
Di suatu ruangan di sebuah perusahaan terbesar di negeri ini. Tampak Pak Chen sedang berdiskusi dengan pak Jimi.
"Jim, saat ini saya ingin Erik telah masuk dan menguasai perusahaan" Ucap Pak Jen kepada pak Jimi sekretarisnya.
"Saya pikir juga begitu tuan, bagaimana kalau anda meminta Tuan Muda untuk segera mengambil ahli perusahaan" Pak Jimi berpikiran yang sama dengan Chen
"Tapi itulah masalahnya Jim, Erik terlalu keras dan dia sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan. Kecintaan dia terhadap dunia pendidikan telah membuat dia berat untuk meninggalkan profesinya sebagai dosen. Memang tidak ada yang salah dengan pilihan Erik. Hanya saja di anak saya satu-satunya. Saya rasa sudah saatnya dia mulai mengambil ahli perusahaan" Pak Chen berkata dengan hati gundah
"Saya mengerti Tuan, sepertinya Tuan Muda tidak memiliki obsesi pada perusahaan. Saya dengar Tuan Muda juga hidup terpisah secara sederhana" Lanjut Jimi
"Iya begitulah Erik, jiwanya benar-benar sederhana dan tidak terobsesi harta. Dia bahkan tidak suka dilayani berlebihan, dari kecil dia sudah mandiri. Tapi terkadang saya sangat bersyukur Erik memiliki sikap yang rendah hati seperti itu" Pak Chen mengungkapkan isi hatinya.
Pak Jimi menatap pak Chen seperti ingin mengatakan sesuatu.
***
Erik dan El telah duduk bergabung di meja makan bersama pak Chen dan buk Mellya.
"El, bagaimana apa kamu sudah merasakan tanda-tanda kehamilan?"
"Deg" kaget tidak tahu harus menjawab apa karena mereka memang tidak pernah melakukan hubungan suami istri.
"belum Ma" El menjawab dengan kikuk
"pernikahan kalian kan sudah lumayan lama, apa nggak sebaiknya kalian ke dokter?" Buk Mellya memberi saran.
"Nggak usah Ma, kami Insha Allah secepatnya akan memiliki anak Ma" Erik menjawab pasti tanpa keraguan membuat El menelan ludah.
"Rik, Selama ini Papa tidak minta apa-apa sama kamu. Tapi Papa mohon kali ini kamu harus segera mengambil ahli perusahaan Rik. Papa sudah semakin tua. Kalau bukan kamu yang melanjutkan perusahaan Papa lalu siapa lagi Rik" Pak Chen bicara serius.
Erik hanya tertunduk dia tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin kali ini dia harus mempertimbangkan perkataan Papanya
"Beri waktu Erik untuk berfikir ya Pa Ma" Erik menatap pak Chen dan buk Mellya secara bergantian.
"Baiklah Rik, Papa harap kamu mengabulkan permintaan terakhir Papa" Pak Chen menatap Erik dalam
Erik mengunyah makanan dengan pikiran galau.
"El, kamu bantu bujuk suami kamu ya sayang" Mama mengelus bahu El.
El mengangguk mendengar permintaan Mama
Malam ini El dan Erik memutuskan menginap dirumah Papa dan Mama Erik.
__ADS_1
Erik telah merebahkan diri di kasur dengan pikiran galau.
" Rik" El mendekat sambil membawa beberapa potong buah di dalam piring
"Ya El " Erik menatap El yang sudah merapat ke tubuhnya
"Rik, apa nggak sebaiknya kamu mempertimbangkan permintaan Papa" El menatap wajah Erik sambil mengunyah potongan apel.
Erik terdiam dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu mau?" El menyodorkan potongan buah ke mulut Erik, Erik spontan membuka mulut
"Rik, Papa udah semakin tua. Mungkin dia merasa memerlukan bantuanmu untuk menjalankan perusahaan.Lihatlah Papa begitu berharap jangan kecewain Papa Rik" El mengingatkan.
"Iya El, nanti aku bakalan pikirin lagi" jawab Erik masih sama.
" Ya sudah kalau begitu", El meletakkan piring dan kembali lagi ke kasur.
El duduk disamping Erik sambil membaca majalah.
Sementara Erik meletakkan kepalanya di paha El, dia seperti anak kecil saja.
El menatap Erik dia pun membiarkan Erik disana.
Tidak lama Erik sudah tertidur di paha El.
"Kamu lagi galau ya Rik?" Bisik hati El sambil menatap Erik.
"Tok tok tok" suara pintu di ketuk pelan.
"Ya masuk" El menjawab sambil terus mengelus rambut Erik.
Pintu terbuka, rupanya buk Mellya membuka pintu sambil membawa HP El.
"El ini Hp kamu ketinggalan" Buk Mellya menyodorkan HP El.
"Terimakasih Ma" El tersenyum hangat
Buk Mellya tersenyum melihat tingkah Erik yang manja kepada El.
"Apa kamu sudah bicara pada Erik?"
"Sudah Ma" El tersenyum
__ADS_1
"Manjanya Erik sama kamu El" Mama tersenyum
"Eh iya Ma, mungkin dia lagi galau" El menatap wajah tampan suaminya yang sudah tertidur.
"El, apa kalian sudah?" Mama bertanya dengan hati sungkan kepada El
"Sudah apa Ma?" El tidak mengerti apa yang dimaksud Buk Mellya.
"Maksud Mama sudah berbulan madu" Mama menatap El. El seperti salah tingkah.
"Hm" El seperti berfikir hendak mengatakan apa
"Jujur saja sayang, nggak apa-apa" Buk Mellya meyakinkan El yang tampak ragu.
"Belum Ma" El menjawab pelan
"Sudah Mama duga, kenapa Erik nggak menyentuh kamu atau bagaimana?" Buk Mellya penasaran.
"Hm, maaf Ma. Sebenarnya El belum siap Ma. El takut, El nggak pernah disentuh lelaki selama ini Ma" El tertunduk malu. Buk Mellya tersenyum mendengar jawaban El.
Ternyata El adalah gadis yang polos
"Kenapa kamu harus takut sayang, nggak apa-apa kok. Lagipula sudah kewajiban seorang istri melayani suaminya" Buk Mellya tersenyum
"Iya Ma" El menjawab tertunduk. Apa yang dikatakan oleh Buk Mellya ada benarnya juga. Tapi dia juga tidak salah sepenuhnya mengingat Erik juga tidak pernah memintanya. Namun dia enggan menjelaskan semua itu pada Buk Mellya.
"Ya sudah kamu lanjut istirahat ya" Buk Mellya beranjak meninggalkan El.
El tampak termenung memikirkan perkataan Buk Mellya. Dia tidak tahu harus bagaimana diapun bingung karena tidak mengetahui bagaimana perasaan sesungguhnya kepada Erik.
El menatap Erik yang tertidur pulas dia mengelus rambut nya kembali.
"Hoam" rasa kantuk menghampiri El, tapi dia tidak tega membangunkan Erik. Akhirnya dia memutuskan tidur sambil duduk saja. Erik yang dari tadi sebenarnya sudah terbangun, hanya saja dia ingin mendengar pembicaraan El dan Mamanya. Ternyata El marasa takut dan cemas melayaninya. Erik tersenyum menatap El. Dia pun menidurkan El di tempat tidur.
Erik menatap wajah El lagi
"Ternyata dia begitu polos sampai ketakutan" Erik terkekeh melihat El.
Erik membelai rambut El dan menciumi keningnya.
"Nggak apa sayang, aku akan tunggu sampai kamu siap" Bisik hati Erik.
bersambung❤❤❤
__ADS_1