TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Ego


__ADS_3

"Kalau perusahaan ini colaps, kamu juga yang kehilangan pekerjaan" suara om Yoga terdengar setengah mengancam "Aku tahu bahwa kamu adalah manager yang cukup handal, menangani perangai Toby bukan hal yang mudah, terutama kebiasaan alcoholnya itu ckckkck"


"Kamu sedang merayuku?"


"Bekerja samalah denganku, pintuku akan selalu terbuka untuk orang berbakat sepertimu"


"Hiatus pada saat tuduhan plagiat, bagi penyanyi yang sekaligus pencipta lagu itu sama dengan bunuh diri?"


"Hanya satu yang mati... Tapi kita semua masih bertahan, dan hanya karena Toby yang hidup kita semua yang mati... Pilihlah!"


Albert menggeleng pelan, dia menarik Amplop coklat dan memilih om Yoga menatap kepergiannya tanpa jawaban.


"Kamu masih bisa berfikir jernih!" pekik om Yoga dari dalam ruangannya.


Kehilangan pekerjaan memang terdengar mengerikan. Tapi meninggalkan kekacauan pada pekerjaan sebelumnya juga sama saja membunuh karirnya.


Albert yang membiarkan artisnya bunuh diri karena issue plagiat.. Bayangan itu sekilas terlintas dalam perjalanannya menemui Toby.


Dia melirik sekilas amplop coklat di satu sisi kursi mobilnya. "Apakah dia tidak akan kena serangan jantung melihat isinya?"


******


"Bahkan tuhan lebih menyukaiku dari pada dirimu" Senyum Toby masih mengembang sempurna memandangi bayi kecil yang sedang aku gendong.


"Hampir tidak ada satupun datinya yang mirip denganmu" Lanjutnya yang berdasarkan kenyataan.

__ADS_1


"Hal itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa aku yang melahirkannya" gumamku sendiri dengan lirih.


"Terimakasih untuk itu"


"Ehem...!! Aku tidak membuka jasa sewa rahim, jadi tidak perlu terimakasih, dia juga anakku"


Aku dan Toby saling memandang hingga tangis bayi Di Tanganku pecah...


"ckckckckc cantik..." kami serempak berusaha menenagkannya. Dan tentu saja berahir dia melahap asupan asinya dariku.


"lihatlah.. Aku masih berkontribusi.."


"Kamu mulai sepertiku yang mudah buruk sangka, apakah kamu diam - diam mengkosumsi wine di rumahku?"


Cih... Aku hanya tidak percaya dengan cinta yang pernah kami usahakan. Masih teringat jelas kejadian di kediaman Billy Wang... Semuanya serasa kembali mentah sejak saat itu. Kecuali bahwa...


" Kamu tidak percaya cintaku" Toby yang masih mengelus rambut putri kami mulai menyinggung subjek yang terlintas dalam diamku.


Aku menggeleng tanpa aku sadari, "Actingmu selalu menjadi yang terbaik, lebih dari tertera di piala piala penghargaan, aku sudah melihatnya sendiri selama bersamamu"


"Jadi...."


"Bagaimana aku tahu yang mana kenyataan ??"


Toby segera menyambut bibirku yang menegang menahan rasa kecewa yang seolah tak pernah akan kering.

__ADS_1


Pertautan bibir kami membuatku mengulas kembali ingatan manis di antara kami. Entah Toby tulus atau tidak, tapi yang jelas aku tersentuh saat itu.


" Ups... Sorry..!!" suara Albert memecah..


Aku dan Toby serempak menoleh dan menarik nafas panjang. Dan saling membuang muka.


"Apakah kalian masih... Bertengkar"


Sekali lagi aku dan Toby serempak berdecih.


"Aah... Ok..." Albert segera menduduki salah satu sudut sofa panjang di ruangan.


"Tapi... Kalian pasti sudah sepakat dengan namanya bukan?"


Nama??


Bagaimana mungkin kami lupa soal hal sepenting ini.


Aku dan Toby segera saling memandang, sepertinya kami sama sama tidak punya persiapan untuk hal yang satu ini. Bahkan satu diskusipun belum teradi.


" Apakah dugaanku benar? " suara Albert kembali berada di antara kami.


"Tentu tidak!!" Toby menjawab dengan tegas.


"Benar... Tentu tidak" Aku ahirnya ikut menyahut, hanya karena aku tudak ingin nama putri kami hanya di dominasi dari pemikiran Toby.

__ADS_1


Uhf... Sorry.. Sayang ibumu ini terkadang masih kekanak kanakan.


__ADS_2