
" Bukankah kita sudah setuju dari awal, bahwa hadirnya Sandra adalah untuk mengahiri fitnah padaku " Toby membalas dengan penuh heran.
" Tapi nggak harus sampai dia hamil "
Aku, Toby dan Albert heran secara bersamaan, Atas penolakan om Yoga.
"Kenapa Sandra tidak boleh hamil, justru itu menguatkan sisi ke jantananku yang di ragukan?"
"Benar..." Om Yoga yang masih oenuh emosi mulai mencari sesuatu di balik lacinya "Pernikahan kalian dari awal cuma palsu bukan?"
Hang on..!!!
Kali ini aku sudah tidak mau palsu, aku sudah serius dengan Toby. Hidupku sebelumnya sudah rata dengan tanah dan aku bangun lagi dengan puing nama Toby.
Jangan bilang lelaki paru baya itu ingin mengahirinya.
" Bisakah kalian menyelesaikan itu saja? Dan batalkan bayi itu?"
Aku langsung otomatis berdiri. Manikku seakan reflek ingin keluar dari sarangnya.
Dadaku serasa sesak dengan manusia di sekitarku saat ini, tak terkecuali Toby.
Mereka menyeretku untuk menikah, memaksaku untuk hamil, mengintimidasiku untuk cerai dan sekarang satu lagi paksaan untuk aku mengahiri kehamilanku.
"Kalian sungguh keterlaluan...kalian sungguh bukan manusia" pekikku yang tak sanggup untuk berteriak.
Aku ingin sekali mengucapkan sumpah serapah dari mulutku tapi ahirnya isak yang keluar.
__ADS_1
Toby segera meraihku dan membiarkan tangisku tumpah di dadanya.
"Jangan Sok cengeng, kamu juga sangat menolak pernikahanmu bukan?" Om Yoga masih punya hati untuk melanjutkan kalimatnya "Kenapa? Apa kamu terpikat dengan ketampanan Toby, popularitasnya, serta hartanya?" "
Aku segera melepaskan pelukan Toby, dan segera menghampiri om Yoga dengan penuh emosi.
" Plak..!!!!
Aku tak ragu mendaratkan ke lima jariku pada pipi kiri om Yoga, dan...
Plakkk...
Aku daratkan lagi pada sisi yang lain.
Sudah cukup...
"Kamu.. Juga mengetahui semua yang terjadi" aku memandang Toby dan Albert yang terpaku di belakangku.
"Apakah uang Om...?" Tanyaku tanpa basa - basi.
"Uang siapa yang mengusikku kali ini? Hingga kamu mulai mengabaikan artist utamamu?"
Om Yoga masih memaku dengan menggosok pipinya. Dia mungkin tidak menyangka kalau aku berani menamparnya dan melawannya seperti saat ini.
Aku sebenarnya juga tidak.
"jawab....!!!" suaraku meninggi duq oktav
__ADS_1
Kali ini Toby berdiri di sampingku, tangannya mendarat di pundakku.
"Rizal..." Suara rendah Toby menggema.
Tapi suasana ruangan hening sesaat. Hingga...
"calon investor itu?" kini Albert mulai turut mendekat.
"Penggelapan dana perusahaan, penghindarran pajak dan..."
" Seharusnya peeusahaan ini cukup sehat, aku cukup produktive dan aku rasa kamu juga sangat kaya" Kalimat Toby kali ini terdengar menahan amarah.
Tiga banding satu, seharusnya om Yoga menyerah.
"tapi aku butuh dana itu saat ini" Om yoga menyerahkan map yang sejak tadi di pegangnya. "Bukankah denda ini cukup besar?"
Aku segera meraih map itu dan segera merobeknya tanpa perlu membaca.
"Tapi aku tidak menjual diriku" Aku sudah muak "Aku bisa menolak dan menerima kapanapun dan apapun untuk hidupku"
Aku melempar serpihan kertas itu ke arah om Yoga dan memilih untuk meninggalkan ruangannya.
"Sand..." Jemari Toby mencengkeram pangkal lenganku.
Aku hanya menatap Toby sesaat, meski saat ini hubunganku dan Toby membaik, tapi sulit juga melupakan bahwa awal semuanya adalah darinya...
Cih... Aku kembali berpaling dan kembali mencoba untuk pergi.
__ADS_1