
Miranda masih menikmati perjalanannya di tengah pedesaan itu. Dia melirik jam di tangannya, menunjukkan pukul satu siang.
"Ternyata mengajari seseorang itu tidak mudah, butuh kesabaran ekstra" Gerutu El.
Dia melirik dirinya dari kaca yang ada di becak itu, sekarang dia tampak begitu berbeda. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalinya nanti.
"Kalau diluar aku akan hidup sebagai Shila. Aku sangat trauma orang-orang mengenaliku dan menolak lamaran pekerjaanku" Bisik hati Miranda sambil memandang pohon yang berlarian. Semenjak pemecatan yang dia terima, hidupnya terasa sangat sulit sekali. Tidak ada perusahaan yang mau menerimanya.
Sebagai seorang wanita karier yang membangun kariernya dari nol, tentu dia merasa sangat frustasi sekali. Beberapa minggu dia habiskan hanya mengutuki dirinya. Untung saja sahabatnya Juna selalu menyemangatinya. Saat dia membawa El malam itu Juna juga mau menolongnya dengan senang hati.
Miranda melirik lagi jam ditangannya.
"Kenapa perjalanan ini terasa lama sekali ya?" Bisik hati Miranda
"Repotnya harus naik becak begini, tapi apa boleh buat mobilku terpaksa harus aku tinggalkan di apartemen Juna. Aku tak ingin seorang pun mengenaliku nanti" Miranda mengingat lagi kejadian malam itu.
"Apa dia mengenaliku? Oh Nggak nggak pasti nggak. Malam itu aku memakai sweater dan masker. Pasti sopir El tidak mengenaliku, meski aku yakin dia melihat dan memanggilku waktu itu" Miranda menarik nafas dalam, ini yang pertama kali dia menyembunyikan seseorang. Dia begitu gugup sampai harus menyamar agar merasa nyaman.
"Sudah sampai dek" Sopir becaknya berhenti di sebuah pasar yang cukup ramai
"Baiklah Pak, terimakasih Pak" Miranda membayar dan turun dari becak.
Matanya tertuju pada sebuah cafe, meski seharusnya dia tidak bekerja disitu tapi apa boleh buat. Dia harus melanjutkan hidupnya, bukan sekedar mengutamakan gengsi.
"Butuh Karyawati" Begitu tulisan yang tertempel di salah satu kaca kafe itu.
"Selamat siang" Ucap Miranda pada Ibu-ibu separuh baya yang tengah duduk di kursi kasir.
__ADS_1
"Selamat siang, Ada yang bisa saya bantu?" Ibu itu menatap Miranda dari ujung kaki sampai ujung kepala. Membuat Miranda risih dengan tatapannya.
"Maaf buk,saya kemari untuk melamar pekerjaan. Apa ibu butuh seorang karyawati perempuan?" Miranda tersenyum ramah.
"Iya kebetulan kami membutuhkan karyawan. Tapi sepertinya penampilan hanya cukup membuat kau berada di dapur saja membuat makanan. Jika kau tertarik kau bisa datang besok" Tawar perempuan itu.
"Apa penampilanku hanya cukup berada di dapur? Cih, dia belum tahu saja dengan penampilan Miranda yang sesungguhnya. Lagian belagu sekali baru cafe kayak beginian aja" Miranda kesal karena secara tidak langsung wanita paruh baya itu telah menyatakan tidak suka dengan penampilan Miranda.
"Baiklah, tidak apa Buk, yang penting saya dapat pekerjaan disini Buk" Miranda memasang wajah polosnya.
"Baiklah kalau begitu, kau akan bekerja di dapur memotong sayuran, mencuci piring dan membereskan dapur juga" Ucap Wanita itu sambil menatap poni Miranda yang kelihatan agak tebal baginya.
"Baik, terimakasih Buk" Miranda merasa lega walaupun dia hanya bekerja sebagai pencuci piring di cafe. Padahal dengan pendidikan dia yang telah magister tentu dia bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak. Tapi apa hendak di buat hal itu terasa sulit baginya sekarang.
"Baiklah, kau bisa bekerja besok, datanglah agak pagi" Wanita itu lalu lanjut membaca koran yang ada di atas mejanya.
"Syukurlah, akhirnya aku dapat pekerjaan juga. Dia juga tidak menanyai ijazahku, menanyai namaku saja tidak. Tapi gajinya kira-kira berapa ya? Apa cukup untuk biaya kami berdua dengan El" Tanpa sadar Miranda selalu memikirkan kebutuhan El. Meskipun dia benci sementara ini, dia akan fokus dulu dalam pekerjaannya sambil mencari cara untuk menyingkirkannya.
Miranda pulang dengan girangnya, sebelumnya dia akan mampir dulu ke pasar membeli beberapa kebutuhan dia dan El. Meski tabungannya telah menipis, baginya apa boleh buat dia harus berpura-pura menjadi kakak yang baik agar El yakin dia memang kakaknya dan tidak mencari Erik ke kota.
"Baiklah, mungkin dia butuh ini!" Miranda membeli beberapa helai baju tidur, baju daster dan kebutuhan lainnya. Dia tahu El tidak memiliki baju, tapi dia hanya mampu membeli yang murah.
"Maaf, puteri Erik. Aku memberimu baju murah hahaha" Dia tertawa dalam hatinya.
"Ada lagi mbak?" seorang wanita bertanya sambil menghitung belanjaannya
"Tidak" Miranda menggeleng.
__ADS_1
"Baiklah, totalnya lima ratus ribu ya mbak" Ujar wanita itu.
"Wah murah sekali lima ratus ribu, tapi aku harus berpura-pura ini mahal" Bisik hati Miranda.
"Hmhm kemahalan mbak,apa tidak ada diskon? Aku kan sudah membeli banyak" Ucap Miranda bersungguh-sungguh.
"Hmhm" Wanita itu berfikir lalu berkata
"Baiklah, saya akan kasih diskon sepuluh persen ya" Ucap dia tersenyum
"Ok baik" Miranda langsung mengeluarkan uang senilai empat ratus lima puluh ribu.
"Baiklah, terimakasih mbak" Wanita itu melepas kepergian Miranda dengan tersenyum. Hidup terkadang memang seperti roda yang berputar,siapa sangka sekarang Miranda hanya mampu membeli baju murah dan bekerja sebagai pencuci piring. Biasanya dia akan membeli beberapa baju bermerk di toko, menemani bos besar meeting di tempat mewah tentunya dengan gaji yang besar pula. Tapi hari ini dia harus bersyukur menjalani hidupnya dalam kesederhanaan.
Miranda berjalan dengan santai, dengan penampilannya kini tidak ada yang mengenalinya. Meski pada waktu kecelakaan itu dia yakin tidak ada yang melihatnya. Tapi dia sedikit paranoid saja, dia hanya berjaga-jaga, entah sampai kapan dia seperti itu.
Miranda menyetop sebuah becak yang melintas, kemudian berangkat menuju rumahnya. Tanpa terasa hari sudah semakin sore, warna langit yang jingga memberi kesan tersendiri baginya.
"Capek juga, dalam perjalanan seperti ini. Dia mulai menyandarkan kepalanya disandaran becak" Tangannya masih menggenggam belanjaan,
"Ini yang pertama kalinya aku belanja untuk orang lain bahkan untuk orang yang menyebabkan kehancuranku dan kakakku. Kalau dipikir-pikir ini tidak masuk akal juga. Apa aku sudah gila ya?" Pikirnya dalam hati. Tiba-tiba dia ingat sesuatu
"Erik, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kamu sudah gila kehilangan istrimu itu? Apa sekarang kamu masih bersikap sombong ha? Ayo temukan istrimu kalau kamu bisa hahaha" Dia tersenyum puas. Rasanya sedikit dendamnya sudah mulai terbalaskan, dia sangat yakin Erik sekarang menderita meski dia tidak melihatnya.
"Erik, erik tunggu saja tanggal mainnya. Aku akan menyingkirkan istrimu. Kamu juga harus membayar mahal atas apa yang kamu lakukan padaku. Aku kehilangan masa depanku, kamu kehilangan istrimu. Aku rasa itu harga yang sepadan" Bisik hati Miranda puas.
bersambung
__ADS_1