku serakah" Gumamnya dengan tubuh yang mulai berbalik. Nafasnya terdengar terengah tapi mulutnya masih belum berhenti.
"Usai semua bukti tentang penggelapan proyek infrastructure yang di lakukan ayahku rampung. Aku janji akan mengahiri semuanya. Termasuk urusanmu dengan Sandra"
Sekarang sandiwara itu mulai jelas.
"Apakah kamu tahu bahwa Rizal bisa saja terbunuh dengan hantamanmu Tob?" Aku mulai memberanikan diri melihat keduanya.
"ha.." Rizal tertawa ringan, peelahan dia mulai bersiap berdiri sambil berkata "Aku tak akan mungkin mati di hajar oleh tubuh penyakitan sepertinya" .
"Tutup mulutmu sialan" Umpat Toby yang kini mulai ikutan berdiri.
Tapi dengan satibtangan membentang aku berhaail mengurungkan niat Toby untuk kembali beradu fisik dengan Rizal.
"Toby tidak memberitahumu soal jantungnya?"
Jantung?
"Transplantation jantungnya akan segera di laksanakan enam bulan lagi, albert pasti sudah tahu itu"
"Tob...? " Aku mencoba memastikan kenyataan yang aku dengar.
__ADS_1
"Sand...!!" Nada Toby m3ndadak melemah seolah memohon ampun padaku.
Aku berbalik dan berjalan pelan dengan sisa tenaga yang ada. Aku segera meraih ponsel dari handbagku yang tergeletak di salah satu kursi teras.
"Andi.. Saya pulang"
*****
Malam tahun baru itu...
"Jadi sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Billy melepas pelukan mesranya pada sahabat lamanya Toby.
"Aku bahkan tidak bisa membedakan pagi, siang atau malam"
Billy memukul ringan pankal lengan temannya. "Padahal ototmu begitu kuat, bagaimana mungkin di dalamnya begitu lemah"
"Mau bagaimana lagi, aku terjebak dalam exploitasi makhluk sempurna. Mereka lupa bahwa aku manusia bukan robot pencetak uang"
"Apa Om yoga tahu...? "
Sejauh ini hanya dokter dan kamu saja.
"Albert??"
Toby menggeleng" Aku masih membutuhkan dia , tidak mudah mendapatkan manager dan asistant yang bagus sekaligus "
" Benar ... Terutama dengan ritme kerjamu, kamu harus menaikkan gajinya"
Toby mengangguk mantap "Aku sudah mempersiapkan bonus pensiun untuknya nanti "
__ADS_1
" Bagaimana dengan calon pengantinnya.? "