TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Bingung


__ADS_3

"Anak butuh cinta Tia... Cinta yang sama seperti ayah dan ibumu berikan hingga kamu rela mengorbankan kehidupan anakku" Rintihku dengan isak yang sudah mulai muncul.


"Cinta yang mampu membuatmu melakukan segalanya untuk mereka tanpa peduli dengan hati nuranimu" lanjutku yang hampir tak percaya bahwa Tia melakukan ini padaku.


"Keluar ... Keluaaaar...!!!!!"


Andi yang berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi wanita, segera bergegas masuk ke area kamar mandi. Tepat setelah Tia enyah.


****


Obrolan papa tempo hari, sepertinya motif Rizal bukan hanya padaku. Aku ingat betul ketika Toby bertanya.


" Jadi apakah semua ini karena Papa?"


Apakah aku hanya pengalih perhatian dari penyebab kekacauan yang melanda Toby dan keluarganya. Sedangkan sebab sebenarnya...


Uhf.... Aku memandang dua pria bertubuh tegap yang duduk di kursi depan mobilku.


"Tidak perlu sebanyak ini bukan?" Gumamku yang merasa privacyku sangat terganggu.


****'


Seperti perkiraan, kerumunan wartawan sudah memadati area depan kantor Papa.


"Aku sudah sampai" Aku mengirimkan pesan pendek itu pada Toby.


Apakah Toby yakin akan bergabung denganku menemui Papa? Dua kasus dari ayah dan ibunya masih bergulir panas di persidangan. Sejauh ini keterlibatannya belum ada jejak. Tapi dengan munculnya dia di gedung perusahaan ayahnya, maka para wartawan punya bahan untuk melibatkannya. Tunggu....


Aku.. Jadi terlibat juga bukan?


Apakah itu tujuan Papa?


Ups Kenapa aku buruk sangka.


"Tolong lewat aja terus..." pintaku ketika mobil kami sudah mulai dekat pada gerbang kantor papa.

__ADS_1


Aku mengambil foto kerumunan wartawan yang nampak bertebaran di sekitaran pntu utama.


"Kamu yakin?" aku mengirim sekali lagi text itu beserra photo yang baru saja aku tangkap.


Toby masih belum menjawab... Sejak tadi. Semua textku terkesan di abaikan.


"Apakah dia sedang ada pekerjaan?" aku mencoba mengingat ingat. Sepertinya tidak, Toby sendiri yang meminta turut serta.


"Kita kemana Nona? Tuan Reynald sudah menghubungi saya"


Aku melirik jam tanganku " minta waktu sepuluh menit lagi" aku perlu berfikir. Dan aku harap Toby segera memberiku titik terang.


Ddrrrrtt..


Ahirnya pesan dari Toby muncul. Sebuah foto dikirimkannya beserta titik lokasi.


"Bisakah kalian mengikuti ini?" Aku menunjukkan pada Andi.


Andi memgernyitkan dahinya sejenak, dan menunjukkan layar ponselku pada rekannya.


"Toby yanh meminta"


Keduanyapun ahirnya mengangguk dan segera mengubah arah.


*****


Tubuh Toby yang Tinggi telah berdiri tegak lengkap dengan hoody dan masker di wajahnya. Tanpa satu katapun, lengannya langsung menyambutku ketika aku mendekat.


Ada yang berbeda.... Jemari Toby tidak sekuat biasanya.


Kami memasuki gedung lewat pintu belakang, pintu ini sepertinya hanya untuk keluar masuk barang. Satu satunya jenis kendaraan yang parkir adalah truck dengan bak tertutup.


"Gedung ini tersambung dengan gedung Papa" jelas Toby yang mengerti kebingunganku."Papa belum menghubungimu?"


"Dia hanya mengkonfirmasi kedatanganku lewat Andi"

__ADS_1


Toby menatapku "Sungguh... Hanya itu?"


Aku mengangguk "Apakah kamu lebih menghawatirkan soal pertemuanku dari pada anakmu?" Tanyaku ketika kami di gerbang Lift "


" Dia pasti sehat, dan aku rasa dia sangat cerewet "Jawab Toby menebak seenaknya.


" Ting.... "


Kamipun segera memasuki area lift tanpa menunggu. Beberapa orang sepertinya sudah cukup mengenali Toby dengan cepat. Mereka menyapa ringan dengan melemparbswnyum dan menundukkan kepalanya.


" Kamu sering lewat sini?"


"Gedung ini aku beli dengan tujuan seperti ini"


Aah... I see...


Kamipun segera keluar dari lift dan melewati basements. Dan kemudian kembali memasuki lift lagi dan kini kami telah sampai di lantai tempat kantor Papa Toby bersemayam.


Edward yang melihat kami dari jauh segera membungkukkan badan menyambut aku dan Toby.


"Itu bukan budaya kita, aku rasa edward berlebihan"


"Ckckck..." Toby berdecak sejenak "Ayahku keturunan Jepang dan America, kamu tidak tahu itu?"


"Ah..." Aku memang juga tidak tahu apapun tentang keluarga Toby. Akupun memilih menutup mulutku rapat. Seiring jantungku yang lebih berdetak cepat.


"Janji hari ini hanya dengan Nona Sandra" Edward berusaha menfilter tamu Papa Toby, bahkan dari anaknya sendiri.


"Aku tidak masuk, Sandra juga tidak"


"its ok..." sahutku yang tidak ingin memicu konflik.


"Kamu tidak mengenal Papa" Potong Toby "Tidak ada pembicaraan sederhana ketika letaknya di Kantor"


Karena itu rumah kalian terkesan damai dan tenang. Karena semua masalah akan terjadi di sini.

__ADS_1


Apakah masalah Papa juga terjadi karena ambisi bodoh Rizal yang tidak jelas?


__ADS_2