
Ternyata semua hal di dunia ini juga ada ilmunya, termasuk memegang tray untuk mengangkut moctail ke ruang tamu.
"Apakah tidak apa - apa kalau anda yang mengantakannya?"
"Aku tidak masalah, ini menarik"
"Apakah tuan Toby tidak marah"
"Aku yang tanggung jawab, lagi pula yang lain sedang sibuk bukan? Jam makan siang juga sudah dekat"
Cheff piere ahirnya membiarkanku mengantarkan moctail ke ruang tamu. Sementara dia segera mempersiapksn makan siang di ruang makan.
****
"Sudah lama aku ingin menjodohkan anakku dengan Toby, tapi kamu sungguh mengejutkanku dengan pernikahan Toby yang sungguh tiba - tiba" salah satu teman Mama rupanya sedang mengungkit pernikahan kami.
"Anak Sekarang Memang seperti itu, tidak suka orang tua mereka ikut campur" sahut yang lain
"Apalagi Toby yang seorang Celebrity papan atas, mungkin dia pasti khawatir akan terganggu oleh media"
"Begitulah" Ibu Toby menimpali singkat, seakan enggan membahas.
"Aku dengar menantumu penyiar Berita jam 6 pagi?"
" Benar, tapi dia sudah Berhenti usai menikah" Jawab Mama.
"Wanita mana yang ingin tetap bekerja ketika mendapatkan suami kaya raya seperti Toby?" sekali lagi temannya yang lain memberikan opini.
"Benar, apakah kamu sudah mengenal orang tuanya? Apakah mereka tidak ada maksud tertentu menikahkan putrinya begitu cepat"
"Kami hanya mengenal sekilas, tapi sejauh ini mereka cukup sibuk dengan kehidupan mereka tanpa membebani kami" Mama masih sanggup menjawab denga anggun.
"Syukurlah, terkadangnya mereka hanya menggunakan anak gadisnya sebagai alat. Hati - hati jaman sekarang"
"Benar"
__ADS_1
Uhf... Begitukah yang mereka pikirkan ketika pernikahan beda kelas terjadi? Jadi kami akan di curigai menjadi parasit?
Aku manarik nafasku dalam - dalam, mencoba menegakkan langkahku sebisa mungkin denga 6 gelas di atas baki di tanganku. Mungkin aku tidak bisa tampil cantik. Tapi aku tidak boleh tampil rendah.
"Aku penasaran wanita seperti apa yang Toby nikahi setelah dia menolak perjodohan yang kita atur denga putriku Stevanie"
Kalimat itu terlontar dari salah satu teman Mama saat aku memantapkan langkahku untuk memasuki ruang tengah.
Aku melempar senyum pada semua tamu dan mulai membagikan moctail ke pada mereka.
"Pembantu baru?" Tanya salah satu dari mereka.
Aku hanya memandang Mama sejenak yang jelas tak terbalas. Dan segera mundur usai melakukan tugasku tanpa menyangkal bahwa aku bukan pembantu.
Aku perlahan meninggalkan ruang tengah tanpa mengucapkan kalimat apapun. Meski dalam hati,
" Apakah aku seburuk itu?" Aku mencoba melihat pantulan diriku di pintu lemari es dapur 'Baju mahal yang Toby pilih tidak lantas membuatku naik kelas. Meski harusnya mereka sadar tidak mungkin pelayan mengenakan baju designer bukan?' batinku lagi
" Nona? " Cheff Pierre membangunkan lamunanku.
"Dia tidak mengabarimu?"
"Tuan Reynard bilang dia mungkin akan pulang ke rumah, tapi dia minta anda memastikannya"
Aku mengangguk.
"Aah... Pierre ada berapa pelayan di rumah ini kalau aku boleh tahu"
"Hmm ada delapan pelayan, dua orang satpam, tiga orang tukang kebun dan dua orang cheff"
Wow.. Cukup mengejutkan, mereka ternyata cukup boros atau sangat kaya. Bukankah tanpa Toby mereka hanya tinggal berdua.
" Dan ibu margareth sebagai manager Rumah dan satu sopir yang biasanya untuk kebutuhan Tuan Reynard"
"Kalau Nyonya?"
__ADS_1
"Beliau biasanya tidak banyak pergi Margareth atau salah satu dari tukang kebun yang mengantar"
Aku mulai menghitung berapa biaya rumah ini secara kasar?
"Anda butuh pelayan, sebenarnya selalu ada yang istirahat di rumah belakang"
"Rumah belakang?"
"Itu rumah untuk para pelayan tinggal dan juga area istirahat untuk staff yang lain"
"Ah.. Ok.. Aku akan menghubungi Toby dan mengabarimu segera"
Tuut... Tuut..
"Apakah kami sudah merindukanku?" Jawab Toby ketika mengangkat Telphon dariku.
"Terimakasih telah berbaik sangka, apakah kamu akan ikut makan siang di rumah" tanyaku langsung ke pointnya.
"Sepertinya begitu, tapi mungkin akan sedikit telat karena jalanan sedikit macet"
"Kalau begitu kami akan siapkan"
"Kamu masih di dapur?"
"iya.."
Toby terdengar membuang nafas "Harusnya kamu istirahat Sand"
"Aku bosan.. Sudah aku tutup dulu" aku segera mengahiri panggilan.
"Toby akan ikut makan siang, tapi mungkin telat" Sampaiku pada Cheff pierre."Aku makan siang di kamar saja"
" Anda Tidak bergabung di meja makan?"
Aku hanya menggeleng dan segera meninggalkan dapur.
__ADS_1
Dalam logikaku aku tidak mungkin mempermalukan Mama yang tidak menyangkal tentang 'apakah aku pelayan baru' dengan bergabung makan satu meja dengan mereka.