
"Iya benar... Istri anda sedang hamil"
Albert hanya tercengang... Seharusnya dia tidak perlu terkejut. Ini kehidupan Nora..masalahnya, "Saya...." Albert menggantung sisa kalimatnya intuk menjelaskan bahwa dia bukan ayahnya. Tapi...
Well yang terpenting problen ini harus segera berlalu "Te.. Terimakasih dok"
"Ok.. Saya pamit dl"
*****
Semua seperti kembali ke titik awal buatku. Dan untuk kesekian kalinya Toby selalu menjadi pemenangnya.
"Kamu menghawatirkan aku?"
"Di antara semua pelayan Papa dan Mama kamu?" Aku membalas pertanyaan Toby yang menurutku tidak masuk akal. "Aku lebih hawatir dengan diriku sendiri"
Aku memeganh erat karangan bunga mawar yang aku genggam erat di samping perutku yang membulat makin sempurna.
"Angin apa yang membuat ibumu repot repot mengirim bunga dari penjara"
Toby menatapku sekilas "Aku yang mengalami alkoholism kenapa kamu yang mudah buruk sangka" jemari Toby segera menggenggam tanganku erat dan menuntun langkah kami menemui Papa yang sedang menunggu di ruang tengah.
Semua seperti yang dulu, keramahan rumah orangtua Toby sulit di tepis. Selain kenyataan bahwa aku sudah mulai mengetahui semua penyebab hingga aku terlibat.
"Ah.. Sandra..!" Papa tersenyum ramah membalikkan badannya usai m3nikmati lukisan baru yang terpajang.
"Ini koleksi baruku, bagaimana menurutmu?" Papa segera menggiring kami ke salah satu lukisan Abstract denga tone pastel merah hingga pink.
"Maria Asmer?" Aku menebak sekilas.
"Kamu langsung tahu... Ckckkckc Toby memang tidak salah memilih istri"
Hah ternyata kemampuan berakting Toby bukan hanya dari ibunya tapi juga dari ayahnya.
Bagaimana bisa lelaki tua yang ramah saat ini adalah lelaki yang sama beberapa saat lalu, lelaki yang sama yang memintaku meninggalkan putranya.
Aku menatap Toby sejenak, wajahnya yang selalu beku menatap lurus mengamati lukisan Maria asmer. Dia sepertinya tidak merasq aneh dengan keramahan papa yang bagai hujan di padang pasir.
"Bagaimana kehamilanmu?"
"Baik" jawabku singkat.
"Teimqkasih sudah bersedia untuk kembali tinggql di sini"
Apakah dia tahu, bahwa ini bukan pilihan?
Bagaimanapun aku sebagai orangtua juga harus m3njqga kesehatan kalian di saat seperti ini.
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam - dalam dan mengembangkan senyum semampuku. Sambil mencoba menebang pohon harapan dalam diriku yang tumbuh beberapa waktu lalu.
Harapan bahwa aku akan memiliki keluarga yang bahagia, tapi nyatanya...
Aku k3mbali m3lempar pandang pada Toby yang segeera mendaratkan lengannya di pundakku. Suamiku yang Celebrity ini adalah oenderita Alkoholism dengan gangguan jantung yang cukuo parah dan..
Metuaku..??? Mungkin adalah pribadi yang manipulatif.
Spertinya aku jatuh pada peperangan lagi.
Apakah kali ini aku harus lari saja? Pertanyaan itu mulai mengembang di otakku. Tapi segera mengempis ketika melihat perutku yang sedang membengkak.
Aku menelan ludahku sesaat. Dan menerima pasrah untuk berjuang sekali lagi untuk sesi berikutnya.
"Kamar kalian masih yang sama"
"Kamar tamu?" Tanya Toby.
Papa mengangguk mantap, "Dan kita bisa menggunakan kamarmu sebagai kamar bayi"
"Aku tidak ingin bayiku jauh dariku" Aku punya kebebasan beroendapat.
Cup!! Kecupan mendarat i keningku. Namun rasanya hampa.
"We can make it sweet heart"
"Benar...!!" Papa langsung menyanggupi "Kita bisa merenovasi sisi lain dari kamar tamu, hmmm kita buat extra room dari kebun sampingnya"
"Kalau begitu lebih baik kalian tinggal di kamar Toby dahulu, hingga kamarnya selesai"
Aku dan Toby mengangguk serempak.
****
"Apakah selalu seperti ini?" tanyaku tanpa sengaja krtika kami telah sampai di kamar Toby.
"Apa...?"
"sikap Papa"
Toby mengangkat bahunya. "Semua yang menegangkan hanya terjadi di ruang kerja Papa dan di sini adalah surganya"
"Apakah karena itu Papa butuh satu lantai penuh untuk kantornya?"
"Dan kamu melihat para bodyguard serta asissitant pribadinya"
"Ahhh.... Hidup orang kaya seperti kalian mneyebalkan" keluhku..
__ADS_1
"Tapi..... Karena kami, banyak makanan tersaji di meja makan. Kalau semua orang sepertimu...kemiskinan akan lebih banyak #
" Kamu mencela hidupku? " aku tiba - tiba tersulut.
" Aku hanya bicara kenyataan, coba kamu pikir.. Social effect apa yang kamu timbulkan selama kamu bernafas?"
Aku termenung sejenak... Namun segerq di potong.
"Hanya mengurus keluargamu.. Dan hidup tanpa menganggu orang lain?"
Toby kini menghempas tubuhnya di sampingku yang sudah mengambik duduk Di tepi ranjang.
"Hal seperti itu, binatang lebih ahli daripada kita" bisiknya lirih di telinga ku.
Aku benci... Mengatakan bahwa Toby benar. Aku hanya berdecih sesaat dan mulai memilih diam dan hendak bermaksud berdiri untuk bersiap mandi.
"Mau kemana?"
"Mandi..." jawabku dingin.
Toby menahan lenganku untuk tidak beranjak dari tempatku.
"Satu lagi..."
Huh apqlagi... Aku sedang malas menanggapi mulut tajam Toby.
"Aku membelikanmu oarfum kelas atas bukan untuk sering di basuh"
"Tob..."Aku terpaksa memotong ucapannya di sini" Aku akan membiarkanmu mengkritikku usai tubuhku lebih segar "
" Aku cuma minta jatah Sand.. "
" Hah...?? " Ada ya..orang minta jatah tapi mengkritik lebih dulu.
" Dasar nggak peka.. "
Kapan Toby bisa sadar bahwa dia adalah yang paling aneh di antara kami.
" Tapi jangan kurang ajar.. Atau.. "
Toby menarik daguku dengan cepat" Kapan aku butuh bersikap sopan dalam urusan ini, dan aku rasa kamu cukup menyukai.. Caraku "
Aku b3nci Toby menyadari kelemahanku yang ini. Bahwa aku mulai sering terpikat dengan sisi antagonisntnya dalam sisi intim di antara kami.
" haruskah aku mengingatkan bahwa aku sedang hamil? " kali ini suaraku sedikit mereda.
Toby mengelus perutku sesaat.
__ADS_1
" Well Compromise "
*****