
****
Kriiiiiiing...
Bunyi nyating handphone Toby. Masih berdering jam 4 pagi.
"Sudah bangun..!" Jawabnya langsung pada Albert yang selalu menjadi orang pertama menelphone Toby.
"Ada jadwal meeting mendadak dengan pak. Rizal dari adilokso group jam tujuh pagi"
"Aku?? Meeting mendadak?"
"Agency yang minta, mengingat beliau berencana untuk investasi di saat kritis seperti ini tentu saja dia menjadi priorotas"
Hah.. Toby mendengus dan menutup telphonnya.
Whoach... Whoach..
Aku segera berlari ke kamar mandi, dan seperti biasa aku mulai memuntahkan isi perutku.
"Apa yang terjadi?" tanya Toby yang baru melihat pertama kali kebiasaan morning sick dariku.
"Anakmu selalu begini pada jam segini, persis ayahnya"
"Rupanya dia juga pekerja keras" Toby mendekat dan mulai memijit punggungku "Apakah kamu baik - baik saja?"
Aku mengangguk dan segera kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
"Kamu ada meeting?"
Tidak biasa itu terjadi untuk Celebrity sekelas Toby. Biasanya semua jadwalnya sudah tersusun rapi dan memiliki persiapan yang cukup matang. Meski hanya sebatas meeting.
" Siapa orangnya?" Tanyaku yang tak menunggu jawaban dari pertanyaanku sebelumnya.
"Siapapun orangnya, aky tak bisa menghindar, mengingat dia masuk golongan prioritas kalau mengganggu jadwalku"
Aku tersenyum simpul, ada harapan kecil bahwa siapapun iru adalah orang yang tidak aku kenal.
****
Ternyata sifat Pro aktive dan agresive Rizal bukan hanya dalam dunia bisnis.
Mahkluk yang satu ini tidak pernah menunggu hingga lawannya bereaksi, tapi tanpa jeda dia segera me konfirmasi efek dari tindakannya.
"Aku merasa kita tidak punya urusan satu sama lain. Bahkan perusahaanmu tidak pernah bekerja sama denganku" Toby segera ke inti masalah ketika Albert sudah meninggalkannya berdua saja dengan Rizal.
Keluarga ayah Toby kebetulan memiliki beberapa bidang bisnis yang sama dengan bisnis keluarga Adilokso, terutama di bidang chemical dan laboratories.
Keluarga Adilokso lebih konsentrasi pada bidang obat - obatan dan vitamin. Sedang keluarga Toby lebih konsentrasi pada bidang cosmetic.
"Mungkin kamu bisa bantu menjawab rasa penasaranku, Kenapa seorang yang sibuk dan ternana bisa repot repot..."
Rizal membuka telapak tangannya "Langsung ke inti.. Ini tentang Sandra... Itu jelas menarik minatku"
"Maksud anda?"
__ADS_1
"Cukup bertekad, tidak mudah menyerah meski tubuhnya terlihat ringkih dan mudah di taklukkan, apakah kita memiliki minat yang sama? Untuk membawanya ke atas ranjang kita? "
"Anda sungguh tidak sopan membicarakan istri orang lain seperti itu" Toby tahu pasti pria di depannya sengaja memancing emosi " tapi alasan saya jauh berbeda dengan anda, jadi kita tidak sama"
RIzal tersenyum tipis "Apakah begitu nikmat memiliki istri sepertinya, hingga kamu masih tidak melepaskannya meski ibumu mendekam dalam penjara?" lanjutnya sambil mengusap pangkal dagunya yang sedikit di tumbuhi rambut halus.
Toby ingin sekali melempar gelas yang tersaji di side table sofanya. Namun, menghadapi pria serengah gila serta berkuasa seperti Rizal tidak bisa gegabah.
" Tentu saja ", Ahirnya itu yang keluar" aku ketagihan di setiap detiknya" Toby mengambil jeda sesaat, mencoba menunggu reaksi Rizal.
Suasana pun hening...
"Jadi anda tahu bagaimana sikap saya? "
Tawa dingin menggema di ruangan itu. "Sayangnya, aku jadi lebih penasaran sekarang" Rizal menarik nafas panjang "Tapi aku memakluminya, perempuan itu sangat ahli membuat kita penasaran. Bahkan dia menolak mengingatku dari awal kami bertemu setelah lama terpisah.. Ckckckckkc"
"Itu jelas, karena dia sudah jadi milikku" Toby segera menegaskan miliknya "Tidak ada tempat untuk yang lain"
"Jangan khawatir, aku ahli dalam menyediakan lahan. Seperti sedikit menggeser posisi ibumu dan mungkin yang lain" Kali ini Rizal mengintip keluar ruang meeting dan menebar pandang pada area luar kantor.
"Mungkin yang berikutnya adalah itu..." Rizal mengarahkan jemari telunjuknya pada ruangan om Yoga yang terletak pada arah pukul tiga.
Rizal mulai menatap Toby yang nampak mulai memahami maksud Rizal, "jadi bagaimana?"
"Berkarakter dan selalu konsisten, bukan hanya urusan dalam karirku, tapi juga prinsip dan pendirianku. Hemat saja waktumu" Toby mngubah arah pandangnya pada jam tangan clssic edisi terbatas di pergelangannya.
"Sampai bertemu lain kali" Toby memilih berdiri, buatnya kesimpulannya tidak berubah.
__ADS_1
Dia sudah mengorbankan ibunya, sisanya hanya variable sederhana.
Benar kata Sandra, kalau mereka salah. Tidak ada cela menghalangi. Lebih baik mengarah pada jalan yang benar saja...