
Dua minggu sudah sejak tragedi hilangnya pak Chen Dilaut saat memancing. Hal ini sontak membuat semua orang merasa kehilangan. Begitu juga dengan para staf atau orang yang mengenal pak Chen. Pak Chen memang seorang yang dermawan, ramah dan tidak sombong. Dia kerap kali menyapa karyawannya dengan senyuman.
Hari ini suasana berkabung masib terasa di perusahaan Pak Chen. Tak ada aktifitas seperti biasa. Hanya karangan bunga yang masih berjejer di halaman kantor sampai ujung jalan yang lumayan panjang. Entah berapa ratus karangan bunga yang datang dari berbagai perusahaan. Untuk Sementara waktu apapun agenda perusahaan akan diurus oleh sekretaris Jim sambil menunggu kapan tuan mudanya akan mengambil ahli perusahaan.
Kepergian Pak Chen membuat Erik merasa terpukul, dia juga diliputi rasa bersalah dan menyesal karena belum mampu mengabulkan keinginan terakhir Pak Chen. Dia merasa belum membahagiakan papanya.
"Tok Tok, Erik ini aku El" El berteriak di pintu kamar yang terkunci. Sejak kematian Pak Chen Erik memang kerap mengurung diri dikamar tamu.
Tidak ada sahutan, El menyuruh pelayan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan.
Pintu terbuka El segera masuk ke kamar diikuti buk Mellya, dia mendapati Erik yang sedang termenung di sudut kamar sambil memangku lututnya.
Dia menatap keluar jendela dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang" El mengusap rambut Erik perlahan
"Sayang, ayo donk jangan kayak gini terus" El menghapus air mata Erik yang mulai jatuh.
"Sayang, kamu belum makan kan? Aku suapin ya? kamu mau makan apa?"
Erik menggeleng
"Ayolah" El memeluk tubuh Erik dan ikut menangis bersamanya. Entah kenapa dia merasa sakit melihat Erik seperti itu.
El juga duduk disamping Erik menemaninya di kamar tamu.
"Rik, dengan kamu seperti ini Mama yakin Papa pasti bakalan tambah sedih. Arwah Papa pasti tidak akan tenang disana. Ayolah Nak, makan sedikit ya, nanti kamu bisa sakit" Buk Mellya juga ikut membujuk Erik. Namun dia masih diam terpaku.
Lama Mamanya membujuk namun tidak ada hasil. Mamanya pun telah keluar kamar. Membiarkan El membujuk Erik.
El berbaring di lantai menatap Erik yang membisu. dia pun ketiduran menemani Erik disana. Baru pertama kali dia tidur dilantai seperti itu. Tapi sepertinya dia tidak peduli lagi. Erik menatap El yang tertidur, hatinya berontak melihat El tidur dilantai. Dia menggendong El ke atas kasur. Dia pun duduk di bibir ranjang.
Siang berganti malam, waktu makan malam pun tiba.
"Tok tok" Buk Mellya datang lagi ke kamar dia langsung masuk karena pintu tidak di kunci
Dia melihat Erik yang duduk diranjang, sementara El telah tertidur.
"Rik makan dulu sayang. Dari pagi kamu belum makan"
Namun Erik masih menggeleng.
Buk Mellya lalu membangunkan El
"El bangun, makan malam dulu" El mengucek matanya. Dia heran telah ada di kasur.
__ADS_1
"Nggak Ma, El juga bakalan mogok makan selama Suami El masih mogok makan" Ucap El
"Aduh Mama jadi pusing dengan kalian berdua"
Gerutu Buk Mellya sambil meninggalkan El dan Erik.
Erik memandangi El yang masib berbaring di kasur.
"Kenapa pula kamu ikut nggak makan El" Ucap Erik dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Erik menatap El yang masih berbaring.
Sesekali dia memegangi perutnya sambil meringis.
"Kamu lapar? ya sudah makan aja dulu" Ucap Erik.
"Nggak mau, aku nggak bakalan makan sebelum kamu makan" Ucap El sambil memanyunkan bibirnya.
"Oh ya, ya sudah" Erik berusaha tidak peduli. Dia memang tidak lapar dan tidak berselera. El meringis lagi sambil memegangi perutnya.
"Kamu lasti lapar ya sayang?" Kenapa kamu ikut-ikuf aku El?" Ucap Erik dalam hati.
"El kamu nggak apa? Kamu sakit perut ya?" Erik mencoba meraba perut El.
"Krriuukk" Perut El berbunyi. Sementara pipi El langsung memerah di balik bantal
El memegangi perutnya sambil meringis
"Sakit Rik" Dia mulai mendramatiskan keadaan.
"Ayo kita makan El, nanti kami sakit"
Iya, El mulai turun dari kasur.
"Aw" Dia pura-pura pusing agar Erik benar-benar yakin
"El kamu nggak apa kan? biar aku gendong"
"Yes, rencana ku berhasil juga hehehe" Ucap El dalam hati.
"Iya aku maunya makan sama kamu"
"Iya El nanti aku makan"
Erik segera menggendong El menuju meja makan. Para pelayan hanya menunduk saja. Mereka berani menatap. Kejadian Tuan muda menggendong Nona bukan hal yang pertama kali dirumah ini.
__ADS_1
Rupanya buk Mellya masih menunggu mereka disana.
"Loh Rik, El kenapa?" Buk Mellya merasa khawatir.
"Ini Mah ini El sakit perut karena telat makan" Erik mendudukan El di kursi.
Sementara Erik segera menyendokkan nasi dan lauknya ke piring El.
El menatap buk Mellya sambil mengedipkan mata.
Buk Mellya salut dengan cara El menaklukkan Erik.
Dia pun membalas El dengan senyuman.
"Ayo makan sayang," Erik menyodorkan sendok ke mulut El. El pun makan dengan lahap.
"Gantian ya sayang" El menyuapi Erik. Erik yang tadi tidak berselera makan akhirnya menerima suapan dari El. Jadi mereka bermain suap-suapan. Buk Mellya bersyukur telah ada seorang wanita yang mendampingi Erik.Para pelayan juga ikut merasa lega melihat Tuan mudanya tersenyum kembali.
Sehabis makan El dan Erik kembali ke kamar mereka. El nempel terus pada Erik, dia tidak mau Erik bersedih lagi.Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Erik dan mereka telah naik ke atas ranjang.
Erik masih memainkan Hpnya. Membuka foto si galery HP untuk Melihat Foto Papanya. Raut wajahnya kembali bersedih. El dengan sigap mengambil HP Erik dan menaruhnya di nakas.
"Udahlah sayang,sebaiknya kita tidur ya" El memanggil Erik sayang. Meski bukan di depan buk Mellya.
"Apa tadi?" Erik ingin mendengar sekali lagi
"Bobok lagi ya sayang" El tersenyum menatap Erik.
"Hehe kayaknya kamu udah terbiasa ya dengan ucapan sayang". Erik terkekeh.
El hanya tersenyum tipis.
" Erik sebenarnya gue emang sayang sama Lo Rik. Tapi hatiku nggak mau terluka kedua kalinya. Karena kamu nggak pernah menyatakan perasaan cinta sama aku" Jerit hati El yang dia telan bulat-bulat.
"Ya sudah ayo kita tidur" El melingkarkan tangannya di perut Erik.
Erik Memutar badan kearah El dia menatap mata El yang bulat.
"El boleh aku peluk kamu?" Ucap Erik lembut.
El mengangguk jantungnya mulai berdebar.
Erik memeluk tubuh El mengusap punggungnya lembut lalu Perlahan mengecup rambut El. El memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Erik yang lembut.
"Tuhan, apakah ini cinta? Apa aku telah jatuh cinta sama suamiku? Apakah dia juga cinta sama aku?" Hati El berbisik mencari jawaban.
__ADS_1
"El andai kamu tahu aku sangat mencintaimu El. Tapi aku akan menyatakan diwaktu dan saat yang indah. Agar kamu tidak akan lupa dan menjadi kenangan terindah seumur hidupmu.